I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #37

FEBRUARI 2024 #1

Malam ketika aku menunjukkan proposal logo Kialo's Klik pada Nelman, dia menahan tangis haru karena cinta mati pada hasil rancanganku. Kamera berwarna baja gelap yang bertransfigurasi menjadi tas selempang.

"Kamu nggak akan bisa nolak itu," kataku sambil menggeleng-geleng prihatin.

"Abril ...." Bibirnya melengkung ke bawah.

"Aku tahu," kataku lagi sambil menepuk-nepuk punggungnya. "Aku tahu, Nelman. Ambil ini. Sama ini sekalian." Kesempatan ini sudah lama kunanti-nanti. File proposal dalam ransel kuserahkan pada Nelman. Harga yang harus dia bayar. Sayang sekali dia tidak bisa menolaknya kalau mau memiliki logo itu.

"Tadinya mau aku ajuin juga ke Kialo's Klik, tapi bakal aneh jadinya kalau seorang rival malah jadi sponsor buat kompetisi yang aku adain."

"Kriminal."

Padahal lebih terasa nyambung kalau studio foto yang menjadi sponsor kompetisi menulis naskah daripada penatu. Kecuali para seniman mau mencucikan kotak pensil mereka di situ.

Tahun ini pelantikan anggota baru dilaksanakan di tepi Danau Batur. Seperti tahun lalu, kami berangkat naik bus. Aku duduk dengan Winner lagi. Nelman duduk dengan Kafka yang memutuskan untuk bergabung dengan kabinet 2024. Winner tertidur sepanjang jalan. Aku tahu apa saja yang dia kerjakan. Perannya dalam pemerintahan mahasiswa sudah setara dengan kepala penasihat ketua BEM KM walau dia menjabat kembali sebagai ketua Departemen Ekraf tahun ini. Selalu saja dia yang dimintai pendapat kalau ada masukan berat yang layak dipertimbangkan dalam kongres. Aku masih bisa membaui kekuasaan Malik, tapi tidak setajam dulu. Sebab, Winner bisa bekerja seefektif dia. Hampir sama percis.

Masuk sebuah notifikasi dari Instagram di pagiku yang tenang ini.

Sumpah, Bril? Jadi bener kata mereka kamu jadian sama Nelman? Bukannya kamu bahkan nggak sudi muji dia ganteng?

Otakku langsung meleleh jadi bubur saraf.

Kapan aku pernah bilang aku tidak sudi memuji Nelman ganteng? Kapan aku mengumumkan pada dunia aku adalah kekasih Nelman? Dan kapan aku pernah bersumpah pada Anya? Komunikasi terakhir kami saja sudah lama sekali—waktu aku membalas komentarnya mengenai GT Nelman yang aku bantu kerjakan.

Waktu dia bilang kalau seluruh gengsi dikuliti dari tubuhmu, pasti yang tersisa adalah pujianmu bahwa Nelman itu ganteng banget, aku ingat sekali aku cuma meresponsnya dengan mengangkat kedua alis. Lalu aku mengabaikan dia. Lantas, dari mana dia mengambil kesimpulan itu?

Aku mengepalkan tangan, lalu membuka ruang percakapan kami dan berniat menumpahkan semua pertanyaan itu ke dalam pesan, tetapi aku menghapusnya lagi dan lagi sampai aku lelah sendiri. Aku pun menghantamkan punggung ke sandaran kursi yang berwarna ungu dan menoleh ke jendela kaca bus melalui Winner.

"Hei."

Ups. Kusentuh dengan lembut bahu besar Winner. Dia mengusap wajah. Bulu mata pendeknya berbenturan berulang kali ketika dia berkedip-kedip karena pagi seolah menyerangnya lewat sela-sela kerai jendela ungu yang terbuka tanggung. "Maaf, Winner, kamu jadi kebangun."

"Nggak apa-apa. Ini udah sampai mana?"

"Sibang kalau nggak salah."

"Masih jauh?"

"Kira-kira sisa satu setengah jam perjalanan. Bisa kok dipakai tidur lagi."

Winner bersandar kembali. Matanya terpejam. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan tajam. "Minta risolesmu, boleh?"

"Ini." Aku merogoh ke dalam ransel di antara kaki kami dan mengeluarkan kotak bekalku. Nelman juga kubawakan risoles untuk dia kudap bersama Kafka.

"Kopi kita di mana?"

Inilah jadinya kalau aku berkomitmen merawat bayi jenius. "Di tasmu, bagian samping, tempat botol minum."

Winner membungkuk ke arah ranselnya. Tatapannya kemudian terpaku ke pahaku. Dia memosisikan kepala untuk mengamati layar ponsel di pahaku dengan lebih cermat. "Anya Firdausa?" dendangnya. "Aku kayaknya pernah dengar."

"Dia teman SD-ku sama Nelman yang pernah komentar soal GT Nelman dulu. Komentarnya masih ada di postingan akun utamaku, kalau kamu mau lihat."

"Aaah, ya, aku ingat. Maaf ya, aku nggak sengaja baca pesannya, itu kan privasimu. Tapi masalahnya mataku cepat sekali tertaut ke bacaan."

"Aku bisa bayangin 20 tahun lagi kamu duduk-duduk di kursi goyang sambil baca esai arsitektur 3 ribu kata."

Lihat selengkapnya