Aku mengembuskan napas lega. Akhirnya keadaan Mula membaik. Dia selalu terserang mabuk setiap kali menumpang bus dan kapal. Kepalanya sampai panas. Pengharum kabin membuat perutnya mual. Dia mengerubungi kepala dengan kamen pantai ikat yang kami bawa dari rumah. Aku tahu dia belum tidur karena ritme napasnya masih berantakan. Tapi setidaknya dia sudah tidak lagi muntah-muntah.
Dering ponselku memecah keheningan malam dalam bus.
"Halo, Winner?" Aku berusaha mengatur suara sekecil mungkin.
"Udah sampai mana?"
"Alas yang di deket Gilimanuk."
"Semua materi presentasi buat Minxu Fab udah kamu bawa, kan?" Di tengah kesibukannya mengatur persiapan pameran seni yang sudah ada di depan mata, dia menyempatkan diri memeriksa keadaanku.
Baru saja kepalanya dibuat pusing pada minggu menjelang penutupan konfirmasi peserta. Formulir peserta yang berhasil kami kumpulkan berjumlah 8.033, meningkat empat kali lipat dari tahun 2018. Namun, peserta yang menyerahkan nama baru sekitar 6.000. Winner ketar-ketir. "Aku tahu prediksiku nggak akan meleset. Secara kasar, aku udah ngumpulin seluruh data dari database yang tersedia, kurang lebih sebanyak 8.000 mahasiswa ISTB udah berusaha mengukuhkan personal branding mereka selama dua tahun terakhir, menghitung mahasiswa tahun pertama juga. Nggak mungkin kan persiapan mereka yang selama dua tahun itu tersia-siakan di detik-detik terakhir menuju terselenggaranya pameran?"
Benar saja. Pada hari penutupan, nama yang terkumpul malah mencapai 8.112-angka yang fantastis.
"Semuanya ada di laptopku," jawabku.
"Pertemuannya lusa?"
"Yah ... ya. Aku udah tanya Mirah. Katanya, Min Xu Linda nggak menghadiri seluruh acara pernikahan pegawainya. Ini fenomena langka karena dia mau taruh perhatian ke Mirah."
"Nggak selangka itu seandainya Mirah tahu, Min Xu Linda pasti udah mengawasimu. Mungkin dia nggak berniat melakukan itu awalnya, tapi waktu tahu kamu aktif menciptakan pola kain, punya selera padu padan pakaian yang bagus, dan juga lagi belajar mendesain busana, dia jadi tertarik sama kamu. Mungkin waktu itu dia masih belum punya motivasi untuk menghubungimu. Tapi kebetulan, dia lalu tahu bahwa salah satu pegawainya adalah calon istri sepupumu. Jadi, hasrat yang sebelumnya meragukan itu berubah jadi dorongan kuat. Dia memanfaatkan resepsi sepupumu untuk membuat janji temu."
"Maksudmu, aku ini cuma rencana cadangannya aja?"
"Sampai hari dia ngirimin kamu surel."
Sebaiknya aku tidak tersinggung. Kalau dibanding dengan jajaran desainer profesional yang Min Xu Linda ajak bekerja sama, aku memang cuma desainer busana karakter komik.
"Aku cuma mau kamu mempersiapkan diri, Abril."
"Kamu kan tahu aku udah berlatih presentasi berulang-ulang."
"Bukan itu." Caranya mengucap dua kata itu membuat perutku ikut-ikutan mual. "Kalau menilai dari strateginya manfaatin pertemuan sama kamu lewat resepsi sepupumu, yang udah pasti suasananya jadi kurang resmi, aku menduga suatu penawaran yang mau dia ajukan ke kamu juga nggak bersifat terlalu resmi."
"Oke," aku mengangguk, "maksudnya?"