I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #39

APRIL 2024 #1

Terhitung sudah hampir lima bulan Ayah bekerja di garmen daerah Suwung. Rumah kami kembali diisi oleh gulungan-gulungan kain berbagai warna, pola pakaian, meteran, dan Mula juga bahkan sudah membersihkan satu petak khusus di dekat jendela ruang tengah yang nantinya akan digunakan untuk meletakkan mesin jahit apabila uang tabungan kami sudah cukup untuk membelinya. Di dinding terpaku stoples plastik bertuliskan MESIN JAHIT. Fajar dan Nelman iseng-iseng sering memasukkan uang ke sana.

Makin gencarlah semangatku dan Ayah. Tapi ternyata bukan mesin jahit yang lebih dulu diantar hari ini, saat sebuah truk berhenti di depan rumah kami dan membuka tutup belakang bak. Ayah menyusul truk itu kemudian, menepikan motor di dekat pekarangan tetangga. Aku dan Mula mendongak ke arah truk sambil berkejaran mengucap homina.

Gerobak yang datang itu mirip seperti yang selalu kubayangkan pada malam-malam di indekos saat aku sulit jatuh tidur. Aku akan menabung, mendatangi tukang kayu yang merupakan spesialis di bidang perakitan gerobak, mendiskusikan sampai matang setiap lembar desainku padanya supaya tidak akan ada secuil pun kesalahan yang kami temukan di akhir nanti, menunggu dengan jantung berdebar, dan akhirnya gerobak itu pun selesai, aku lantas mempersembahkannya pada Mama.

Urutannya sudah mirip seperti itu, tetapi pelaksananya bukan aku. Meski begitu, rasanya sama sekali tidak berbeda saat melihat mata Mama berkaca-kaca begitu berdiri di teras dan menyaksikan pemindahan gerobak dari bak truk ke garasi. Ini adalah perasaan yang akan melekat walau waktu sudah lama berselang. Tahun-tahun berganti, tetapi memanggil kembali kenangan ini tak pernah berhenti menggetarkan hati.

"Ooouuuh." Mula memelukku dari samping sambil mengerucutkan bibir, berusaha menjangkau pipiku. Aku melebarkan jemari dan mendorong wajahnya mundur. "Peluk dan cium Ayah dong, Ma," pinta Mula. "Kayak gini."

Tawa meluncur keluar dari mulut Mama. Seandainya suara punya wujud, lintasannya pasti mirip air mancur yang keluar dari mulut sang Merlion.

Bersamaan dengan gerobak itu, lima pasang meja kayu dan empat kursi untuk masing-masing meja juga diangkut turun. Aku dan Mula membantu mengangkat tiga pasang ke taman dan dua sisanya ditata di garasi, berhadapan dengan gerobak martabak.

"Masih bisa nerima dua set meja lagi, Yah, di taman," kata Mula setelah membentuk jemarinya menyerupai kamera dan menyoroti taman. "Dan dua lagi di garasi." Lalu wajahnya menyosor telingaku. "Fix Nelman nggak bakalan pulang-pulang."

Aku kembali mendorong wajahnya. Nelman menyukai martabak buatan Mama. Dia bisa membeli sepuluh di pagi hari untuk dibawa pulang.

Sampai sekarang aku masih sering bertanya-tanya apa yang ada di kepala Mula kalau Nelman main ke rumah. Kira-kira dua bulan lagi Ludwig akan pulang. Bagaimana perasaannya sekarang kepada Ludwig? Apakah dia benar-benar tidak pernah merasa iri, sakit hati, atau sekadar jengkel karena sering sekali melihat adiknya Ludwig di rumah kami?

Mula yang sekarang sudah berubah banyak. Dia diterima sebagai seorang penganalisis data paruh waktu di penerbit mayor baru yang berlokasi di Denpasar. Tidak cukup dengan kesibukannya itu, dia menambah lagi kerjaan sebagai pengakuisisi data di pabrik kosmetik. Aku sempat berpikir dia tidak akan mencari pekerjaan tetap—penghasilannya dari melukis saja bisa mencapai ribuan dolar sebulan dalam masa produktif—tapi dia tetap ingin mengimplementasikan ilmu yang didapatnya semasa bersekolah.

Tetap saja. Aku punya firasat dia mengambil sebanyak-banyaknya pekerjaan untuk mengalihkan pikirannya dari sesuatu. Ludwig, misalnya. Sejauh yang kuamati, dia tidak kewalahan mengatur jadwal. Semuanya terjadi sesuai porsi kemampuannya sehingga aku merasa tidak harus turun tangan membantu. Malahan, dialah yang banyak membantuku. Memilih palet warna untuk komikku, memvisualisasikan fitur-fitur tubuh dan wajah karakterku berdasarkan deskripsi yang dituliskan para pemenang kompetisi menulis naskah, menentukan susunan panel, dan mengomentari beberapa thumbnail yang kubuat.

Bulan depan, satu komikku akan terbit. Aku siap melanjutkan komik kedua dalam rentang waktu sebulan. Prediksiku mengatakan, tiga komik yang menggunakan naskah hasil kompetisi akan sudah selesai pada pertengahan Juni.

Portofolioku terus bertambah. Aku tersenyum pada layar laptop yang memuat halaman-halaman presentasi di Adobe InDesign. Sederet karyaku terkelompok berdasarkan jenisnya. Novel grafis hasil kolaborasi dengan penulis luar, komik pendek, ilustrasi karakter, sampul novel, desain pakaian, pola grafis, logo, desain feed Instagram. Gerai pameranku tidak akan tampak lengang karena banyak produk yang mengisinya nanti.

Minggu akhir April telah tiba. Tenggat yang kujanjikan pada sepupuku berakhir besok. Aku sudah mencetak satu sebagai contoh agar aku yakin terhadap jenis kertas yang akan digunakan Gema nantinya. Undangan itu terbungkus amplop hijau tua yang warnanya menyerupai daun salam kering. Kertasnya berjenis samson kraft, yang bertekstur seperti pasir. Inisial GM untuk Gema dan Mirah tercetak di atas segel amplop, berupa cap lilin cair yang memadat dan berbentuk nyaris bulat. Aku mengiris bagian bawah segel itu dengan pisau lipat. Kertas berwarna percis sama menyembul keluar dari dalam. Aku menariknya. Tanaman rambat menyudut di bagian atas dan bawah tulisan, dicetak menggunakan teknik ukir.

Dariel Saigema Ambara & Mirah Lusiana Waru

Aku menutup nama sepupuku dan calon istrinya dengan satu telunjuk lalu memejamkan mata. Kertas yang sama, desain yang sama, nama yang berbeda.

Lihat selengkapnya