I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #30

Prioritas dalam Hidupku

Balasan Rasyid datang pukul enam pagi waktu Los Angeles, ketika Tari masih tertidur dan langit di luar jendela baru mulai memucat. Aku membacanya di balkon dengan kaki telanjang di lantai yang dingin, ditemani suara burung camar dan deru mobil-mobil pertama di jalan bawah.

Pak Bagas sudah konfirmasi. Salma dan Asyifa masuk ke Amerika dua minggu lalu, transit lewat Singapura dan Seoul. Ada satu hal lagi, Ndra. Informan Pak Bagas bilang Hartono juga terlihat di Los Angeles. Di lingkungan komunitas Asia di sekitar Alhambra. Pak Bagas sudah mengirim kabar ke LAPD lewat Interpol, tapi prosesnya lambat. Jangan lakukan apa pun. Kamu sudah cerita ke Tari?

Aku membaca pesan itu tiga kali. Hartono. Di kota yang sama. Mungkin hanya beberapa puluh kilometer dari balkon tempat aku berdiri.

Aku mengetik balasan. Belum. Nanti. Lalu aku menghapusnya dan mengetik lagi. Belum. Aku mau dia menikmati bulan madunya dulu. Aku menatap kalimat itu lama, lalu mengirimkannya sebelum aku sempat berubah pikiran.

Balasan Rasyid datang hampir seketika. Hanya satu kata.

Ndra.

Aku tahu apa artinya kata itu. Aku mengenal Rasyid sepuluh tahun. Kata itu berarti kamu sedang melakukan kesalahan, kamu tahu kamu sedang melakukan kesalahan, dan aku terlalu sayang padamu untuk berpura-pura tidak melihatnya. Aku mematikan layar ponsel dan menatap laut.

Di belakangku, pintu balkon bergeser terbuka. Tari berdiri di sana dengan rambut berantakan dan mata yang masih setengah terpejam, memeluk dirinya sendiri karena udara pagi yang dingin.

“Kamu bangun pagi banget,” katanya dengan suara serak. “Ada apa?”

Aku memasukkan ponsel ke saku celana.

“Aku mau ngajak kamu jalan-jalan,” kataku. “Keluar dari kota. Ke utara, menyusuri pantai. Dua atau tiga hari.”

Itu bukan bohong. Aku memang ingin mengajaknya pergi. Aku hanya tidak mengatakan bahwa aku ingin membawanya sejauh mungkin dari kota yang tiba-tiba terasa penuh dengan wajah-wajah dari masa lalu kami.

 

Aku menyewa sebuah mobil kecil berwarna putih dan kami berangkat sebelum pukul delapan, menyusuri Pacific Coast Highway ke arah utara. Jalan itu berkelok-kelok di antara tebing dan laut, dengan Samudra Pasifik terbentang di sebelah kiri kami seperti hamparan kain biru yang tidak berujung. Di beberapa tempat, jalan menempel begitu dekat ke tepi tebing sampai Tari menahan napas dan mencengkeram lenganku.

Kami berhenti di Malibu untuk sarapan di sebuah warung kecil di pinggir jalan yang menjual roti lapis telur dan kopi dalam gelas kertas. Kopinya terlalu pahit. Tari mencicipnya, mengernyit, dan menyodorkan gelasnya padaku.

“Kopi di sini nggak ada yang biasa aja, ya,” katanya.

“Cuma kopimu yang biasa aja.”

Ia tertawa dan mencubit lenganku.

Menjelang siang, pemandangan berubah. Gedung-gedung dan rumah-rumah pantai yang mewah perlahan menghilang, digantikan bukit-bukit hijau keemasan yang menurun curam ke laut, hutan-hutan pohon cemara yang gelap, dan kabut tipis yang bergulung di atas air. Ponselku kehilangan sinyal di suatu tempat setelah San Simeon, dan entah kenapa, aku merasa lega.

Big Sur. Aku pernah membaca tentang tempat ini di sebuah majalah perjalanan di ruang tunggu bank, bertahun-tahun lalu, ketika aku masih menunggu pinjaman untuk rumah kos pertamaku. Aku ingat menatap foto-fotonya dan berpikir bahwa tempat seperti itu hanya ada untuk orang-orang dengan kehidupan yang berbeda dari hidupku.

Kami berhenti di jembatan Bixby, jembatan beton yang melengkung tinggi di atas ngarai, dan Tari berdiri di tepi jalan dengan mulut setengah terbuka. Kami berhenti di McWay Falls, air terjun kecil yang jatuh langsung dari tebing ke pantai berpasir yang tidak bisa dijangkau manusia, dan ia memotretnya puluhan kali. Kami berhenti di sebuah teluk kecil yang sepi, dan ia melepas sepatu, menggulung ujung celana, dan berlari ke air yang dinginnya membuat ia menjerit.

Aku memperhatikannya dari atas batu. Rambutnya yang terurai diterbangkan angin. Tawanya bergema di antara tebing-tebing. Ia berlari kembali ke arahku dengan kaki yang memerah karena air dingin, dan memelukku dengan tubuh yang menggigil.

“Kamu diem terus dari tadi,” katanya di dadaku.

“Aku menikmati pemandangan.”

“Pemandangannya di sana.” Ia menunjuk laut. “Kamu dari tadi ngelihatin aku.”

“Kamu juga pemandangan.”

Ia menarik diri dan menatapku dengan mata yang menyipit curiga. Lalu ia tertawa, menggeleng-geleng, dan menarikku turun ke pantai. Namun di matanya, sesaat sebelum tawa itu datang, aku melihat sesuatu yang pernah kulihat di bukit di belakang vila. Pertanyaan yang tidak diucapkan.

-II-

Kami menemukannya di sebuah tikungan yang sepi, setengah jam sebelum matahari terbenam. Sebuah mobil SUV berwarna abu-abu terparkir miring di bahu jalan yang sempit, ban belakang kirinya kempis sampai velg hampir menyentuh aspal. Seorang perempuan berdiri di sampingnya, menatap ponsel dengan wajah frustrasi, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara seperti orang yang sedang berdoa memohon sinyal. Di tikungan seperti itu, di antara tebing dan laut, sinyal adalah sesuatu yang lebih langka daripada air di gurun.

Lihat selengkapnya