I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #41

MEI 2024 #2

"Kenapa, Nelman?" ucapku setelah melewatkan detik demi detik memandanginya.

"Kenapa kamu nggak kasih tahu Bu Darmani hari itu kamu ada di kelas dan kamu sendiri denger alasan yang dikarang Indah buat bujuk aku menandatangani kertas kosong itu?"

"Dulu ...," dia menjawab, pandangannya lolos melalui puncak kepalaku, lurus ke arah dinding foto, "kamu dateng ke mejaku. Kamu adalah cewek pertama yang ngajak aku kenalan. Tapi bahkan sekarang, waktu kuingat-ingat lagi, kamu yang dulu dalam kepalaku nggak pernah berubah. Abril kecil dan Abril dewasa cuma beda tinggi badan. Kamu percaya diri, cuek, kelihatan galak, dan terlalu berani. Aku seharusnya bisa jabat tanganmu dulu itu, kalau aja aku nggak merasa takut kamu tiba-tiba jotos wajahku cuma untuk dijadiin lelucon.

"Akhirnya lambat laun aku sadar bencana yang udah kumulai dengan nggak nerima ajakanmu untuk berkenalan. Kamu tanpa sadar menghimpun suatu kelompok yang anggotanya adalah anak-anak kuat dan nakal dan menjadi pemimpin mereka. Galang, Dimas, Jerome, Alya, Anya, Nanik, Mirza, Kalam, Tirta, Sony. Ya Tuhanku. Udah nasibku buruk karena cuma berteman sama Ulfa dan Haikal yang luar biasa cupu, guru-guru malah tambah bikin posisiku tersudut di matamu. Mereka nggak pernah berhenti banding-bandingin aku sama kamu, padahal setiap kali menjawab soal dari mereka, aku nggak pernah kepingin disangkutpautin sama kamu. Semuanya murni aku lakuin untuk nambah nilai.

"Aku cuma menginginkan satu hal aja waktu SD, Abril. Agar aku tersembunyi dan terbebas dari tatapan mengintaimu. Apa pun yang terjadi, aku cuma ingin terhindar dari segala bentuk hubungan sama kamu. Sampai hari itu terjadi. Waktu aku menggeleng demi nyelamatin diri sendiri terus lari secepat yang aku bisa ke kelas karena bayangin kamu lagi siap-siap ninju aku. Sejak hari itu, kamu mulai dijauhi sama teman-temanmu. Aku pernah denger mereka ngomongin kamu. Kata mereka kamu munafik. Kamu pernah bilang sama mereka kamu paling malas mengurusi soal cinta karena anak seumuran kita belum paham sepenuhnya soal itu. Itu soal yang terlalu sulit, kamu denger itu dari kakakmu. Tapi ternyata kamu sendiri yang nulis surat cinta untuk Dwi Fernanda. Mereka kecewa. Dan semua itu terjadi karena aku nggak pernah berusaha mengoreksi tuduhan Bu Darmani ke kamu."

"Aku akhirnya aku udah sangat keterlaluan. Bukannya melindungi diriku dari kamu, aku malah menjadikan diri sendiri sebagai sasaran empukmu. Sejak itu aku tahu kamu setengah mati kepingin habisin aku. Tapi jauh melebihi semua itu, aku tahu kamu berjuang ngalahin aku demi membuktikan bahwa pernyataan Bu Darmani salah. Aku bukan murid terbaik karena akan ada hari ketika kamu akhirnya bisa ngalahin aku.

"Aku bersalah sama kamu, Abril, luar biasa salah, tapi aku bukan anak yang pinter berkata-kata. Aku pidato untuk ujian praktik Bahasa Indonesia sesuai teks yang udah kutulis dibantu Mama dan Papa, baca puisi sesuai teks yang kususun dengan bantuan Ludwig, presentasi materi Matematika sesuai teks di PowerPoint. Aku punya banyak kosa kata karena suka baca, tapi nggak pandai menggunakannya secara lisan. Aku butuh waktu panjang untuk memikirkan baik-baik apa yang harus kuomongin. Itulah sebabnya aku dulu jadi anak yang pendiam. Aku nulis ribuan variasi kata maaf dalam kertas tiap malam, tapi semuanya berakhir jadi sampah karena kuremukin dan kulempar ke dinding kamar. Aku nggak pernah berani bayangin jalan ke arahmu dan mohon maaf ke kamu tanpa kena tinju atau diludahi.

