I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #34

Badai Selanjutnya

Aku pasti tertidur di suatu saat menjelang subuh, karena yang kuingat berikutnya adalah sesuatu yang hangat dan berat diletakkan di atas bahuku. Selimut wol tebal bermotif kotak-kotak merah dan hijau, yang baunya seperti pelembut pakaian dan sesuatu yang lain, sesuatu yang sangat kukenal, yaitu sabun dan bedak bayi.

Aku membuka mata. Langit di timur sudah memucat. Embun membasahi rumput di halaman dan menetes dari daun-daun pohon jeruk di atasku. Lampu-lampu jalan masih menyala, tetapi cahayanya mulai kalah oleh fajar.

Tari duduk di tepi trotoar di sampingku, cukup jauh untuk tetap sopan, cukup dekat untuk membuatku tidak merasa sendirian. Persis seperti malam di sofa di kantor, ketika ia meletakkan segelas air di depanku setelah Asyifa menamparku. Ia memakai jaket Nawang yang kebesaran dan kerudung yang dililit asal-asalan. Matanya bengkak dan merah. Di tangannya, ponselku, layarnya gelap. Kami tidak bicara untuk waktu yang lama. Seekor burung bernyanyi di atap rumah sebelah. Di kejauhan, sebuah truk sampah berbunyi bip-bip-bip ketika mundur.

“Aku udah lihat videonya,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “Semuanya. Tiga kali.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu tahu yang paling bikin aku sakit?” Ia menatap ponsel di tangannya. “Bukan fotonya. Aku lihat foto itu jam enam pagi, dan aku udah tahu itu nggak bener. Aku kenal kamu, Andra. Kamu orang yang nggak pernah megang tangan perempuan lain delapan tahun karena satu kalimat. Kamu nggak mungkin kayak gitu.” Air matanya mulai jatuh. “Yang bikin aku sakit itu, aku nggak tahu kamu di mana. Semalaman. Aku duduk di dapur Mrs. Gallagher, dan aku mikir, ya Allah, jangan-jangan dia di dermaga lagi. Jangan-jangan dia ketembak lagi. Jangan-jangan kali ini aku nggak sempet nemuin dia.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Aku pergi ke rumah Nawang bukan karena aku percaya foto itu,” lanjutnya, lebih pelan. “Aku pergi karena aku nggak sanggup duduk di apartemen itu lagi, nungguin kamu pulang, nggak tahu kamu bakal pulang atau nggak. Aku udah pernah nunggu kayak gitu. Di samping ranjang Arman. Di samping ranjangmu. Aku nggak mau jadi istri yang kerjanya cuma nunggu.”

“Maafkan aku.” Suaraku pecah. “Aku tidak akan bilang aku melakukannya untukmu. Kamu benar. Aku pergi karena aku masih ingin menang. Aku masih ingin Salma dan Hartono membayar. Dan aku tahu kalau aku bilang ke kamu, kamu akan minta aku tidak pergi.”

“Iya,” katanya. “Aku pasti minta kamu nggak pergi.”

“Dan aku akan tetap pergi.”

Ia menoleh padaku, kaget. Aku memaksa diriku menatap matanya.

“Itu yang paling jujur yang bisa aku katakan, Tari,” kataku. “Aku tidak tahu caranya berhenti. Sepuluh tahun aku hidup dengan cara menunjukkan kepada orang-orang yang menyakitiku bahwa mereka salah. Itu satu-satunya hal yang membuatku bangun setiap pagi. Aku tidak tahu siapa aku kalau aku berhenti melakukannya.”

Tari menatapku lama sekali. Embun menetes dari daun jeruk di atas kepala kami, jatuh di kerudungnya.

“Kamu suamiku,” katanya pelan. “Itulah kamu. Kamu orang yang menikmati kopi biasa aja seperti kopi terbaik di dunia. Kamu orang yang nulis puisi diem-diem. Kamu orang yang duduk di trotoar semalaman di depan rumah orang yang nggak kamu kenal, cuma buat nungguin aku.” Ia meraih tanganku. Jarinya dingin. “Kamu nggak perlu ngalahin siapa-siapa lagi buat jadi orang itu, Andra.”

Aku menangis. Di tepi trotoar di Torrance, pada pukul enam pagi, dengan selimut wol milik orang asing di bahuku. Tari tidak berkata apa-apa. Ia menarik kepalaku ke bahunya dan membiarkanku menangis, seperti di pantai Anyer dulu.

 

Ketika matahari sudah naik dan Nawang memanggil kami masuk untuk sarapan, Tari menahanku di ambang pintu.

“Ada syaratnya,” katanya.

“Apa saja.”

Ia mengangkat tiga jari, dan aku melihat plester bergambar bintang masih membalut ujung telunjuknya.

“Satu. Semua yang kamu tahu soal Salma dan Pak Hartono, kamu kasih ke Monic sama Pak Bagas. Hari ini. Semuanya. Kamu nggak nyimpen apa-apa lagi, nggak nyari apa-apa lagi.”

“Iya.”

“Dua. Kita pulang. Penerbangan yang udah kamu pesan. Nggak ada yang ditunda.”

“Iya.”

“Tiga.” Jarinya yang terakhir bergetar sedikit. “Kalau kamu mau pergi ke mana pun, ke mana aja, kamu bilang aku. Bukan buat minta izin. Aku bukan bos kamu. Tapi supaya aku tahu harus nyari kamu di mana kalau kamu nggak pulang.”

Aku meraih tangannya yang terangkat dan menggenggamnya, tiga jari itu dan semuanya.

“Aku tidak akan bilang janji,” kataku. “Kata itu sudah terlalu sering kupakai. Tapi kamu boleh menagih ketiga-tiganya kapan pun. Setiap hari kalau perlu.”

Ia tersenyum kecil. “Aku bakal nagih tiap hari.”

“Aku tahu.”

Lalu, sebelum ia masuk, ia merogoh saku jaket Nawang yang kebesaran dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah benda kecil berwarna putih dan biru, panjang dan tipis, seperti termometer.

“Satu lagi,” katanya, dan suaranya tiba-tiba sangat pelan dan sangat gemetar. “Aku mau bilang ini kemarin pagi. Waktu kamu pulang. Aku udah nyiapin kopi, aku udah nyiapin kata-katanya. Tapi kamu nggak pulang.”

Ia meletakkan benda itu di telapak tanganku. Di jendela kecil di tengahnya ada dua garis merah muda. Satu tebal. Satu lagi tipis, samar, tetapi ada.

Aku menatap dua garis itu. Lalu aku menatap Tari. Lalu dua garis itu lagi.

Lihat selengkapnya