Klise.
Kata pertama yang mengerlip di kepalaku ketika mengingat rentetan kemarahan Diah Octavia. Seorang gadis yang cemburu menuduh gadis yang dicintai mantan kekasihnya sebagai gadis murahan, dan dia juga memfitnah mantan kekasihnya di depan gadis yang dicintainya itu dengan mengatakan bahwa mantan kekasihnya cuma mau meniduri gadis itu.
Klise sekali.
Cerita fiksi mana lagi yang belum pernah menjadikan plot seperti itu sebagai salah satu alternatifnya?
Aku memijat-mijat pelipis yang berdenyut kencang, seolah jantungku sendiri sudah pindah ke sana.
Nelman punya banyak kesempatan untuk melakukan itu. Dia bisa saja memaksaku. Tenaganya sekarang pasti sudah jauh lebih kuat dariku. Tapi, pernahkah Nelman melakukan itu?
Diah pasti sudah gila.
Tapi dia meniduri semua pacarnya. Kalimat yang sama telah menjadi pengantar tidurku. Mimpiku sebagian besar merupakan kasur besar yang kosong. Setumpuk pakaian digelar di lantai. Lampu dimatikan, jendela terbuka dan memperlihatkan bulan purnama. Aku melihat badan-badan telanjang dalam mimpi yang lain.
Sejak hari itu, aku belum bicara lagi dengan Nelman. Dia seolah lenyap membaur dengan angin musim kemarau. Seharusnya libur semester genap tidak menjadi penghalang kalau kami mau bertemu dan membicarakan semuanya baik-baik. Rumah kami dekatnya seperti lambung dan hati. Aku ingin sekali menghubungi Nelman lebih dulu, tapi suara-suara itu tak mau pergi.
Dia meniduri semua pacarnya.
Bayangkan kalau aku menemui Nelman dengan suara-suara itu menggema dalam kepalaku, apa yang akan terjadi? Lama-lama, aku sendiri bisa gila. Aku berani bersumpah pada diriku sendiri, Nelman bukan orang seperti itu. Setidaknya, tidak padaku.
Tapi, apa yang membuatmu berpikir kamu diperlakukan berbeda dari gadis-gadis lainnya?
Karena aku yakin tidak ada gadis yang pernah ditiduri Nelman. Sekalipun dia tidak pernah mengatakannya, aku bisa melihat dari kilau matanya yang lugu dan senyumnya yang murni. Ya ampun, aku kedengaran naif sekali. Tapi demi Tuhan, aku serius.
Sudah seminggu berlalu, tapi kabar mengenai Diah Octavia melabrak selingkuhan ganjen Nelman masih juga belum memudar. Pengguna media sosial masih sibuk membahasnya, berkali-kali menge-tag akunku dan akun Nelman, meminta kami untuk mengklarifikasi seandainya memang yang dikatakan Diah Octavia itu salah.
Alih-alih muncul dengan konten klarifikasi, Nelman menjawab semua gosip dengan kegencarannya memperkenalkan Kialo's Klik di internet. Sejak hari itu, iklan akun media sosial dan situs pribadi Nelman malang melintang. Dia menganggap serius tantangan Diah Octavia sampai-sampai aku yakin semua uang yang dikeluarkannya ini pasti dipinjamnya dulu dari sistem keuangan Laveland.
Nelman menggelar seminar fotografi, membangun suatu kelompok urban and landscape hunting, dan menerbitkan buku yang membahas mengenai persiapan-persiapan hunting sampai dengan posting foto di media sosial dan memperoleh uang karenanya.
Berkebalikan dengan kemajuan pesat yang dibuatnya, laju penjualan komikku menurun drastis. Akun media sosialku kembali dipenuhi komentar negatif. Bahkan di Candleart Dinner, profilku sepi pengunjung, seolah-olah masyarakat internasional mengetahui masalahku dan mendukung untuk menjatuhkanku.
Aku membenturkan kepala ke dinding di atas kasur dengan pelan lalu memandangi langit-langit kamar. Mula melapisinya dengan cat pink, biru tua, dan ungu bersama Fajar lalu memercikkan cat fosfor putih yang akan menyala ketika lampu padam. Akun moonofabe dilaporkan oleh beberapa pihak sehingga ditutup sementara sampai jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Aku pun mengunggah komik-komik itu ke webcomic dan melakukan promosi dibantu Mula, Fajar, Rosi, Winner, Samantha, dan Delio, tapi malah dilaporkan juga di sana.
Tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Satu-satunya yang membuatku tetap waras adalah rasa penasaran mengenai sanksi yang akan dikenakan dewan kepada Petra dan Rere setelah perkuliahan dimulai kembali pada semester ganjil nanti. Bayarannya mahal sekali. Mereka tahu apa yang akan terjadi kalau mereka memberi Diah Octavia jalan masuk ke kampus, tapi mereka nekat melakukannya hanya demi menghancurkanku.
Namun, sekeras apa pun aku atau Nelman menunda pertemuan di antara kami, waktunya tiba juga bagi kami untuk kembali berhadap-hadapan. Setelah libur dua minggu, panitia persiapan pameran seni akbar kembali aktif menggelar rapat. Saat aku mengikat tali sepatu di depan pintu rumah, ponselku yang tergeletak di lantai samping tubuh berdering. Nama Winner berkedip-kedip tanpa henti. Aku pun mengangkatnya.
"Nggak apa-apa kalau kamu mau izin nggak hadir rapat," katanya.
"Kenapa memangnya? Kamu tahu aku nggak pernah peduli kata orang, Winner. Aku berangkat dulu ya, sampai ketemu di kampus."
Lama tidak dipakai belajar, kelas yang akan kami tempati diselimuti debu dan sarang laba-laba. Aku pergi ke kantin untuk meminjam sapu. Penjual takoyaki yang kupinjami sapu lama sekali menatapku, mengamat-amati. Sebuah pemahaman lalu melintasi wajahnya. Dia pun mengangguk-angguk dan menunduk untuk menghindari tatapanku.
Kurasa sampai penjual di kantin pun tahu masalah itu.
Daun pepohonan jati yang mengering berserakan di depan gedung tempat kami rapat. Tanaman dalam pot gantung yang menjulur dari balkon lantai dua banyak yang miring sebelah. Tangga menuju aulanya kotor oleh bekas sol sepatu yang mengeras jadi kerak lumpur. Aku tak memedulikan pasang-pasang mata yang memperhatikan gerakanku. Waktu berpapasan di depan aula gedung dengan Kafka, jantungku bergedebuk sampai aku yakin habis ini aku bakal ambruk. Tapi dia hanya melintas sendirian, melambaikan tangan yang membawa adaptor padaku.
Agnia membukakan tutup bak sampah saat aku berjalan dengan kantung plastik penuh dedaunan kering. Dia mengangkat alis untuk menyapa setelah aku menjatuhkan kantung plastik ke dalam sana, tapi dia dengan segera berbalik meninggalkanku. Ya, lari sana yang jauh. Ke neraka sekalian.
Sialan.
Aku menyugar rambut sambil menghela napas.