I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #49

SEPTEMBER 2024 #5

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di GWK dan mengembalikan semua properti sewaan, aku baru merasa tenang. Anya mudah sekali dihubungi, untungnya. Dia hampir selalu membalas pesan hanya berselang beberapa detik kemudian. Sepertinya enak sekali duduk-duduk saja di meja kasir dan menyaksikan pegawai-pegawai kedai mi pedasnya bekerja dengan sigap.

Dia melambai waktu aku datang dengan kardus yang kuletakkan miring di bagian depan motor. Anya meninggalkan pesan pada salah seorang pegawainya lalu mengenyakkan tubuh bongsor-nya di jok belakang.

Para murid yang mendapat giliran masuk pagi sedang beristirahat. Bocah-bocah berpipi tembam berlarian di lapangan. Yang lain duduk di serambi kelas. Kaki-kaki mungil mereka menggantung si atas paving. Sebagian duduk di lantai taman kecil berpagar hijau, menyantap bekal makan mereka. Aku memandangi sekelompok gadis yang sedang bermain lompat tali dekat kolam pasir lompat jauh sampai merasakan sikutan Anya.

Sekolah kami direnovasi sampai eksteriornya jadi tampak seperti hotel. Langit-langit koridor terbuka dipasangi papan kayu dan lampu tanam. Pilar dicat krim bersih. Bata merah diganti dengan granit hitam. Dinding kelas digantungi rak dekorasi yang memuat tanaman-tanaman dengan pot hasil karya para murid.

Letak kantin dipindah. Dulu, ruangan yang difungsikan sebagai kantor guru ini adalah kantin berbentuk memanjang, tembus halaman parkir sepeda. Kantinnya tidak terlihat di bagian depan sekolah sekarang. Kami melewati tiang ring basket bercat putih. Bayangan itu melintas lagi. Ketika aku melemparkan bola basket dengan kasar ke arah Nelman sampai jemarinya terkilir. Kekehanku otomatis meluncur keluar.

Anya mengetuk pintu kantor yang terbuka. Seorang wanita berwajah tirus yang punya bercak-bercak cokelat besar di pipinya datang menghampiri kami dari meja depan ruangan. Ruang kerjanya dibatasi sekat berupa lemari tinggi. Mungkin, di balik lemari itulah meja-meja guru lainnya diletakkan sekarang. "Halo, adik-adik, selamat siang," sapanya.

Kami membalas sapaannya. Dari belakang lemari terdengar tawa renyah wanita lain. Makin lama makin dekat. Kami bertiga menoleh ke lemari. Tampaklah seorang wanita berkacamata dan berwajah kotak yang menatap heran ke arahku dan Anya. Dia menyeberangi ruang kerja wanita yang menyapa kami. Di tangannya ada lembaran-lembaran kertas yang sepertinya hendak dia serahkan ke meja wanita yang menyambut kami.

"Abril Gabrina?" tanyanya. Poni sampingnya tidak berubah.

"Dan Anya Firdausa." Anya menyahut, tersenyum bergantian dari guru seni kami dulu ke aku. "Siang, Bu Seila."

"Ah ya, saya ingat kamu. Rumahmu di sebelah gedung serbaguna belakang sekolah ini, kan?"

"Benar sekali, Bu Seila," kata Anya.

"Taplak meja pink yang kamu berikan ke saya masih terpasang di meja saya, Abril."

Aku tersenyum. Dia tidak lupa.

"Saya sudah dengar kabar tentang karyamu yang viral itu. Saya nggak nyangka, anak didik saya bisa seterkenal itu di umurnya yang masih muda."

Oh, atau sebenarnya ... pameran seni yang membuatnya mendadak ingat padaku.

"Rasanya kayak ... aduh, bangga banget. Saya loh dulu juga jadi salah satu guru yang ngajarin kesenian ke kamu. Sekarang kamu sudah bisa gantian mengajari saya." Bu Seila kemudian melirik kardus dalam pelukanku. "Apa itu, Abril?"

"Ah, ini, Bu!" Anya berkata sambil bertepuk tangan sekali. "Ini dia karyanya Abril yang terkenal seantero jagat raya itu."

Lihat selengkapnya