Perjalanan ke Los Angeles memakan waktu hampir dua puluh jam, termasuk transit empat jam di Tokyo. Tari menghabiskan sebagian besar waktu itu dengan menempelkan wajah ke jendela, bahkan ketika di luar hanya ada kegelapan dan awan.
Ia mencatat semuanya di buku catatan kecil bersampul cokelat, buku yang sama yang dulu ia pakai untuk mencatat jadwal rapatku. Menu makan malam di pesawat. Nama pramugari yang menawarinya selimut tambahan. Bunyi aneh yang terdengar ketika roda pendarat dilipat. Di bandara Narita, ia berdiri lama di depan deretan mesin minuman otomatis yang menjual teh hijau panas dalam kaleng, lalu membeli dua, satu untukku dan satu untuknya, dan memotret keduanya sebelum membukanya.
“Buat Ibu,” katanya ketika aku bertanya. “Ibu nggak bakal percaya ada teh panas di dalam kaleng.”
Ia salat di musala kecil di sudut terminal, lalu salat lagi di kursinya di pesawat dengan tayamum karena tidak enak hati mengantre di toilet. Ia bertanya kepadaku arah kiblat, dan aku harus membuka aplikasi di ponsel karena aku sendiri tidak tahu bagaimana menentukan arah kiblat di atas Samudra Pasifik. Ia tertawa melihatku memutar-mutar ponsel di udara seperti orang mencari sinyal.
Aku tidak tidur sepanjang penerbangan. Aku hanya memperhatikannya. Perempuan yang dulu berdiri di ruanganku dengan amplop cokelat di dada, yang menolak sarapan di lobi karena tidak mampu membayarnya, kini duduk di sampingku di atas samudra dengan mata yang berbinar-binar seperti anak kecil di pasar malam. Aku tidak pernah merasa sekaya itu, bahkan pada hari aku menandatangani kontrak terbesar dalam hidupku.
Apartemen Pak Abdi berada di lantai sembilan sebuah gedung tua yang terawat di Santa Monica, hanya beberapa blok dari pantai. Bukan apartemen mewah. Satu kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan dapur kecil, dan sebuah balkon sempit yang cukup untuk dua kursi lipat dan sebuah pot tanaman yang sudah lama mati. Namun dari balkon itu, di antara atap-atap gedung dan pohon-pohon palem yang menjulang kurus seperti sapu terbalik, kami bisa melihat laut.
Tari berdiri di balkon itu lama sekali begitu kami tiba, masih memakai jaket dari pesawat, koper belum dibuka.
“Lautnya sama,” katanya akhirnya.
“Sama dengan apa?”
“Sama birunya kayak Anyer.” Ia menoleh padaku dan tersenyum. “Padahal jauh banget. Tapi langitnya sama, jadi lautnya juga sama.”
Kami tidur sepanjang sisa hari itu, tumbang oleh perbedaan waktu yang membuat tubuh kami tidak tahu lagi kapan siang dan kapan malam. Aku terbangun pukul tiga dini hari dan mendapati Tari duduk di tepi ranjang dengan mata terbuka lebar, menatap jendela.
“Aku lapar,” katanya dengan suara yang sangat serius. “Lapar banget. Di Jakarta sekarang jam enam sore.”
Kami makan mi instan yang kubeli di toko dua puluh empat jam di ujung jalan, duduk di lantai ruang tamu dengan kaki bersila, di bawah cahaya lampu dapur yang kuning. Tari menambahkan telur, irisan bawang daun, dan sambal botolan yang ia bawa dari Jakarta di dalam kopernya, dibungkus tiga lapis plastik supaya tidak bocor.
“Kamu bawa sambal ke Amerika?”
“Bawa rengginang juga. Sama kerupuk.” Ia menyeruput kuah mi dengan wajah yang sangat puas. “Ibu yang suruh. Katanya makanan bule nggak ada rasanya.”
Pukul empat dini hari, setelah mangkuk-mangkuk dicuci, ia menantangku perang bantal karena katanya aku mendengkur di pesawat. Aku tidak mendengkur. Aku tidak tidur sama sekali di pesawat. Namun aku tetap kalah, karena ia ternyata melempar bantal dengan akurasi yang sama dengan ketika ia memukul pergelangan tangan penculiknya dengan kayu palet, dan karena aku terlalu sibuk tertawa untuk membalas.
Kami tertidur lagi menjelang subuh, terbaring di atas karpet ruang tamu dengan bantal-bantal yang berserakan di sekeliling kami, tangannya masih menggenggam ujung bantal terakhir yang tidak sempat ia lemparkan.
Hari-hari pertama berjalan seperti mimpi yang terlalu indah untuk dicurigai. Kami berjalan kaki menyusuri pantai Santa Monica pada pagi hari, ketika pasirnya masih dingin dan para pelari pagi melintas dengan anjing-anjing mereka. Kami naik bus ke pasar petani di hari Sabtu dan Tari menawar harga alpukat dengan bahasa Inggris yang patah-patah dan senyum yang membuat penjualnya akhirnya memberikan dua alpukat tambahan secara cuma-cuma. Kami menemukan sebuah toko kecil milik keluarga Indonesia di sebuah jalan di West Covina, dua jam naik bus, yang menjual tempe beku, kecap manis, dan terasi. Tari memeluk sebungkus tempe beku itu di dada seperti memeluk bayi.