I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #33

Tanpa Hadirnya

Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari hotel itu. Aku hanya ingat lorong-lorong berkarpet merah tua yang terlalu panjang, lift yang terlalu lambat, dan tatapan resepsionis di lobi yang melirik kemejaku yang kehilangan dua kancing. Aku hanya ingat berdiri di trotoar di bawah matahari pagi Westwood yang pucat, menelepon Tari berulang-ulang dan mendengar suara perempuan asing yang sama memberitahuku bahwa nomor itu tidak aktif.

Taksi yang membawaku pulang terjebak macet di Wilshire Boulevard selama dua puluh menit. Selama dua puluh menit itu, aku menatap ponsel di tanganku dan tidak berani membuka gambar yang diteruskan Tari. Ibu jariku melayang di atasnya beberapa kali. Lalu aku mematikan layar dan menatap jendela.

Aku tidak perlu melihat foto itu. Aku tahu persis apa yang dilihat Tari ketika ia membukanya pukul enam lewat empat puluh lima pagi setelah semalaman menungguku pulang.

-II-

Pintu apartemen tidak terkunci.

Aku mendorongnya dengan tangan yang gemetar, dan aku langsung tahu sebelum aku sempat masuk. Apartemen itu sangat sunyi. Tidak ada bunyi ceret di dapur. Tidak ada wangi bawang putih. Tidak ada lagu dangdut yang disenandungkan dengan sumbang.

Kopernya tidak ada di sudut kamar. Mukena putih dan sajadah dari maharnya tidak ada di atas kursi. Sikat giginya tidak ada di gelas di samping wastafel. Lemari setengah terbuka, dan separuhnya kosong.

Di atas meja makan, piring kue jahe dari Mrs. Gallagher masih ada di tempatnya, utuh, tidak disentuh. Di sampingnya, secarik kertas yang kutulis semalam masih tergeletak. Aku keluar sebentar cari udara. Nanti aku pulang. Jangan khawatir. Di bawah tulisanku, dengan tulisan tangan yang kecil dan rapi yang sangat kukenal, ada satu baris tambahan.

Kamu nggak pulang.

Hanya itu. Tidak ada tanda seru, tidak ada makian, tidak ada tuduhan. Hanya tiga kata yang ditulis dengan pena yang ditekan begitu keras sampai kertasnya hampir robek.

Di samping kertas itu, cangkir kopiku. Isinya penuh dan sudah dingin, permukaannya diselimuti selaput tipis. Ia membuatkanku kopi pagi ini. Ia meletakkannya di sisi kanan piring dengan gagang menghadap ke tempat tanganku seharusnya berada. Lalu ia pergi.

Aku duduk di kursi di depan cangkir itu dan tidak bisa bergerak.

 

Mrs. Gallagher mengetuk pintu setengah jam kemudian. Ia berdiri di ambang pintu dengan jubah kamar berwarna merah muda dan rol rambut di kepala, menatapku dengan mata birunya yang pucat dan tajam.

“She left at six-thirty,” katanya sebelum aku sempat bertanya. “With her suitcase. A woman picked her up in a blue car. Indonesian, I think. Short hair.”

“Did she say where?”

Mrs. Gallagher menggeleng. Lalu ia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemejaku yang kehilangan kancing, bekas lipstik yang masih samar di leherku karena aku belum sempat membasuhnya, dan sesuatu di wajahnya berubah. Bukan jijik. Lebih mirip kekecewaan seorang nenek.

“She was crying,” katanya pelan. “She knocked on my door at five in the morning, asking if I'd seen you. She sat in my kitchen for an hour and didn't say anything. Then she showed me something on her phone and started shaking.”

“It's not what it looks like.”

Mrs. Gallagher menatapku lama. Ia sudah hidup tujuh puluh lebih tahun di dunia ini, dan ia pasti sudah mendengar kalimat itu ratusan kali.

“Then you'd better prove it, young man,” katanya. “Because that girl loves you more than she loves herself. I saw it the first night you two moved in.”

Ia menutup pintu. Aku berdiri di lorong apartemen yang sunyi dan merasa seperti dihukum oleh seorang guru yang benar.

 

Rasyid mengangkat telepon pada dering pertama. Di Jakarta sudah malam.

“Kamu di mana semalam?” Suaranya tidak keras, tetapi aku belum pernah mendengarnya sedingin itu. “Tari meneleponku pukul satu pagi waktu sana. Menangis. Aku harus bilang kamu ke Westwood, karena aku tidak mau ikut berbohong. Kamu tahu bagaimana rasanya harus bilang itu ke dia, Ndra?”

Aku menceritakan semuanya. Hendrik Sitompul yang menunggu dengan dua cangkir kopi. Tas kulit yang isinya hanya koran. Kopi yang pahit seperti logam. Tiga perempuan yang memapahku ke lift. Kamar hotel. Foto. Rasyid diam lama sekali.

“Hendrik Sitompul memang pernah jadi akuntan Hartono,” katanya akhirnya. “Itu benar. Yang tidak aku tahu, dia ternyata tidak pernah bertengkar dengan Salma. Atau kalau pernah, mereka sudah berbaikan. Surel yang dia kirim ke aku itu umpan, dan aku yang meneruskannya ke kamu.” Suaranya pecah sedikit. “Ini salahku juga.”

Lihat selengkapnya