Dia pasti berpapasan dengan Mama dan Mula yang baru saja berangkat mengantar martabak. Mobilnya berhenti di depan rumahku sekitar 30 detik setelah Mula melajukan motor pergi. Aku yang sudah sampai ruang tengah kembali berjalan ke luar untuk menemuinya.
"Aku udah izin ke Tante Muna sama Kak Mula, mau ajak kamu jalan."
"Jalan? Ke mana?" Ini masih pukul enam pagi dan hei, dinginnya minta ampun, bulan Desember ini.
"Ke Berawa. Pantai belakang Finns, belok kiri, jalan terus sampai di pantai belakang Del Mar. Ayo!"
"Balik jam berapa? Aku baru tidur dua jam nih, Nelman."
"Secepatnya."
Aku pikir karena dia seorang fotografer profesional berperalatan banyak, dia terbiasa dengan yang namanya "perencanaan". Tidak mungkin ada kespontanitasan dalam hidupnya, yang mana membawaku kepada salah tebak lagi.
Waktu keluar lagi dari rumah dengan jaket abu-abu Mula yang kusambar sembarangan di balik pintu kamar, aku baru menyadari kehadiran stiker yang ditempel Nelman di pintu mobilnya. Stiker itu berbentuk bulat dan berwarna gelap, berbunyi "KK" dengan keterangan di bawahnya: Kialo's Klik. Mau tak mau aku jadi memikirkan Krusty Krab. Cuma kurang kerang ungu dan logonya pun akan diserang Plankton berkali-kali. Tapi masa iya dia menyebut yang seperti itu logo?
Langit beradu warna di sepanjang Jalan Padonan. Sekelumit pink menabrak biru muda. Petak sawah yang kami lewati menjadi kanvas bagi langit yang berwarna semakin cerah. Perumahan mulai terbangun. Orang-orang berkumpul di sekitar toko atau gerobak jajanan pagi. Nelman mampir untuk membeli onde-onde, tahu goreng, dan pisang aroma, juga dua susu kedelai sebagai camilan kami nanti.
Sudah banyak kendaraan yang terparkir di pintu samping Finns. Beberapa orang asing memanggul papan selancar ke arah pantai. Kami berjalan di antara mereka, menuruni tangga terjal berselimut pasir, menyeberangi parit dangkal, lalu membelok ke kiri dan berjalan santai menyusuri tepian pantai. Jejak kaki anjing tercetak di pasir yang basah. Nelman berjalan di atas jempol kakinya, berusaha mengikuti langkah anjing itu, yang ternyata berjenis husky dan punya warna mata seterang salju. Kalungnya berbandul lempengan logam. Anjing itu melompat-lompat bermain dengan pemiliknya yang tersenyum pada kami sewaktu kami lewat.
"Kakakmu wisuda tanggal 15 nanti," katanya, setelah kami melalui gadis asing pemilik husky tadi.
"Iya. Dia udah minta bantuanmu untuk jadi fotografer di acara wisudanya?"
"Udah." Nelman berpegangan pada lenganku karena tanpa kusadari, aku melangkah terlalu cepat. "Tapi ada yang belum kamu kasih tahu ke aku, yaitu ternyata kakakmu sama kakakku ... bukan cuma sekadar teman."
"Itu bukan tanggung jawabku. Kalau aku tahu dari kakakku, seharusnya kamu juga tahu dari kakakmu, kan?"
Nelman mengobrak-abrik rambut. Mukanya sudah sekusut pasir basah. "Aku nggak bisa tidur mikirin anak-anak cowok mamaku, dua-duanya sekaligus, ternyata berengsek."
Karena itu artinya dia juga menghitung diri sendiri, aku malah tertawa di dalam mulut.
"Keduanya berbeda dalam banyak hal, tapi ternyata sama dalam satu hal: kurang tegas dalam urusan cewek."
"Turut prihatin ya, Nelman."
"Aku tahu ini pertanyaan tolol, tapi tetap aja aku penasaran, kamu nggak merasa terganggu ya disebut yang jelek-jelek sama anak-anak di kampus?"
"Kamu pikir aku bukan manusia? Ya aku tersinggung, lah! Jangan tolol dong, Nelman." Kayak aku orang paling jenius saja. Tapi jujur saja, rasanya puas bisa mengata-ngatai dia seperti ini. "Aku cuma merasa apa yang mereka tuduhkan ke aku itu nggak mendasar. Selama ini kan di antara kita nggak pernah terjadi sesuatu yang ... romantis? Iya, kan? Jadi kenapa mereka sampai nyebut aku ngerebut kamu dari Diah? Belum aja mereka tahu sekalian kalau Diah sama kamu ternyata nggak pacaran."
"Tapi gimana kalau misalnya ternyata terjadi sesuatu yang romantis di antara kita?"
Aku menolehnya dengan mata sayu. "Jangan—"
"Jangan tolol dong, Nelman, iya, Abril, iyaaa. Tapi masa kamu nggak bisa membaca minat publik, sih? Mereka sebenarnya kepingin terjadi sesuatu yang sensasional di antara kita."
"Ih." Hidungku berkerut. Nelman nyengir.
"Inilah yang ngebuat aku selalu takjub sama kamu, asal kamu tahu. Kamu itu seolah-olah cuma sosok yang diceritain orang dari mulut ke mulut dan aku nggak percaya bisa terlibat sama kamu secara langsung. Mana ada orang yang nggak nangis di-bully satu kampus? Bukannya aku nggak sadar kamu merasa jenuh sama omongan-omongan mereka itu, tapi kamu terkesan seolah nggak tersentuh sedikit pun sama aura negatif di luar sana. Kamu selalu ngelakuin apa yang kamu mau lakuin dan nolak mentah-mentah peduli sama apa yang nggak menarik minatmu."