Sekarang setelah tahu bahwa aku punya senjata ampuh bahkan untuk melawan Rere dan Petra—bukan urusanku mereka mau percaya atau tidak, yang penting mereka termakan tren dan berlomba-lomba ingin memilikinya—aku jadi lebih bisa berpikir jernih. Keputusanku untuk menjumpai Nelman pada hari pertama pembangunan gerai menurutku sudah sangat tepat.
Dia dibantu oleh Rafael dan teman SMP-nya yang bernama Leo. Aku menyapa Rafael sekilas dan melambai pada Leo sebelum berdiri di hadapan Nelman yang cuma bisa terdiam menunggu kedatanganku. Dia sudah melihatku berlari dari arah selatan. Untung gerai kami sama-sama terletak di Festival Park.
"Abril ...."
"Kamu udah nyerah sama tema One True Model My Life Longing for?"
"Aku ...." Tatapannya dilempar ke lantai beton. "Kalau masih bersikeras nerapin tema itu di geraiku, orang-orang bakalan tetap ngarang spekulasi buruk tentang kamu—"
"Di luar itu, kamu belum nyerah, kan?"
Dia menggeleng dengan tegas.
Aku dibanjiri perasaan lega. "Apa masih ada kemungkinan semua itu diperbaiki, Nelman?"
"Aku cuma tinggal cetak ulang foto-foto yang robek dan ganti barang-barang yang rusak."
"Kalau gitu, silakan menyusun ulang semuanya. Aku memperbolehkan kamu menggunakan konsep itu untuk geraimu."
"Tapi, Abril—"
Aku meraih bahu Nelman dan meremasnya, tiba-tiba merasa darah bergejolak dalam kepalaku ketika mengingat sore itu di studionya, waktu aku memeluknya. "Percaya aku. Aku mau kemenangan datang dari dua sisi: sisimu dan sisiku. Selamat bertanding, Nelman! Dan jangan sekali pun coba-coba ngalah demi aku."
Satu hal yang lumayan menggangguku adalah keputusan serentak sepuluh percetakan yang menangani komikku. Pameran seni dibuka pada tanggal 8 September, sementara empat percetakan mengatakan komikku baru bisa diambil paling cepat tanggal 9 sekitar malam hari. Itu pun baru 500 eksemplar yang terdiri dari 400 eksemplar seri satu versi Indonesia dan 100 eksemplar seri satu versi Inggris. Untuk percetakan yang lain dengan jumlah dan perbandingan yang sama, tapi komik seri dua. Dua percetakan lainnya dengan jumlah yang sama tapi dengan perbandingan yang berkebalikan antara versi Inggris dan Indonesia.
Total, pada tanggal 10 September, aku baru memiliki 2 ribu eksemplar. Setengahnya seri satu dan sisanya seri dua. Bisakah 48 ribu eksemplar habis dalam waktu lima hari saja? Berdasarkan laporan tiket PO yang dipegang Winner, sudah ada 43 ribu apresiator yang mengonfirmasi kehadiran, terdiri dari kelompok tur Bali, tur Indonesia, tur NTB-NTT, tur pelajar Venezuela, studi tur University of Michigan, tur reuni alumni ISI Yogya, kunjungan Youth Asean, dan pesanan paket-paket tur lain.
Waktu yang kugunakan untuk menyelesaikan seri komik ini cuma tiga minggu. Terhitung sejak hari kedatanganku di Malang sampai minggu sebelum pembukaan pameran. Aku terus mengulang narasi seandainya di kepalaku waktu mengingat-ingat jadwal keterlambatan cetak. Seandainya aku nggak menyepelekan kata-kata Malik. Seandainya aku lebih peka pada kata-kata sulit seperti Winner. Seandainya aku bisa berpikir setajam Malik dan Winner. Seandainya seandainya seandainya ....