I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #31

Sesuatu yang Mengejutkan

Tari bangun lebih dulu daripada aku keesokan paginya. Itu tidak pernah terjadi selama kami menikah. Ketika aku membuka mata, sisi ranjangnya sudah dingin, dan dari dapur terdengar bunyi air mendidih di dalam ceret.

Ia sedang berdiri di depan jendela dapur ketika aku keluar dari kamar, memegang cangkir dengan kedua tangan, menatap atap-atap gedung di seberang jalan. Ia sudah mandi dan berpakaian, kerudungnya sudah terpasang rapi. Di meja makan, secangkir kopi sudah menungguku di sisi kanan piring, gagangnya menghadap ke tanganku. Namun ia tidak menoleh ketika aku mengucapkan selamat pagi.

“Pagi,” jawabnya kepada jendela.

Aku duduk dan menyesap kopiku. Tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis. Biasa saja. Namun pagi itu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, kopi itu terasa dingin, walaupun uapnya masih mengepul.

“Kamu mau ke mana hari ini?” tanyaku, mencoba terdengar riang. “Masih ada beberapa tempat yang belum kita datangi. Kanal-kanal di Venice. Observatorium di bukit. Kamu bilang mau lihat tulisan Hollywood dari dekat.”

Tari diam sebentar. Lalu ia meletakkan cangkirnya di ambang jendela dan berbalik menghadapku.

“Andra, aku mau tanya sekali lagi,” katanya pelan. “Dan aku mau kamu jawab jujur.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari aku?”

Kata-kata itu sudah ada di sana. Di ujung lidahku, sejak malam di restoran. Aku hanya perlu membuka mulut dan membiarkannya keluar. Namun ketika aku menatap wajahnya, matanya yang lelah karena kurang tidur, bibirnya yang sedikit bergetar, aku melihat lagi perempuan yang duduk di kursi kayu di gudang tua dengan mata tertutup kain hitam. Aku melihat perempuan yang berlutut di samping tubuhku di dermaga Tanjung Priok. Aku tidak sanggup menjadi alasan ketakutan itu kembali ke matanya.

“Tidak,” kataku.

Tari menatapku lama. Lalu ia mengangguk sekali, mengambil cangkirnya lagi, dan berbalik menatap jendela.

“Oke,” katanya. “Kita ke Venice.”

 

Kanal-kanal di Venice Beach ternyata jauh lebih tenang daripada pantainya. Rumah-rumah kecil berwarna-warni berdiri berjajar di sepanjang air yang hijau dan diam, dengan jembatan-jembatan kayu melengkung yang menghubungkan satu sisi dengan sisi lainnya. Bebek-bebek berenang malas di bawah perahu-perahu kecil yang ditambatkan di dermaga pribadi. Bunga-bunga bugenvil merah muda menjuntai dari pagar-pagar kayu.

Tari memotret semuanya, seperti biasa. Namun ia lebih banyak diam daripada biasanya. Ketika aku menggandeng tangannya, ia tidak menarik tangannya, tetapi ia juga tidak membalas genggamanku. Jari-jarinya terkulai lemas di dalam telapak tanganku seperti daun yang layu.

Kami berjalan menyusuri kanal sampai ke ujung, lalu memutar ke arah pantai, ke jalan setapak panjang yang ramai oleh pemain sepatu roda, seniman jalanan, dan penjual-penjual cendera mata. Bau ganja yang samar bercampur dengan bau laut dan gorengan. Seorang lelaki bertelanjang dada memainkan gitar listrik dengan pengeras suara yang terlalu keras. Seorang perempuan tua melukis wajah anak-anak dengan cat warna-warni.

Di sebuah kios kecil di pinggir jalan setapak, Tari berhenti dan menatap papan menu dengan tulisan tangan berkapur. Crepes.

“Itu apa?”

“Semacam dadar tipis. Diisi cokelat, pisang, atau stroberi.”

“Kayak martabak manis?”

“Kayak martabak manis yang kurus.”

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibirnya bergerak. Hanya sedikit. Namun cukup untuk membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Aku memesan dua, satu cokelat pisang dan satu stroberi. Kami duduk di bangku kayu di depan kios itu, menghadap ke pantai yang luas, dan Tari mencicipi crepes cokelat pisangnya dengan hati-hati, lalu dengan lebih bersemangat.

“Martabak Pak Haji di Cempaka Putih lebih enak,” katanya dengan mulut penuh.

“Martabak Pak Haji pakai mentega satu kilo.”

“Justru itu enaknya.”

Aku tertawa. Ia tersenyum lebih lebar. Untuk sesaat yang singkat, di bangku kayu di pinggir pantai Venice dengan cokelat leleh di jari-jari kami, semuanya terasa normal lagi. Aku mulai berpikir bahwa mungkin, kalau aku cukup hati-hati, kami bisa menghabiskan sisa bulan madu ini tanpa harus menyebut nama-nama itu.

Lalu sebuah bayangan jatuh di atas bangku kami.

“Mas Andra.”

 

Asyifa berdiri di depan kami dengan gamis abu-abu longgar dan kerudung cokelat yang sama dengan yang ia pakai di restoran. Tanpa kacamata hitam kali ini. Wajahnya pucat dan sembap, dan matanya yang dulu selalu dihiasi bulu mata palsu kini tampak telanjang dan merah, seperti mata seseorang yang sudah berhari-hari tidak tidur. Satu tangannya menopang perutnya yang sangat besar. Tangan yang lain mencengkeram tali tas kecil di bahunya.

Tari membeku di sampingku. Crepes di tangannya berhenti di udara. Aku berdiri, menempatkan tubuhku di antara Asyifa dan Tari tanpa berpikir. Dulu Asyifa mencengkeram dagu Tari dengan kuku-kuku merahnya. Dulu Asyifa berdiri di depan kamera dan menuduhku menghamilinya. Aku tidak tahu apa yang ia inginkan kali ini.

“Asyifa. Kamu mau apa?”

“Lima menit.” Suaranya kecil dan bergetar, sama sekali tidak seperti suara manja dan tinggi yang dulu kukenal. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, ke arah jalan setapak yang ramai, seperti orang yang takut dibuntuti. “Aku cuma butuh lima menit. Tolong. Habis itu aku pergi.”

Aku menoleh kepada Tari. Ia sudah meletakkan crepes-nya di atas bangku. Wajahnya pucat, tetapi matanya tidak menghindar. Ia menatap Asyifa lama, lalu menatap perut besar Asyifa, lalu menatapku.

Ia menggeser duduknya ke ujung bangku, memberi ruang.

“Duduk, Bu,” katanya kepada Asyifa. “Ibu kelihatan capek.”

Asyifa menatap Tari dengan mata yang membulat, seolah tidak percaya. Lalu bibirnya bergetar, dan ia duduk perlahan di ujung bangku yang lain, dengan gerakan berat seorang perempuan yang sudah memasuki bulan kedelapan kehamilan. Aku tetap berdiri.

Lama sekali Asyifa tidak bicara. Ia hanya menatap pantai di depan kami, menarik napas yang pendek-pendek.

Lihat selengkapnya