I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #35

Kalang Kabut

Aku berdiri di puncak bukit di belakang vila di Anyer, di bawah pohon ketapang tua yang dahan-dahannya melebar seperti payung. Aku tahu itu mimpi. Aku tahu dari cara angin bertiup tanpa suara, dari laut di bawah sana yang tidak berdebur, dari ilalang setinggi pinggang yang bergoyang tetapi tidak bergesekan. Aku tahu dari kakiku yang menapak tanah dengan ringan, seolah tubuhku tidak lagi memiliki berat. Laut di kaki bukit itu berwarna jingga. Matahari sedang tenggelam. Senja.

Di ujung jalan setapak yang menurun ke arah pantai, tiga sosok berdiri membelakangiku. Seorang lelaki dengan kopiah hitam dan punggung yang sedikit bungkuk. Seorang perempuan dengan kerudung putih yang ujungnya diterbangkan angin. Seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua, melompat-lompat kecil di antara mereka.

Aku mengenal punggung-punggung itu. Aku sudah sepuluh tahun tidak melihatnya, tetapi aku mengenalnya lebih baik daripada wajahku sendiri.

“Bapak,” panggilku. Suaraku tidak keluar. “Ibu. Laras.”

Mereka tidak menoleh. Mereka mulai berjalan menuruni jalan setapak, pelan, ke arah laut yang jingga. Laras berlari kecil di depan, kepangnya berayun-ayun. Aku ingin mengejar mereka. Aku ingin berlari menuruni bukit itu dan memeluk mereka, dan bertanya kenapa mereka tidak menungguku dulu, kenapa aku tidak sempat pulang sebelum hujan tiga hari tiga malam itu. Kakiku sudah bergerak. Jalan setapak itu terasa sangat mudah untuk dituruni.

“Andra.”

Suara itu datang dari belakangku. Pelan dan gemetar. Maka aku berhenti. Di depanku, ketiga sosok itu semakin jauh, semakin kecil, semakin dekat dengan senja yang sedang sirna. Di belakangku, suara itu memanggil lagi.

“Andra, pulang. Aku di sini. Pulang.”

Aku menoleh. Di atas bukit, langit di sisi timur sudah biru gelap, dan di atasnya bulan menggantung, hampir penuh, pucat dan tenang. Rembulan. Ketika aku berbalik lagi ke arah laut, jalan setapak itu sudah kosong. Senja sudah lenyap. Hanya tinggal laut yang mulai gelap dan bulan yang memantul di permukaannya.

Aku berjalan kembali ke puncak bukit, menuju suara itu.

-II-

Bunyi mesin. Lagi. Pelan, teratur, berdetak seperti jam yang sabar. Bau antiseptik yang tajam dan dingin. Lampu putih di langit-langit, sangat terang. Aku mengenal semua ini. Aku sudah sangat mengenalnya. Sesuatu yang hangat di tangan kananku. Aku membuka mata dengan susah payah. Tari duduk di kursi di samping ranjang, membungkuk, kedua tangannya menggenggam tanganku, dahinya bersandar di punggung tanganku. Ia tidak tidur. Aku tahu dari bahunya yang naik turun tidak teratur dan dari bisikan pelan yang keluar dari bibirnya, berulang-ulang, seperti doa.

“Pulang. Pulang. Pulang.”

Aku menggerakkan jari-jariku di dalam genggamannya. Tari mengangkat kepala. Wajahnya. Ya Allah, wajahnya. Matanya bengkak sampai hampir tertutup. Bibirnya pecah-pecah. Kerudungnya miring, dan beberapa helai rambut lepas dan menempel di pipinya yang basah. Ia masih memakai kardigan abu-abu yang ia pakai pada malam terakhir di apartemen, ketika ia memintaku membelikan mangga muda.

Ia menatapku lama, seperti tidak percaya. Lalu ia tidak menangis. Ia tersenyum, senyum yang paling lelah dan paling indah yang pernah kulihat, dan berkata dengan suara yang hampir hilang.

“Kamu pulang.”

“Mangganya,” kataku. Suaraku serak seperti amplas. “Maaf. Mangganya jatuh.”

Ia tertawa. Tawa yang pecah di tengah jalan dan berubah jadi isak. Ia menunduk lagi dan menempelkan dahinya di tanganku, dan bahunya berguncang, dan aku merasakan air matanya di kulitku untuk kesekian kalinya sejak aku mengenalnya.

“Bodoh,” isaknya. “Kamu bodoh banget, Andra. Mangga.”

 

Aku tidak sadarkan diri selama tiga hari. Tari menceritakannya pelan-pelan, sepotong-sepotong, dengan jeda yang panjang di antara setiap potongan. Ia menelepon ponselku dua puluh satu menit setelah aku pergi, satu menit setelah batas yang kujanjikan. Yang mengangkat bukan aku, tetapi Monic, yang sudah tiba di tempat kejadian karena sedang tersambung denganku ketika SUV itu menabrakku. Petugas di lobi gedung mengantar Tari ke minimarket itu dalam waktu empat menit. Ia sampai tepat ketika ambulans membawaku pergi.

“Aku lihat mangganya,” katanya, menatap selimut di atas kakiku. “Di aspal. Tiga. Aku pungutin satu-satu sambil nunggu mobil polisi nganterin aku ke rumah sakit. Aku nggak tahu kenapa. Polisinya bingung lihat aku.”

Rumah sakit itu Ronald Reagan UCLA, salah satu yang terbaik di kota itu, kata Monic, yang mengurus semua hal yang tidak bisa diurus seorang istri yang tidak fasih berbahasa Inggris pada pukul sepuluh malam di negeri orang. Aku dioperasi selama tujuh jam. Pak Abdi Jaya menelepon dari Jakarta begitu mendengar kabar dari Rasyid dan memastikan seluruh biaya ditanggung asuransi perjalanan yang ternyata sudah ia belikan untuk kami tanpa memberi tahu.

Rasyid terbang dari Jakarta keesokan harinya. Ia sedang tidur di hotel di seberang rumah sakit sekarang, setelah dua malam tidak tidur menemani Tari di ruang tunggu.

“Dan kandunganmu?” tanyaku. Itu pertanyaan pertama yang terlintas di kepalaku, dan yang paling kutakutkan jawabannya.

Tari menyentuh perutnya. “Dia baik-baik aja. Dokter di sini udah periksa. Dia kuat.” Ia tersenyum kecil. “Kayak bapaknya. Keras kepala.”

Aku memejamkan mata dan mengucap syukur dengan bibir yang bergetar. Lalu aku mencoba menggerakkan kakiku. Perintah itu berangkat dari kepalaku, menuruni leher, melewati dada, melewati pinggang, lalu berhenti. Aku menatap ujung selimut putih di kaki ranjang, di tempat kedua kakiku seharusnya berada. Selimut itu tidak bergerak.

Aku mencoba lagi. Lebih keras. Aku memusatkan seluruh pikiranku pada ibu jari kaki kanan, satu jari saja, jari yang dulu terantuk batu di jalan setapak menuju rumah kami di Garut ketika aku berumur tujuh tahun dan menangis sampai Bapak menggendongku pulang.

Gerak. Gerak. Gerak.

Lihat selengkapnya