Perasaanku makin gelisah saja. Delio bilang dia akan datang untuk merayakan malam penutupan bersama seluruh warga kampus. Aku memintanya memberitahuku lokasinya ketika dia tiba nanti karena aku yakin sekali, Malik pasti datang bersamanya. Nelman dan Winner mengirimiku pesan, mereka dan Kafka menungguku dan Rosi di Lotus Pond, barisan paling kiri dan agak di depan, sekitar sepuluh langkah jauhnya dari sound system.
"Kamu takut Moon of Abe turun ke bawahnya Kialo's Klik, ya?" Mula menelengkan wajah.
Andai saja dia tahu yang terjadi di kepalaku lebih awut-awutan dari itu. Memang akan jadi suatu kekecewaan tersendiri kalau sampai aku kalah lagi dari Nelman, tapi ada yang lebih meresahkan dari itu. Bagaimana seandainya ... Moon of Abe berhasil menyalip Kibaran, tapi si penasihat yang sanggup membuat Moon of Abe berjaya tidak akan pernah bisa dia temui lagi karena si penasihat sengaja menghindarinya? Dan Malik akan bisa melakukannya dengan lancar. Dia selalu tahu siapa yang akan ada di mana sehingga dia menghindari seluruh tempat yang mau kutuju untuk menemuinya.
Aku percaya kalau Malik tidak ingin ditemui, tidak akan ada yang bisa menemukannya.
"Mungkin kamu nggak akan jadi juara satu, Abe, tapi kamu pasti udah jauh nyalip Nelman."
Rosi menepuk-nepuk bahuku. "Kak Mula bener. Percaya diri sedikit, dong! Kamu ini kan Abril, ratunya penguasa kegelapan di ISTB."
Dengan sedikit dorongan—atau pengucilan—dari Rosi dan Mula, aku dan Rosi pun berangkat ke Lotus Pond. Ketika sadar orang yang berjalan di dekat mereka adalah aku, mereka berlomba-lomba menepuk bahuku sambil berucap, "Semoga beruntung malam ini ya, Bril!"
Semoga beruntung malam ini ya, Bril. Semoga beruntung malam ini ya, Bril. Semoga beruntung, semoga ....
Nelman, Winner, dan Kafka melambaikan tangan begitu melihat kami. Delio belum mengirim kabar lagi. Langkahku jadi agak semrawutan karena menoleh ke kanan dan mengamat-amati satu per satu setiap wajah yang kulewati. Bukan Malik. Itu juga bukan. Tidak keriting. Terlalu tinggi. Kulitnya tidak secerah itu. Bibirnya tidak semerah rasberi. Mana sih si Malik ini? Kelebatan warna yang terus berganti-ganti dari layar di panggung membuat wajah orang-orang ini tampak berbeda-beda. Kadang wajahnya hijau sehingga hidungnya kelihatan penyok, kadang rambutnya kelihatan ungu, kadang giginya kelihatan ompong .... Tapi, tak ada satu pun yang mirip Malik.
Winner tersenyum—senyum paling lebar selama aku pernah mengenalnya—sampai jadi terkesan seperti cengiran. Kafka menggiringku ke tengah-tengah barisan sambil memijati kedua bahuku dan menyanyikan "Olé Olé Olé (We are the Champions)".
"Abril Gabrina, selamat yaaa!" Sekelompok orang di dekat kami berseru.
Wajahku terasa panas, seolah ada orang yang membungkus kepalaku dengan handuk beruap. Mereka mulai menyanyikan "Wae Wa E O" dan mengganti setiap lirik kita menjadi Abril. Jantungku jadi berdetak seperti tangki bensin yang mau meledak. Bagaimana kalau mereka sudah kadung menyanyikan lagu-lagu penyanjung itu, tapi Kibaran tetap jadi nomor satu? Malunya tak akan tertahankan.
Lagu "Wae Wa E O" menggema di Lotus Pond, meningkahi musik pengiring sambil menunggu semua peserta pameran tiba dari seluruh penjuru GWK. Hingga akhirnya, layar menampilkan hitung mundur. Musik pengiring berhenti. Orang-orang menyaksikan dengan saksama. Layar berkelip-kelip sebelum menampilkan pendar putih yang menimpa puncak kepala para mahasiswa di barisan depan. Judul pengumuman yang di-zoom-in menciut dan menampilkan tulisan yang ditebalkan.
100 GERAI PALING DISUKAI
Hari ke-7
100. MurAl — Alan Hasidiq Q. J.
99. Pearl Estate — Kalia M. Tiar
98. Dean a Mic — Dean Christopher Banham
Nama-nama mulai naik. Aku menahan napas sampai ulu hatiku terasa perih.
49. Lenscape — Rudolf Kafka Salim
Melintasi 30, 20.
20. Asruni Film — Megantara Dias Dewangga Soka
Masuk ke 10 besar. Kepalaku bergemuruh seperti dasar air terjun.
4. Kialo's Klik — Nelman Kialo Sudrajat
Oh, ya Tuhan. Posisinya sangat stabil dari awal hingga akhir. Tangannya yang lembap menggenggamku. Wangi lavender samar-samar membelai hidungku. Aku tak sanggup menolehnya. Tapi dia bergumam di telingaku. "Selamat, Abril, selamat."