I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #32

Terjebak Canggung

Pintu kamar itu tetap tertutup sampai pagi. Aku tidur di sofa ruang tamu, kalau berbaring dengan mata terbuka sampai subuh bisa disebut tidur. Sofa itu terlalu pendek untuk tubuhku, dan setiap kali aku bergerak, pegasnya berderit seperti mengeluh. Dari balik dinding, aku mendengar Tari terbangun beberapa kali. Langkah kakinya ke kamar mandi. Bunyi keran. Lalu sunyi lagi. Sekali, menjelang pukul tiga, aku mendengar sesuatu yang lebih pelan daripada langkah kaki, sesuatu yang membuatku duduk tegak di sofa dan menatap pintu itu lama sekali. Isak yang ditahan di balik bantal. Aku tidak mengetuk. Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan seandainya ia membukakan pintu.

Ketika azan subuh berkumandang dari aplikasi di ponselku, aku mengambil wudu dan salat di ruang tamu, menghadap dinding yang kutebak sebagai arah kiblat. Setelah salam, aku tidak langsung berdiri. Aku duduk di atas sajadah dan menatap kedua tanganku, dan aku tidak tahu harus berdoa untuk apa.

Pintu kamar terbuka ketika aku masih duduk di sana. Tari keluar dengan mukena putih dari maharnya, wajahnya sembap, matanya bengkak. Ia melihatku di atas sajadah. Ia ragu sebentar. Lalu ia menggelar sajadahnya sendiri di belakangku, sedikit ke kanan, dan salat sendirian.

Ia tidak meminta aku menjadi imamnya. Aku tidak berani menawarkan. Dua orang yang berdoa kepada Tuhan yang sama, di ruangan yang sama, dengan jarak satu meter di antara mereka. Aku tidak pernah merasa sejauh itu dari seseorang.

 

Kami tidak bicara sepanjang pagi. Tari membuat sarapan, dan ia tetap meletakkan secangkir kopi di sisi kanan piringku dengan gagang menghadap ke tanganku, seolah kebiasaan itu terlalu dalam untuk dibatalkan hanya karena ia marah. Aku meminumnya. Aku menghabiskannya. Ia tidak melihat.

Ia membersihkan apartemen dengan kecepatan yang tidak wajar. Menyapu lantai yang sudah bersih. Mengelap meja yang tidak berdebu. Mencuci piring-piring yang sudah dicuci semalam. Aku mengenali kegelisahan itu. Dulu, di tahun-tahun pertama setelah banjir, aku juga bekerja seperti itu, mengaduk semen sampai tanganku melepuh, karena berhenti bergerak berarti harus berpikir, dan berpikir berarti harus merasakan.

Aku mencoba bicara sekali, menjelang siang, ketika ia sedang memotong sayuran untuk makan siang.

“Tari, soal semalam ....”

“Penerbangannya kapan?” potongnya tanpa menoleh.

“Tiga hari lagi. Transit di Taipei.”

Ia mengangguk dan terus memotong. Pisaunya bergerak lebih cepat. Wortel. Buncis. Kentang. Lalu, tanpa peringatan, pisau itu tergelincir dari permukaan kentang yang licin.

“Aw!”

Darah mengalir dari ujung jari telunjuk kirinya, merah dan mengejutkan di atas talenan kayu yang pucat. Tari menatapnya dengan mata yang membulat, seolah tidak percaya pada tangannya sendiri. Lalu, dengan cara yang sangat lambat, bibirnya mulai bergetar.

Aku sudah berdiri sebelum ia sempat berkata apa-apa. Aku meraih tangannya, menariknya ke bawah keran, dan membiarkan air dingin mengalir di atas lukanya. Lukanya tidak dalam. Namun ia menangis, tiba-tiba dan keras, dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan luka sekecil itu.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku membersihkan lukanya, mencari kotak obat di lemari kamar mandi yang untungnya disediakan Pak Abdi, menekan kapas antiseptik di ujung jarinya, dan membalutnya dengan plester bergambar bintang kecil yang mungkin dulu milik cucu Pak Abdi. Tari tidak menarik tangannya. Ia hanya berdiri di sana dan membiarkanku mengurusnya, sambil menangis, dan aku merasakan tangannya yang lain mencengkeram ujung kausku.

Ketika plester itu terpasang, aku tidak melepaskan tangannya. Aku mengangkatnya ke bibirku dan mencium ujung jari yang terbalut plester bintang itu, pelan.

“Maaf,” kataku. “Aku minta maaf, Tari.”

Tangisnya mereda. Ia menatap jari telunjuknya yang dibalut plester bergambar bintang, lalu menatapku dengan mata yang merah dan basah.

“Aku nggak tahu harus gimana sama kamu,” katanya serak. “Aku sayang banget sama kamu, Andra. Tapi aku capek. Aku capek nebak-nebak kamu lagi jujur atau nggak.”

Aku tidak bisa menjawab. Tidak ada jawaban yang tidak terdengar seperti janji lagi, dan aku sudah kehabisan hak untuk berjanji. Maka ia menarik tangannya perlahan, berbalik ke talenan, dan melanjutkan memotong sayuran dengan sangat hati-hati, dengan sembilan jari.

 

Kami makan siang dalam diam. Sayur sop dengan kentang yang dipotong tidak rata, dan tempe goreng yang sedikit gosong di pinggirnya. Tari tidak menyentuh makanannya lebih dari beberapa suap.

Sore harinya, Mrs. Gallagher mengetuk pintu seperti biasa, membawa sepiring kue jahe yang ia panggang sendiri sebagai balasan untuk semua sayur asem yang pernah ia terima. Ia melihat wajah Tari, lalu wajahku, dan dengan kebijaksanaan seorang perempuan yang sudah menjanda selama dua puluh tahun, ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menyentuh pipi Tari dengan tangannya yang keriput dan berkata pelan, dalam bahasa Inggris yang lembut dan lambat supaya Tari mengerti.

“First year is the hardest, dear. Mine was terrible. Forty-one years we had, after that.”

Tari tersenyum kepadanya, senyum yang kecil dan sedih, dan berterima kasih. Ketika pintu tertutup lagi, Tari membawa piring kue jahe itu ke meja, duduk, dan menatapnya lama tanpa menyentuhnya.

“Empat puluh satu tahun,” gumamnya.

Aku duduk di kursi di seberangnya. Di antara kami, kue-kue jahe berbentuk bulan sabit berjajar di atas piring porselen bergambar bunga.

Lihat selengkapnya