"Aku takut sama kamu, Abril, tapi anehnya, lebih takut lagi kamu membenciku. Semuanya terjadi secara bertentangan dalam kepalaku kalau menyangkut kamu. Aku lihat kemarahanmu waktu pesta kelulusan, waktu aku nerima piagam penghargaan juara angkatan di panggung dan kamu berdiri di barisan terbelakang kursi tamu undangan. Kemarahan itu kamu bawa pergi bahkan setelah lulus.

"Aku nggak pernah mengalami satu malam pun tanpa mikirin kemarahanmu itu. Aku pikir kita bakalan daftar di SMP yang sama, tapi ternyata kamu masuk ke Cakra Surya—nggak pernah sekali pun aku berpikir kamu bakal masuk sekolah swasta karena kupikir keluargamu fanatik sama sekolah negeri kayak keluarga temen-temen kita. Jadi, hilanglah kesempatanku untuk minta maaf sama kamu waktu SMP. Aku nunggu sampai lulus sambil melatih diri. Aku ngarang kata-kata yang menurutku tepat untuk diucapin ke kamu, untuk jelasin semuanya. Tapi ... waktu kupikir kamu bakalan melanjutkan ke SMK Cakra Surya sampai aku pun daftar masuk ke sana, kamu malah masuk SMAN 1 Kuta.

"Lagi dan lagi aku nyaris keliru. Kupikir kamu bakal masuk Udayana tahun 2021, aku pun daftar di Sistem Informasi dan Informatikanya. Tapi aku lalu denger dari Anya bahwa kamu mau ambil jeda akademik setahun. Aku bersyukur setengah mati karena jadi punya waktu untuk mempelajari materi-materi seleksi masuk PTN. Seandainya aku memaksakan diri untuk ikut tes masuk tahun itu juga, aku yakin pasti gagal. Udah lama sekali sejak aku megang Fisika sama Kimia.

"Tahun 2022, aku dengan percaya diri daftar di Udayana dan sialannya ... aku lulus seleksi di pilihan pertama tepat setelah aku tahu dari Anya bahwa kamu daftar kuliah di ISTB. Aku diterima Udayana, padahal kamu bakal kuliah di ISTB. Bisa kamu bayangin sesetres apa aku waktu itu?"

Melihat Nelman menggaruk tengkuknya dengan gusar, aku tidak bisa menahan tawa. Tanpa sengaja, aku pun menelan air mataku sendiri. Ini jadi pelajaran berharga untukku agar tidak lagi menangis sambil tertawa karena air mata rasanya lebih parah dari ikan asin.

"Itulah kenapa aku lupain Sistem Informasi Udayana dan ikut ujian mandiri Fotografi ISTB. Dan syukurlah, aku diterima. Aku udah bisa nebak sikap yang akan kamu tunjukin ke aku waktu kita ketemu lagi. Tepat kayak yang selama ini selalu kubayangin. Kamu jengkel sama aku, berjarak, dan tetap nunjukin hasrat persaingan. Tapi nggak apa-apa, aku selalu bilang ke diriku sendiri.

"Meskipun tujuh tahun udah berlalu sejak hari itu, aku belum juga nemuin cara terbaik untuk minta maaf sama kamu. Karena semakin aku kenal kamu, semakin aku kagum. Dan seiring meningkatnya kekagumanku, meningkat juga keinginanku untuk minta maaf ke kamu dengan cara yang istimewa. Cara yang nggak akan atau belum pernah dipikirkan sama orang lain atau sama cowok mana pun yang kagum sama kamu juga. Aku tahu ada banyak sekali sainganku di kampus. Mereka yang selalu ngomongin kamu, yang rela nuker apa pun demi bisa jadian sama kamu. Tapi aku tahu aku punya satu kelebihan dari mereka. Kelebihan yang nggak akan pernah bisa mereka miliki."

"Apa?" tanyaku.

"Dibenci kamu." Dia menjawab.

"Gimana bisa itu jadi kelebihan?"

Lihat selengkapnya