I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #46

SEPTEMBER 2024 #2

Diah Octavia tidak terima karena Kialo's Klik berhasil meraih posisi lima besar gerai terbaik di hari pertama.

Sepertinya dia sudah lama mempersiapkan skenario seandainya apa yang dia inginkan tidak sesuai dengan kenyataan karena artikel yang dia sebarkan tertulis rapi. Isinya membandingkan kredibilitas Nelman dengan fotografer lain disertai argumen yang mantap. Hasil-hasil foto Nelman yang menurutnya di bawah standar sehingga menyingkap kemampuan fotografi Nelman yang, berdasarkan istilahnya, sebenarnya masih sangat awam.

Cuma orang sinting yang bisa berpikir begitu. Aku tahu cara menggunakan kata 'relatif', tapi untuk berkomentar bahwa kemampuan fotografi Nelman masih sangat awam adalah aib raksasa yang bisa dibuat manusia.

Salah satu kesalahan raksasa juga telah dilakukan Rere dan Petra. Mereka tidak pernah tahu bahwa nama mereka telah kuajukan ke meja dewan untuk dipertimbangkan sebagai para mahasiswa yang suka cari sensasi. Mungkin saja mereka tahu, tapi karena selama ini posisi mereka aman-aman saja, mereka jadi berpikir kebijakan pengawasan terhadap mahasiswa provokatif itu tidak lagi diberlakukan. Kekeliruan itu akan terbayarkan, segera setelah mereka menjadi contoh pertama dari dampak kebijakan itu sendiri. Karena selama ini mereka sedang diawasi; itu adalah salah satu kondisi yang diminta oleh para dewan dariku. Sekali lagi mereka melakukan hal provokatif, sanksi baru akan turun.

Dan mereka terang-terangan memosting ulang artikel Diah Octavia di mana-mana. Menghubung-hubungkannya dengan aku. Bahwa sejak awal, kompetisi peserta pameran seni ini hanyalah dampak dari konflik masalah pribadi di antara aku dan Nelman. Publik kampus telah dimanfaatkan. Dan bahkan Malik juga disinggung sambil lalu ketika mengatakan kompetisi akbar ini tidak akan diresmikan seandainya Abril tidak berhasil merayu salah seorang anggota dewan.

Aku bahagia sekali membayangkan Rere dan Petra kebakaran kepala waktu melihat gerai Nelman tetap saja mengangkat tema One True Model My Life Longing for padahal konsepnya dulu sudah diporak-porandakan Diah. Melihat satu aku saja mampu membuat mereka berbusa, apalagi melihat ratusan aku.

Keputusan itu dikeluarkan dewan pagi-pagi sekali. Inisial RR ('22) dan PKA ('22) dijerat sanksi berupa pemberhentian paksa dari posisi mereka dalam organisasi ataupun kepanitiaan apa pun. Selanjutnya, RR dan PKA diharapkan untuk dapat melakukan kontemplasi dan introspeksi diri sebelum diizinkan kembali melibatkan diri dalam kegiatan kemahasiswaan. Dampaknya masih belum terasa bagi mereka sekarang, tapi aku yakin akan adanya pengucilan oleh masyarakat ISTB terhadap mereka. Sebenarnya ... aku agak menyesal karena kenapa mereka tidak sekalian saja diasingkan di Pulau Paskah?

Teman-teman sebangsa dan senasib Petra dan Rere mengerumuni gerai Petra sewaktu aku datang, membentuk semacam konferensi tanpa meja bundar. Aku memandangi mereka, sementara Mula menyelinap masuk ke celah penutup geraiku. Rosi berjalan tegap melintasi sepanjang gang seperti anggota pasukan baris-berbaris sambil bernyanyi dengan nada tegas dan keras khas militer.

"Senangnya hatiku! Turun sanksi untukmu! Kini aku mengakak dengan riang. Mulut dower rasa BonCabe, turunkan sanksi PKA. BonCabe oh BonCabe!"

Mereka hanya bisa melirik tajam Rosi yang mengulangi lirik mirip tapi di bagian PKA dia ganti dengan RR. Akhirnya dia melangkah ke gerainya sambil terbahak-bahak. Pandanganku bersirobok dengan Rere. Aku tersenyum sambil mengangkat kedua alis. Dia bergeming, tapi tatapannya menyiratkan ancaman.

Rombongan Fajar dan keluargaku datang hari ini sehingga kedaiku terasa lebih ramai dibanding kemarin. Winner sempat memberitahuku bahwa sekitar 75% tiket PO dipesan untuk hari pertama dan kedua sehingga kami hanya bisa berharap tidak kehilangan jumlah apresiator secara drastis pada hari ketiga sampai ketujuh.

