Diskusi ini melibatkan aku, Nelman, Kafka, Delio, Rosi yang akan pulang kampung terlambat karena mengikuti studi tur jurusan ke Singapura, Winner yang yakin tidak akan pulang kampung, dan Malik yang keluar sebentar dari masa tenangnya menyusun skripsi. Baru tiga orang yang hadir di taman jurusan Arsitektur, lokasi rapat yang ditentukan. Nelman dan Kafka belum datang. Winner dan Delio belum kembali dari gedung Student Center. Sambil menunggu mereka, aku melanjutkan desain banner kompetisi menulis naskah yang kuselenggarakan.
Pada minggu remidi UAS kemarin, waktu aku dan Winda masuk ke ruangan Prof. Krisna untuk mengambil tugas-tugas Nirmana semester I dan II milik teman-teman sekelas kami, Prof. Krisna memintaku kembali lagi ke ruangannya setelah aku selesai membantu Winda membagikan semua portofolio itu.
Dia mempersilakanku duduk di hadapannya. "Abril, lama sekali tidak mengobrol santai denganmu."
Mengobrol santai denganku. Kayak kami ini teman SMP saja. Aku tersenyum sambil mengangguk pada Prof. Krisna. "Kabar Anda baik, Prof?"
"Lambung saya beberapa kali kumat, tapi hanya butuh penyesuaian dengan gaya hidup yang lebih sehat. Selebihnya, saya merasa bugar. Abril, saya lihat-lihat lagi, karya-karyamu semakin mantap. Kamu turut serta dalam kompetisi online perancangan pola yang diadakan ISI Denpasar, benar? Stanley bilang kamu berhasil menduduki posisi ketiga?"
Winner serius ketika mengatakan aku dan Nelman akan menjadi sorotan begitu usulan kompetisi peserta pameran seni diterima. Tidak hanya oleh mahasiswa, tetapi juga seluruh civitas academica ISTB. Hanya saja, bentuk perhatian yang Prof. Krisna berikan padaku sama sekali tidak terasa seperti sorotan yang menuduh. Seandainya Ayah mengikuti perkembangan semua gosip di kampus, dia akan memberiku masukan-masukan untuk membabat habis seluruh sainganku. Prof. Krisna terasa seperti itu, dengan cara yang lebih akademis.
"Benar, Prof. Saya masih mencari-cari posisi desain saya di tengah masyarakat. Siapa dan di mana yang kiranya akan menerima style desain saya. Apa yang perlu diperbaiki, sampai di taraf mana desain itu dinanti-nanti, bagian mana yang mereka sukai. Kompetisi adalah alat ukur terbaik yang bisa saya gunakan untuk menemukan apa yang saya cari."
Prof. Krisna mengangguk-angguk. Bahkan anggukannya pun terlihat bergelimang ilmu. "Saya juga masih mengikuti seri komikmu di akun Instagram moonofabe. Akun itu punya banyak penggemar. Seri-serimu yang selanjutnya selalu dinanti-nanti. Banyak dari mereka yang merasa terbantu dengan tips berpakaian murah dan sederhana yang diperagakan tokoh-tokohmu. Beberapa hari ini saya bertanya-tanya soal itu. Lantas kenapa tidak kamu ajukan saja komikmu itu kepada penerbit mayor? Kamu sudah punya calon pembeli di pasar."
Penerbit mayor, hm. "Adakah yang mau membelinya, Prof? Beberapa komik karya anak bangsa, seperti Tahilalats, misalnya, punya naskah panjang untuk diunggah di webcomic, tetapi bentuknya akan jadi lebih ringkas kalau diunggah di Instagram. Saya ... belum bisa mengembangkan naskah panjang, Prof. Saya belum mampu mengarang suatu cerita utuh. Itulah sebabnya kemarin saya mengatasi ketidakmampuan ini dengan seri komik empat panel, yang butuh narasi pendek dan sederhana."
Aku merasa seperti sedang bicara dengan Euclid, atau John Nash, atau ilmuwan-ilmuwan besar lain yang pasti mengangguk-angguk kalau sedang mendengarkan pendapat dari rekan kerja atau muridnya.
"Sekarang sudah Januari, Abril. Tersisa delapan bulan persiapan. Pasti akan berlalu sekedipan mata saja. Apa yang rencananya akan kamu pajang di gerai pameranmu?"
Seharusnya aku tahu. Aku tidak boleh terkecoh dengan istilah "obrolan santai" ala Prof. Krisna. Di waktu santai saja dia membaca esai arsitektur sepanjang 3000 kata. "Komik, Prof, yang sudah pasti. Saya pernah terpikir untuk menyewa TV LED yang bisa menampilkan koleksi seri komik Moon of Abe. Selama beberapa hari belakangan, saya juga berkolaborasi dengan kakak saya untuk menciptakan tokoh-tokoh fantasi. Kami mencetak dan menjualnya sebagai action figure dan gantungan kunci. Saya juga akan memajang itu di gerai. Tapi sejauh ini, baru itu gambaran kasarnya."
"Kolaborasimu dengan Mula Tassia itu?"
"Oh," kataku, "Prof tahu Mula Tassia."
"Kalau kamu mau lebih jeli lagi, saya mengikuti kakakmu di Candleart Dinner."
"Oh," kataku lagi. Wow.
"Bentuk kolaborasi kalian itu tantangan do this in your style, kalau tidak salah? Berarti kamu sudah pernah mengadakan event di dunia maya. Kenapa tidak melakukannya lagi untuk mendapatkan naskah yang kamu butuhkan?"
Aku berkedip-kedip menatapnya.
"Cari tiga atau lima pemenang yang akan kamu ajak berkolaborasi. Kalau tidak salah, kurasi di penerbit mayor memakan waktu yang lumayan lama. Seandainya itu membuatmu khawatir, cari tahu cara untuk menerbitkan komikmu secara mandiri. Untuk itu kamu akan membutuhkan biaya yang lumayan banyak, maka sebaiknya kamu menemukan sponsor."
Sponsor sudah ada. Mula Tassia, Fajar, dan ... hm, kalau aku bisa membuatkan logo baru untuk Nelman, aku mungkin bisa menodong Laveland Laundry untuk menjadi sponsorku juga. Atau malah Kialo's Klik sendiri.
Desain logo Nelman yang baru sudah ada di laptopku. Nanti malam sepulang dari diskusi ini, aku akan mempresentasikan usulan logo kepadanya.
Anak-anak Arsitektur hobi menanam pohon. Jurusan mereka asri dan kaya nyamuk. Tidak banyak orang yang kelihatannya peduli untuk mengurusi orang lain. Percis seperti Malik, mereka terpaku pada layar laptop masing-masing, sisanya pada buku materi, buku catatan, tugas gambar, ataupun maket. Petra tidak akan mampu bertahan hidup di sini. Kalau tidak dapat asupan gosip barang dua menit pun, dia bakal langsung kejang-kejang.
"Pacarmu dan temannya datang tuh." Rosi menyenggol sikuku di atas meja bata kayu berbentuk melingkar.
Menurut Winner, kehadiran Kafka, Delio, dan Rosi sangat penting untuk dilibatkan sebagai penetral atmosfer. Kalau-kalau Nelman nanti lepas kendali, Kafka akan mengurusnya. Mungkin aku yang akan tantrum, Rosi kebagian tugas untuk mengurusku. Dan Malik jadi bagian Delio. Firasat Winner mengatakan keadaan Nelman dan Malik masih belum berubah walau sudah lama sejak terakhir kali dia mengajak keduanya berdiskusi mengenai pameran seni.