Malam Minggu di deretan ruko Kelapa Gading selalu punya bau yang sama: asap knalpot, minyak gorengan dari gerobak di ujung jalan, dan aroma aspal yang menunggu hujan. Aku hafal semuanya, sama seperti aku hafal bunyi peluit di leherku dan berat rompi oranye yang warnanya sudah pudar dimakan matahari.
Usiaku dua puluh tahun waktu itu. Setiap sore aku berangkat dari kamar kos sempit di gang belakang pasar, berdiri di tepi jalan sampai lewat tengah malam, mengatur mobil-mobil yang datang dan pergi, lalu menerima lembaran dua ribuan yang kadang diulurkan dengan senyum, lebih sering dilempar dari balik kaca yang hanya turun separuh. Aku tidak mengeluh. Setiap lembar itu kuselipkan ke dalam kaleng biskuit bekas di bawah kasur, dan setiap kali tutup kaleng itu kubuka, aku melihat hal yang sama di dalamnya: Gendis, berkebaya putih, duduk di sampingku di depan penghulu.
Gendis tidak pernah tahu soal kaleng itu. Ia juga tidak tahu soal rompi oranye. Yang ia tahu, kekasihnya sejak kelas sebelas bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor ekspedisi, sering pulang malam karena lembur, dan terlalu sibuk untuk menjemputnya di kampus. Akulah yang mengarang cerita itu. Setiap kebohongan kecil kutambal dengan kebohongan berikutnya, sampai aku sendiri hampir percaya. Aku hanya butuh waktu. Sedikit lagi tabungan, sedikit lagi keberanian, lalu aku akan datang ke rumahnya dengan kemeja terbaik dan mengatakan semuanya.
Malam itu, waktu ternyata tidak mau menunggu. Sebuah mobil putih berhenti di depan kafe yang baru buka di ujung deretan. Aku meniup peluit, memberi aba-aba mundur, mengetuk bodi belakangnya pelan supaya tidak menyentuh pot besar di trotoar. Pintu-pintunya terbuka, dan empat perempuan turun sambil tertawa. Wangi parfum mereka mengalahkan bau gorengan. Aku menunduk sedikit, kebiasaan yang sudah terlatih, lalu mengangkat wajah untuk menerima uang parkir.
Dan di sanalah ia berdiri. Rambutnya dicepol tinggi. Di lehernya melingkar kalung tipis yang kubelikan pada ulang tahunnya yang kedua puluh, hasil tiga minggu makan nasi dengan kerupuk. Tangannya masih memegang tas kecil yang setengah terbuka. Senyumnya hilang lebih dulu sebelum suaranya keluar.
“Andra?”
Peluit itu masih menempel di bibirku. Aku melepasnya pelan-pelan, seperti melepas sesuatu yang tiba-tiba terasa memalukan.
“Gendis ... aku bisa jelasin.”
“Jelasin apa?” Suaranya naik, cukup keras untuk membuat teman-temannya berhenti tertawa. Matanya bergerak dari wajahku, turun ke rompi, ke sandal jepit, ke tanganku yang hitam oleh debu dan oli. “Jadi, kerjaan lo selama ini cuma tukang parkir?”
Ada yang ganjil dengan caranya mengucapkan kata itu. Tukang parkir. Seakan-akan kata itu kotor. Seakan-akan ia baru saja menginjak sesuatu yang menjijikkan.
“Aku nggak pernah bohong soal perasaanku,” kataku. Tanganku terulur, ingin meraih lengannya, ingin menariknya sedikit menjauh dari tatapan orang-orang. “Semuanya buat kita, Ndis. Aku nabung. Aku cuma ....”
Ia mundur dua langkah, cepat sekali, seolah tanganku membawa penyakit.
“Jangan sentuh gue!” Suaranya pecah di antara deru motor yang lewat. “Gue nggak mau tangan kotor lo nempel di kulit gue. Malu-maluin, tahu, nggak!”
Salah satu temannya menarik lengannya. Yang lain menutup mulut, entah menahan tawa, entah menahan kaget. Seorang bapak yang sedang menunggu martabak menoleh. Pedagang gorengan berhenti mengaduk wajannya. Selama sedetik yang terasa seperti setahun, seluruh deretan ruko itu seakan menatapku.
Gendis berbalik. Hak sepatunya mengetuk trotoar, cepat, makin cepat, lalu pintu kafe berayun menutup di belakangnya. Lonceng kecil di atas pintu berdenting riang.
Aku tetap berdiri di tempat yang sama sampai sebuah mobil lain membunyikan klakson. Aku mengatur mobil itu. Aku menerima dua ribu rupiah, lalu mengucapkan terima kasih. Tubuhku bekerja seperti biasa, tetapi sesuatu di dalam dadaku berhenti, dan aku tidak tahu bagaimana cara menyalakannya lagi.
-II-
Hujan akhirnya turun menjelang tengah malam. Aku tidak berteduh. Aku duduk di trotoar di depan ruko yang sudah tutup, membiarkan air membasahi rambut, rompi, dan sisa harga diri yang tadi tercecer di depan kafe. Orang bilang laki-laki tidak boleh menangis. Malam itu aku memutuskan bahwa hujan cukup deras untuk menyembunyikan apa saja.