Ada satu buku di masing-masing tangannya ketika aku menjulurkan leher dari balik tirai gerai dan melangkah ke arahnya. Nelman menunduk, menyejajarkan kedua komik karyaku sehingga sampulnya tampak seperti dilukis di atas bidang yang sama. Seri satu diceritakan dari sudut pandangku, berjudul I Am Way Better than You, Nelman. Sampulnya adalah kartunisasi sosokku yang sedang berdiri di depan kanvas, melukis sesuatu yang berada di hadapanku. Mengenakan luaran pink berpotongan pendek dan celana denim putih. Seri dua menggunakan sudut pandang Nelman, judulnya I Am Way Better with You, Abril. Di sampul komik itu, Nelman yang mengenakan sweter putih kebiruan dan celana kain panjang tengah memotret sesuatu dengan kamera DSLR kesayangannya. Ketika disatukan seperti itu, orang akan tahu apa yang sedang kulukis dan apa yang sedang Nelman potret.
"Siapa yang kasih kamu ini?" Aku menepuk kedua komik di tangannya.
"Samantha."
Harusnya aku sudah menduganya, kan? Nelman membalik komik dan menunjukkan suatu coretan di halaman terbelakang. Itu tanda tanganku. Tapi ada coretan lain di sana.
"Samantha juga minta tanda tanganku, maksa sih bisa dibilang. Permintaannya nggak masuk akal."
"Menurutku malah masuk akal banget." Suatu gerai yang dekat dengan ujung gang memutar lagu "Novocaine" miliknya Shiloh Dynasty. Novocaine .... "Kalau Ludwig bisa jadi bahan bakar dari kemarahan Mula yang mempesona ...."
"Kamu mau bilang aku ini bahan bakar kemarahanmu?"
"Mungkin lebih ke inspirasiku?"
Nelman menatapku lalu mengangguk. "Cocok buat kepribadianmu yang suka main terobos aja. Apa yang dilihat mata, itulah memang maksud yang kamu ingin kami tangkap."
"Aku cuma mau bilang kalau ... akan ada waktunya semua bahan bakar habis, Nelman, bahkan reaksi fusi nuklir Matahari pun suatu hari nanti juga akan berhenti karena kehabisan hidrogen. Tapi kamu ... sama sekali nggak terasa kayak gitu buatku. Aku selalu gagal menghubungkan kamu sama suatu penghabisan. Bagiku, kamu selalu ada di sana, menyala selama mataku terbuka, baik mata fisik, maupun mata hatiku. Kamu lebih mirip sama lembaran film, tapi yang gulungannya nggak akan pernah habis kecuali kamera itu sendiri rusak. Dalam suatu momen, kamu selalu menyediakan frame. Kamu bukannya tertuang ke dalam suatu kejadian, tetapi malah menuangkan diri. Kamu jadi mudah dibedakan dari yang lain-lain. Aku bisa memperhatikan setiap gesturmu dan memahami pergerakanmu. Itulah yang ngebuat aku sanggup menceritakan semuanya dari sudut pandangmu. Seandainya aja aku bisa lebih awal menemukan gulungan film itu, aku nggak perlu pernah merasa jengkel sama kamu."
"Seandainya gulungan film itu memang ditemukan lebih awal, kamu masih bakal tetep ngajak bersaing untuk nuntasin masa lalu kita?"
"Pastinya. Kalau nggak, meskipun kita udah berdamai, tetep bakal ada yang mengganjal di hatiku. Aku bakalan selalu meragukan diri waktu ada di deketmu, bertanya-tanya, bener nggak sih aku ini mampu menyaingi kamu? Atau setidaknya punya kemampuan yang setara sama kamu?"
"Jadi sebenarnya persaingan ini bukan tentang aku sama kamu." Nelman mengangguk-angguk. "Aku ini adalah representasi dari kemauanmu untuk membebaskan diri dari prediksi buruk pengajar kita di masa lalu."
Setelah mendengarnya seperti itu, aku merasa semuanya sangat tepat. Seolah-olah tetes air terakhir yang kutunggu-tunggu untuk memenuhi botolku akhirnya jatuh juga. "Kalau aku punya kesempatan yang sama besar sama kamu, berarti murid-murid lain juga."
Nelman tersenyum, makin lama makin lebar hingga gigi-gigi panjang bagian depannya kelihatan semua. "Kalau gitu, ayo kita selesaiin ini. Dan jangan ada yang ngalah."
Aku membalas senyumnya.
Seseorang bersiul. Kencang sekali sampai terdengar seperti petasan yang meluncur ke langit. Di antara keramaian yang menyusul setelahnya, aku mendengar tawa Mula, yang berbaur dengan tawa Rosi dan Kafka. Dan, sepertinya live cam tidak ketinggalan tayangan ini.
Malam harinya, kami kembali ke Lotus Pond untuk melihat pengumuman posisi harian. Snow Grace sudah merayap pergi dari 100 GERAI PALING DISUKAI Hari Ke-3. Lenscape turun ke 60. Asruni Film juga turun hingga ke nomor 20. Yang mengejutkan, seperti kata Rosi, Moon of Abe meluncur ke atas, tapi tidak nomor 1. Moon of Abe — Abril Gabrina, 19. Kialo's Klik tetap bertengger di posisinya, begitu pula dengan Kibaran.