I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #2

Sekretaris Baru

“Suruh dia pulang, Lina.”

“Sudah, Pak. Sudah tiga kali saya bilang.” Lina menelan ludah, terdengar jelas lewat gagang telepon. “Katanya dia akan menunggu sampai Bapak bersedia menemuinya, walaupun harus sampai malam.”

Aku menutup telepon tanpa menjawab. Di layar komputer, jadwal hari ini berderet rapi dalam kotak-kotak biru. Rapat evaluasi proyek Cibubur pukul sepuluh, makan siang dengan bank pukul dua belas, peninjauan lokasi di Bekasi selepas asar. Tidak ada satu kotak pun untuk perempuan keras kepala yang datang tanpa diundang.

Tak lama, pintu diketuk dua kali, pelan dan teratur. Hanya satu orang di gedung ini yang mengetuk seperti itu.

“Masuk.”

Rani melangkah masuk dengan tablet di tangan dan senyum sopan yang sudah ia pakai setiap pagi selama delapan bulan. Delapan bulan adalah rekor. Sekretaris-sekretaris sebelum dia rata-rata bertahan tidak lebih dari tiga bulan. Ada yang menangis di toilet pada minggu kedua, ada yang mengirim surat pengunduran diri lewat pesan singkat pukul dua dini hari. Rani bertahan, dan seminggu lalu ia meletakkan amplop putih di mejaku. Suaminya dipindahtugaskan ke Balikpapan. Hari terakhirnya akhir bulan ini.

Aku belum meminta Damar membuka lowongan. Aku benci wawancara kerja. Aku benci duduk berjam-jam mendengarkan orang memuji diri sendiri dengan kalimat yang sama, lalu menyaksikan mereka mundur satu per satu setelah merasakan seperti apa bekerja untukku.

“Rapat Cibubur mundur lima belas menit, Pak. Pak Hendra masih di jalan,” kata Rani. Ia ragu sebentar, lalu menambahkan, “Perempuan di lobi itu sudah datang sebelum saya sampai, Pak. Sebelum pukul tujuh.”

“Kamu kenal dia?”

“Tidak, Pak. Tapi tadi Lina memberinya air minum. Dia menolak sarapan yang dibelikan satpam.” Rani menunduk, seperti menyesal sudah bicara terlalu banyak. “Sepertinya dia sungguh-sungguh.”

Semua orang sungguh-sungguh pada hari pertama. Aku hampir mengatakannya, tetapi sesuatu menahanku. Mungkin bayangan seseorang yang menunggu sejak subuh di lobi sebuah gedung, menolak sarapan karena tahu ia tidak mampu membayarnya. Bayangan itu sangat kukenal.

Aku mengangkat gagang telepon lagi. “Lina. Suruh dia naik. Lima menit.”

-II-

Ia masuk dengan langkah yang tidak tergesa dan tidak pula ragu.

Usianya mungkin pertengahan dua puluhan. Rambutnya hitam, lurus, panjang melewati bahu, diikat rendah dengan karet sederhana. Kemeja putihnya disetrika licin, rok hitamnya jatuh sampai di bawah lutut, dan sepatu datarnya bersih walaupun haknya sudah menipis di satu sisi. Ia mendekap sebuah amplop cokelat di dada, erat.

Yang paling menarik perhatianku justru matanya. Ada lingkaran samar di bawahnya, tanda tidur yang tidak cukup, tetapi tatapannya lurus dan tenang. Ia tidak menunduk terlalu dalam seperti kebanyakan orang yang masuk ke ruangan ini. Ia hanya mengangguk sekali, sopan, lalu menunggu.

“Duduk.”

Ia duduk di ujung kursi, punggungnya tegak. “Terima kasih sudah bersedia menemui saya, Pak. Nama saya Tari Fitrianti.”

“Saya menemui kamu supaya kamu berhenti membuat resepsionis saya gelisah,” kataku. “Perusahaan ini tidak sedang membuka lowongan.”

“Saya tahu, Pak.” Jawabannya datang tanpa jeda. “Tapi sekretaris Bapak akan berhenti akhir bulan ini.”

Aku menyandarkan punggung. “Dari mana kamu tahu?”

“Teman saya bekerja di lantai sebelas.” Ia diam sebentar seperti menimbang apakah kalimat berikutnya pantas diucapkan, lalu memutuskan untuk jujur. “Katanya Bu Rani akan ikut suaminya pindah. Katanya juga ... gaji di sini besar.”

Hampir saja aku tertawa. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berani berterus terang seperti itu di depanku. Biasanya mereka bicara soal tantangan, pengembangan diri, visi perusahaan yang mengagumkan. Perempuan ini bicara soal uang, dengan suara datar, seolah kami sedang membicarakan cuaca.

“Teman kamu cerita apa lagi?”

Ia tidak langsung menjawab.

“Bilang saja.”

“Katanya Bapak tidak pernah tersenyum,” ucapnya pelan. “Dan belum ada sekretaris yang bertahan lebih dari setahun.”

“Teman kamu salah,” kataku. “Belum ada yang bertahan lebih dari sembilan bulan.”

Ujung bibirnya bergerak sedikit, terlalu tipis untuk disebut senyum. Ia menyodorkan amplop cokelat itu dengan dua tangan. Aku membukanya. Di dalamnya ada surat lamaran yang diketik rapi, fotokopi ijazah S1 Administrasi Perkantoran dari sebuah universitas swasta di Bogor, transkrip nilai, dan surat keterangan kerja dari agensi periklanan di Kemang. Tiga tahun sebagai sekretaris direktur kreatif. Di bagian bawah surat itu tertulis alasan berhenti, yaitu perusahaan tutup.

Lihat selengkapnya