Dia kelu. Sepanjang perjalanan, yang dilakukannya hanyalah mengatur ulang pernapasan. Seolah dia sedang berusaha menciptakan sistem respirasi baru lewat perintah otaknya. Dalam diam, tatapan matanya liar. Memelotot pada kaca lanskap pikap dan sesekali melirik ke jendela di sebelahnya, tapi tak pernah aku. Walaupun dia tidak memberitahuku apa masalahnya, ketegangan itu terpancar seperti cahaya matahari, menyentuh kulitku dan menyebarkan kekakuan yang sama pada tubuhku.
"Ada mayat di studiomu ya, Nelman?"
"Mayat?" Akhirnya dia menoleh ke arah kursi penumpang. Agak terlonjak sedikit dan tampak bingung setengah mati.
"Terus apa dong? Kamu kayak lagi gelisah banget." Kan mustahil Nelman yang cerewetnya setengah mati jadi diam begini tanpa sebab?
Dia tertawa, meski masih terdengar ragu dan hilang arah. "Terus menurutmu aku mau minta pendapatmu tentang pose mayat di studio buat sampul majalahku, gitu?"
"Amit-amit," jawabku. Dia lagi-lagi tertawa. "Santai sedikit makanya, jangan tegang-tegang gitu."
Setelah membabat kemacetan di Jalan Gunung Agung, pikap Kialo's Klik akhirnya terparkir di depan gedung studio. Kami mengangkat rolling door lalu menyalakan lampu ruang depan. Empat sofa hitam saling berhadapan di depan meja bar yang terletak di sebelah meja administrasi. Nelman bilang sedang mencari seorang barista dan seorang admin untuk ditempatkan di lantai satu. Di mana pun ada bar yang merupakan miliknya, Nelman akan memenuhi seluruh raknya dengan camilan. Beruntunglah staf yang diterima kerja di sini.
Nelman sampai lebih dulu di puncak tangga. Dengan cekatan dia berbalik menghadapku yang berada tiga anak tangga di bawahnya. Dia menghela napas dalam-dalam dengan mata terpejam. Aku jadi semakin penasaran. Kenapa hari ini temanya tegang banget, sih?
Lampu di lantai dua studio tidak dinyalakan. Penerangan sayup-sayup hanya berasal dari lampu di bordes tangga sehingga bagian atas tubuh Nelman tampak seolah dilahap kegelapan. "Aku ngerjain project ini sejak hari syuting profil kabinet 2023. Idenya aku dapetin pas hari itu," katanya.
Aku menjulurkan leher sedikit ke balik tubuhnya, tapi tetap saja tidak mampu mengintip apa yang berada di balik kegelapan.
"Habis ini ... semuanya bakal kuserahin ke kamu. Gimanapun pendapat, reaksi, dan keputusanmu, bakalan kuterima dengan baik. Dan memang nggak ada yang bisa kulakuin lagi selain itu."
"Kok jadi terserah aku?"
Dia menjawabku dengan membalikkan badan dan berjalan menuju kegelapan. Bayang-bayang tubuhnya menyatu dengan ruangan. "Paling nggak, kamu harus berdiri di tepian tangga biar bisa lihat."
Aku naik tiga langkah dan setelah mataku bisa beradaptasi dengan lantai dua yang kelihatan seperti beledu hitam terawang, aku dapat melihatnya berdiri di sebelah meja.
"Abril?"
"Di tepian tangga."
"Jalan pelan-pelan ke sini."
Baru dua langkah, lampu suatu bagian dalam ruangan ini menyala. Tidak seperti rentetan kembang api, tapi lebih seperti lampu sorot tunggal yang besar.
Pertama kali mendaki tangga lipat, aku sedang menggenggam kuas cat. Cat pink menetes di atas keramik perca yang menjadi alas di dapur kami dulu. Ayah mengajak kami untuk mengecat ulang dinding hijau. Dia telah melapisinya dengan cat putih semalam, waktu kami tidur. Aku mengenakan terusan berbahan kaku, kanvas seingatku, dan warnanya seperti karton. Perpaduan warna pink, karton, dan kulit tanganku yang dulu sangat gelap membuat memori ini bergelenyar seperti kilau cahaya di atas laut. Mungkin karena itulah aku mengingatnya. Mula bilang sudah tidak sabar menunggu giliran. Dia ingin naik tangga dan mengecat juga. Kenapa cuma dia yang harus mengantri? Kenapa Abe selalu mendapatkan semua hal pertama kali? Abe kan anak kedua. Lalu Mula mulai memanjat. Aku masih ingat guncangan yang disebabkan pijak kakinya. Kali pertamanya aku melihat Mula berapi-api seperti itu, padahal dia biasanya memberontak dalam sikap kalem. Seharusnya aku tidak menyentuh lantai hari itu karena tangganya saja tidak ikut jatuh bersamaku, tapi sepertinya aku berjinjit di atas papan tangga sehingga ketika guncangan terkuat mencapai puncak, aku limbung, kakiku terkilir, dan punggungku pun menghantam lantai.