Teman-teman kami menyadarinya. Tapi tidak ada yang berkomentar selain Rosi karena memang itulah tugas dalam hidupnya.
"Oh, jadi dia puas sampai kamu terselamatkan dari pengamatan tajamnya ya?" tanyanya waktu Nelman menyerahkan baki ramenku di meja kantin sambil tersenyum padaku. Kurasa Nelman tidak memberi tahu mereka bahwa dia telah menunjukkan padaku konsep pamerannya, tetapi entah bagaimana mereka tahu.
Juni yang sejuk dan berangin terasa begitu normal, seolah-olah memang beginilah hidup terjadi seharusnya. Kau bangun pagi, merebut kopi kakakmu yang bergadang semalaman untuk menyelesaikan presentasi komplain kerusakan halaman pada cetakan buku penerbit tempatnya bekerja. Kau berangkat ke kampus dicium mamamu dan melayangkan tos dengan ayahmu. Jalanan pagi macet, sebagaimana layaknya Jalan Imam Bonjol, mendengar klakson dan derum kendaraan yang mengebut karena mengejar kepentingan hari ini. Di kampus, semua teman tersenyum padamu dan orang-orang yang menganggapmu musuh merasa lebih baik untuk mengabaikanmu daripada cari gara-gara lagi denganmu. Dosen favoritmu menunjukkan komik-komik karyamu pada adik tingkat sehingga membuat angka penjualan komikmu terus meningkat. Laki-laki yang telah menjadi musuh seumur hidupmu minta maaf dan kalian berbaikan.
Bulan yang baik. Seandainya tanggalnya berjumlah 365 dan bukannya cuma 30.
Aku hampir percaya bahwa kenormalan ini tidak mustahil akan berlangsung selamanya.
Sampai suatu masa ketika aku sadar bahwa bayi pun harus keluar dari tempat teraman baginya di dunia pada waktu yang telah ditentukan. Begitulah masalah baru lahir untuk memporakporandakan hidupku. Dia embrio yang meringkuk dalam akumulasi jam sampai sepenuhnya menjadi janin. Jantungnya berdenyut. Dia hidup dan memegang lencana tugas-tugas yang akan dilakukan begitu dia menyentuh dunia.
Kemudian, sebagai ganti kelahirannya, dia menuntut kematianku. Kalaupun bukan fisik, setidaknya karakterku.
Mendekati masa ujian, kampus dipenuhi macam-macam kesibukan. Mahasiswa berlalu-lalang menuju perpustakaan, lebih lama memakai komputer di sana, meminjam buku-buku dalam batas maksimum per individu, mendatangi kantor dosen untuk meminta penjelasan tambahan atau masukan untuk karyanya, berdiskusi di taman jurusan.
Seandainya masalah itu tidak melanglangbuana di jagat media sosial, hari ini pun akan berlangsung sibuk. Cukup sibuk untuk mengurusi kepentingan orang lain. Maka dari itu, aku agaknya terkejut mendapati mereka menatapku seperti seekor mangsa. Di mana-mana aku seolah merupakan sasaran empuk untuk mereka terkam. Tadi pagi, saat aku masuk kelas dengan Winner, semuanya masih terkendali. Lalu saat jeda pergantian kelas, gelombang kejengkelan mulai menerpa. Dan kejengkelan mereka lagi-lagi melibatkan aku.
"Ada apa lagi ini?" tanyaku pada Winner.
Winner melepaskan satu tali tas dan membawa tas itu ke dada untuk merogoh kantung depan tempat dia menyimpan ponsel. Aku mengambil satu kursi di bawah mading taman jurusan untuk menenangkan laju napas. Pantas saja dunia ini terasa terlalu nyaman untuk ditempati hari kemarin. Ternyata masalah sedang menyiapkan amunisi untuk bergerilya menyerang.
"Sial."
Aku terkejut mendengar Winner memaki. Dia duduk tanpa mengalihkan pandang dari ponsel. Lalu saat selesai membaca, dia memalingkan wajah ke kanan sambil menyerahkan ponselnya padaku.
Konsep gerai pameran yang Nelman simpan di studionya tampil di layar ponsel itu sebagai postingan dari suatu akun yang bernama diahoctavianrsaa_. Keningku mendesak alis. Aku mengambil ponsel Winner dan membungkuk, menumpukan kedua siku di atas lutut lalu mengusap layar ke kanan untuk melihat foto selanjutnya.
Studio ini pantas dihancurkan. Tempat yang katanya menjual jasa fotografer sudah berubah jadi altar pemujaan seorang gadis hipokrit.
Aku memejamkan mata erat-erat. Napasku berkejaran. Dalam kegelapan, aku melihat hutan rimba. Pohon-pohonnya tua dan gelap. Hanya ada selingkar cahaya yang berhasil menerobos dedaunan lebatnya. Dan aku membayangkan cahaya itu berasal dari lampu tabung yang berjajar di atas tulisan One True Model My Life Longing for. Pepohonan di hutan itu berganti dengan dinding cekung berisi foto-fotoku dan seluruh barang yang diletakkan di bagian dalam cekungan itu.
Semuanya hancur. Foto-foto itu dirobek. Display barang digulingkan. Neon boks dipecahkan. Lampu dihantam, sepertinya menggunakan bola basket yang tersemat di antara pecahan kaca lampu. Gantungan pakaian menyabet senar yang menggantungkan botol-botol cat dan menindih komik-komikku yang sudah tercerai berai.
Aku menggeletakkan ponsel Winner di pahanya dan mengangkat lutut ke atas kursi, bergelung di ruang sempit yang tercipta, lalu membiarkan tangisku tumpah.
Aku tidak ingin Nelman disakiti.
Bukan cuma koleksi foto dalam postingan itu yang membuat Rosi berapi-api. Keterangan yang tertera sudah cukup membuatnya menegur Diah Octavia di kolom komentar.