Dari tayangan live cam keliling, kami menonton anak-anak Seni Tari berkolaborasi untuk membentuk suatu formasi koreografi di sepanjang blok jurusan mereka lalu menampilkan tari kontemporer yang selaras dengan musik dari anak-anak Seni Musik. Cara itu berhasil memikat para apresiator. Mereka bergabung dan menari bersama. Di blok MJ. THEATER juga begitu. MJ. LITERATURE menceritakan Babad Tanah Jawi hari ini, yang diperkeras dengan sound system besar di sudut gang.

Live cam membuatku sadar bahwa di belahan kawasan lain, jurusan-jurusan itu punya pesona yang sangat kuat. Orisinalitas dan kepiawaian mereka dalam menyuarakannya membuatku merasa kecil. Mungkin karena senjata terkuatku baru akan tiba malam ini, setelah Mula kembali dengan pikap Pak Lik dari masing-masing percetakan.

Aku berdiri dengan perasaan kalut di sebelah Rosi yang menguap. Lagu pembuka pengumuman yang ceria berputar dan layar menampilkan tulisan 100 GERAI PALING DISUKAI Hari Ke-2. Snow Grace — Regina Respati turun ke 96. Lenscape — Rudolf Kafka Salim menjadi 52, tanpa disangka-sangka. Kialo's Klik tetap di 4. Asruni Film turun ke 5 dan Kibaran naik ke posisi 1. Moon of Abe belum tampak batang hidungnya.

Winner meremas bahuku sebelum melangkah tergesa-gesa ke pos panitia. Kami semua pun berjalan kembali ke gerai masing-masing. Di geraiku sudah ada Fajar dan Mula yang sedang menurunkan kardus besar dari troli angkut barang. Huh. Jantungku berdebar-debar.

"Dapat ini di mana?" tanyaku pada Fajar sambil mengelus pegangan troli.

"Beli. Jangan kayak orang susah, Abe."

Aku memasang cover komik edisi terbatas di dua neon boks. Mula menata sebagian komik di rak bulat bertingkat yang berbentuk seperti kue pernikahan. Rak itu kuletakkan di tengah gerai. Fajar lalu mendorong kardus sisa komik ke belakang meja informasi. Beberapa menit kemudian, Rosi mampir ke geraiku, menunggu dengan sabar selagi Fajar menyambungkan kabel saklar agar bisa diulur sampai ke stopkontak di bawah meja. Orang-orang lain melewati kami tanpa berminat, buru-buru ingin merebahkan tubuh mereka di rumah.

Akhirnya Fajar mengacungkan jempol dari meja informasi gerai. Aku dan Mula mundur sampai ke jalan. "Fajar!" panggil Mula. Lampu boks pun menyala.

Di sebelah rak itu, Rosi geleng-geleng sambil bertepuk tangan. "Waahhh ... siap-siap meluncur ...," suaranya dibayangi ketakjuban, "ke nomor satu, Moon of Abe."

Hal pertama yang terbayang olehku begitu terbangun dari tidur di pagi hari adalah wajah Rosi. "Siap-siap meluncur ke nomor satu, Moon of Abe."

Abril akan meluncur ke Bulan.

Aku dan Mula segera bersiap-siap. Untuk menghindari kemacetan, kami berangkat sejak pukul 05.30 pagi, seperti sebagian peserta lain. "Aku heran," kata Mula saat kami melintasi underpass dekat Tol Bali Mandara. "Jadi kalian ini ceritanya sengaja nggak mengunjungi gerai masing-masing atau gimana?"

"Kalian siapa?"

"Kamu sama Nelman."

Aku melakukannya, tapi tidak menceritakannya pada Mula. Dan Nelman ... aku tidak tahu. Aku membiarkan pertanyaan Mula lebur oleh angin subuh yang menggigit tengkuk. Rosi dan sepupunya sudah menunggu kami di parkiran, kami pun melangkah bersama ke gerai kami yang bersebelahan. Rosi bilang, semalam dia dan Kafka makan berdua. Dari Kafka dia tahu bahwa Nelman berkeliling untuk memotret orang-orang yang mau mencoba jasanya. Kalau orang itu suka pada hasil potretnya, Nelman akan menggiring orang itu ke gerainya. Jadi, aku menebak, mungkin itulah yang membuat Nelman sibuk sekali. Lagi pula, gerainya sudah ditangani dua orang.

Lalu aku menelengkan wajah dan menatap Rosi.

"Dia bolak-balik dari kawasan-kawasan lain ke gerainya lagi untuk menjaring klien baru. Ada aja caranya .... Ngapain kamu ngelihatin aku kayak gitu?"

"Makan malam berdua sama Kafka dalam rangka apa?"

"Dalam rangka kelaparan, lah!"

"Nggak dalam rangka ngerayain posisi Lenscape yang naik ke nomor 52?"

Lihat selengkapnya