Senin pagi, pukul tujuh kurang lima menit, aku keluar dari lift di lantai dua puluh tiga dan mendapati lampu di meja sekretaris sudah menyala.
Selama delapan tahun, akulah yang selalu tiba paling awal. Aku suka lorong yang masih sunyi, aroma karpet yang baru divakum, dan layar-layar komputer yang masih gelap. Pagi adalah satu-satunya waktu ketika kantor ini benar-benar terasa milikku. Jadi, ketika melihat seseorang sudah duduk di sana, sesuatu di dalam diriku merasa dilangkahi.
Tari berdiri begitu melihatku. Kemejanya hari ini berwarna biru muda, roknya tetap hitam, rambutnya tetap diikat rendah. Di mejanya terbuka sebuah buku catatan kecil bersampul cokelat, penuh tulisan tangan yang rapat.
“Selamat pagi, Pak.”
“Kamu datang jam berapa?”
“Setengah tujuh, Pak.”
“Jam kerja mulai pukul tujuh tiga puluh.”
“Saya tahu, Pak.” Ia melirik buku catatannya. “Bu Rani bilang Bapak biasa datang pukul tujuh. Saya pikir sebaiknya saya sudah siap sebelum Bapak datang.”
Aku tidak menjawab. Aku masuk ke ruanganku dan menutup pintu sedikit lebih keras daripada yang perlu. Baru setelah duduk aku sadar bahwa mejaku sudah dirapikan, surat kabar pagi sudah terlipat di sudut kanan, dan jadwal hari ini sudah tercetak di atas keyboard. Rani biasanya baru melakukan semua itu pukul delapan.
-II-
Damar mengetuk pintu pukul sembilan, membawa map biru dan senyum yang selalu terlihat setengah bercanda.
Dari semua orang di kantor ini, hanya Damar yang berani bicara padaku tanpa memilih kata terlalu lama. Ia bergabung sejak perusahaan ini masih menempati sepetak ruko di Rawamangun dengan kipas angin yang berderit. Badannya tegap seperti tentara yang salah jurusan, hidungnya pesek, alisnya tebal dan hampir bertaut di tengah, sehingga ia selalu tampak sedang berpikir keras bahkan ketika sedang melamun. Ia mengurus semua yang berhubungan dengan manusia di perusahaan ini, sementara aku mengurus semua yang berhubungan dengan bangunan. Pembagian itu berjalan baik karena kami sama-sama tahu siapa yang lebih pandai menghadapi manusia.
“Berkas Mbak Tari, Pak.” Ia meletakkan map itu di mejaku. “Sudah lengkap. Saya cuma mau memastikan, Bapak benar-benar menerima dia tanpa wawancara HRD?”
“Saya sudah mewawancarainya.”
“Lima menit, kata Lina.”
“Dua puluh menit.”
Damar mengangkat kedua alisnya yang tebal, dan untuk sesaat keduanya benar-benar bertaut. “Itu wawancara terlama yang pernah Bapak lakukan.”
Aku membuka map itu dan pura-pura membaca. Damar tetap berdiri, menunggu.
“Ada lagi?”
“Satu, Pak.” Ia menggaruk tengkuk. “Waktu mengisi formulir, dia bertanya apakah lembur dibayar. Lalu dia bertanya apakah boleh mengambil lembur sebanyak-banyaknya.” Damar tersenyum miring. “Biasanya orang bertanya cara menghindari lembur di kantor ini.”
Aku menutup map itu. “Kalau dia mau lembur, biarkan.”
“Siap, Pak.” Damar berbalik, lalu berhenti di ambang pintu. “Oh, ya. Dia membawa bekal sendiri. Nasi dan tempe. Saya lihat tadi di pantri.” Ia mengatakannya sambil lalu, seolah itu bukan apa-apa, lalu pergi.
Aku memandangi pintu yang sudah tertutup. Damar memang begitu. Ia tidak pernah menyampaikan sesuatu tanpa alasan, dan ia tidak pernah menjelaskan alasannya.
-II-
Kopi pertamanya datang pukul sepuluh. Rani sudah memberinya catatan, tentu saja. Aku sempat mendengar suara mereka dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Pak Andra minum kopi hitam, tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis. Kalimat yang sama yang dulu diterima Rani dari sekretaris sebelumnya, dan yang sebelumnya lagi. Kalimat yang, sejujurnya, tidak pernah berhasil diterjemahkan siapa pun dengan tepat.
Tari meletakkan cangkir putih itu di atas tatakan, di sisi kanan mejaku, gagangnya menghadap ke arah tanganku. Detail kecil. Rani butuh tiga minggu untuk mengingatnya.
Aku menyesap sekali.
Kopinya tidak pahit. Tidak juga manis. Rasanya ... biasa saja. Seperti kopi yang dibuat seseorang yang tidak berusaha membuat kesan, hanya berusaha membuat kopi.
“Biasa,” kataku.
Ia tidak terlihat tersinggung. “Bu Rani bilang Bapak suka yang tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis, Pak. Jadi saya buat yang biasa.”
Aku menatapnya, mencari tanda-tanda bahwa ia sedang menyindir. Tidak ada. Wajahnya serius.
“Kalau Bapak ingin rasa yang lain, saya bisa ....”
“Tidak perlu.”
Ia mengangguk dan keluar. Aku menyesap lagi. Lalu lagi. Ketika aku tersadar, cangkir itu sudah kosong, padahal biasanya kopi buatan Rani selalu kusisakan setengah dan dingin di sudut meja sampai sore.
Aku tidak memikirkan hal itu terlalu lama. Kopi tetap kopi.