Tiga minggu kemudian, aku pulang ke Jakarta dengan kursi roda. Dokter Halvorsen tidak mengizinkanku terbang lebih cepat dari itu. Penyangga logam di tulang belakangku harus menyatu dulu, katanya, dan pembengkakan di sekitar saraf harus surut. Selama tiga minggu itu, aku belajar hal-hal yang tidak pernah kubayangkan harus kupelajari pada usia dua puluh delapan tahun. Cara berpindah dari ranjang ke kursi roda dengan papan geser. Cara memutar roda tanpa menggores telapak tangan. Cara meminta bantuan perawat untuk hal-hal yang dulu kulakukan sendiri tanpa berpikir, hal-hal yang membuatku ingin menghilang dari muka bumi setiap kali harus memintanya.
Tari ada di sana setiap hari. Ia belajar bersamaku. Ia mencatat semua instruksi terapis di buku catatan cokelatnya dengan tulisan tangan yang kecil dan rapi, menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, menggarisbawahi bagian-bagian yang penting. Cara mencegah luka tekan. Jadwal minum obat. Gerakan-gerakan peregangan yang harus dilakukan setiap pagi dan malam. Ia melakukan semua itu sambil menahan mual yang datang setiap pagi dan sering juga setiap sore, berlari ke kamar mandi di tengah sesi terapi dan kembali dengan wajah pucat dan senyum yang dipaksakan.
Pak Abdi Jaya mengatur penerbangan kami. Kursi kelas bisnis yang bisa direbahkan, seorang perawat yang ikut terbang bersama kami, ambulans yang menunggu di Bandara Soekarno-Hatta. Ketika aku meneleponnya untuk berterima kasih, ia hanya berkata bahwa aku bisa membayarnya kembali dengan cara menyelesaikan proyek perumahan di Bogor yang kami rencanakan bersama. Ia tidak menyebut kapan. Ia tidak menyebut bagaimana. Ia hanya berkata bahwa ia masih percaya pada orang yang teliti.
Mrs. Gallagher mengantar kami sampai ke lobi apartemen pada hari terakhir, membawa sekotak kue jahe untuk perjalanan. Ia memeluk Tari lama sekali, lalu membungkuk di depan kursi rodaku dan menatap mataku dengan mata birunya yang pucat.
“First year is the hardest,” katanya, seperti dulu. Lalu ia menepuk pipiku dengan tangannya yang keriput. “Yours just got harder. Don't you dare give up on that girl, young man.”[1]
-II-
Rumah dua kamar di Cempaka Putih punya tiga anak tangga di depan pintu.
Aku tidak pernah memperhatikannya. Selama aku tinggal di sana, tiga anak tangga itu hanya tiga anak tangga, sesuatu yang kakiku lewati tanpa perlu kupikirkan. Namun ketika ambulans berhenti di mulut gang dan perawat mendorong kursi rodaku menyusuri jalan yang tidak rata, aku melihat tiga anak tangga itu dari kejauhan dan merasa seperti melihat tembok setinggi gedung.
Lalu aku melihat papan kayu. Sebuah jalur landai dari papan-papan kayu yang dipaku rapi, dicat hijau muda, menutupi ketiga anak tangga itu dari ujung gang sampai ke depan pintu. Di kedua sisinya ada pegangan dari pipa besi yang dicat putih. Di pinggirnya, tiga pot cabai yang dulu dibawa Pak Sholeh dari Kampung Cijambu dipindahkan dengan hati-hati supaya tidak menghalangi jalan.
Damar berdiri di depan jalur landai itu dengan kemeja yang lengannya digulung dan tangan yang penuh bekas cat hijau. Di sampingnya, Pak Jaja memegang palu. Di belakang mereka, Pak Sholeh dengan kopiah putihnya, dan Bu Halimah yang sudah menangis bahkan sebelum ambulans berhenti.
“Dua hari, Pak,” kata Damar, menunjuk jalur landai itu dengan dagunya. “Pak Jaja yang ukur kemiringannya. Saya yang ngecat. Pak Sholeh yang ngawasin sambil ngomel karena katanya pakunya kurang dalam.”
“Memang kurang dalam,” gumam Pak Sholeh.
Aku tidak bisa menjawab. Aku menatap papan-papan kayu hijau itu, pegangan besi yang dicat putih, dan Damar dengan alisnya yang tebal dan bertaut, yang sudah bersamaku sejak sepetak ruko di Rawamangun dengan kipas angin yang berderit. Tenggorokanku menyempit.
Damar mendorong kursi rodaku sendiri, menaiki jalur landai itu, pelan dan hati-hati. Di depan pintu, ia berhenti dan membungkuk di sampingku.
“Selamat datang di rumah, Pak,” bisiknya.
Minggu pertama di rumah adalah minggu yang paling buruk dalam hidupku. Lebih buruk daripada minggu-minggu di tenda pengungsian di Garut. Lebih buruk daripada malam di trotoar Kelapa Gading. Lebih buruk daripada hari-hari ketika aku mengurung diri di rumah besar di Pondok Indah setelah Pak Gunawan datang ke kantorku dan bank membatalkan pembiayaan proyek Bekasi.
Di semua masa itu, aku punya satu hal yang tidak pernah hilang. Kakiku. Kemampuan untuk berdiri, berjalan, bekerja, membuktikan. Ketika semuanya runtuh, aku selalu bisa bangun dan mulai lagi dari nol, menempel selebaran, mengojek, meniup peluit. Kakiku adalah satu-satunya modal yang tidak pernah bisa diambil siapa pun dariku.
Sekarang modal itu sudah tidak ada. Aku tidak bisa ke kamar mandi sendiri. Aku tidak bisa mengambil gelas dari rak dapur yang terlalu tinggi. Aku tidak bisa melewati ambang pintu kamar tanpa roda kursiku tersangkut. Aku tidak bisa salat berdiri, dan harus salat sambil duduk di kursi roda dengan kepala yang menunduk sebagai ganti rukuk dan sujud, dan setiap kali aku melakukannya, aku merasa seperti sedang berdoa kepada Tuhan dari balik jendela yang tertutup.
Bu Halimah dan Pak Sholeh tinggal bersama kami selama minggu pertama itu, tidur di kamar kedua yang sempit. Bu Halimah memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengusap punggung Tari setiap kali putrinya muntah di kamar mandi. Pak Sholeh membacakan Al-Quran di ruang tamu setiap selesai magrib dengan suaranya yang serak dan tenang, dan aku mendengarkannya dari kamar dengan mata terpejam, tidak tahu apakah aku sedang berdoa atau sedang menahan diri untuk tidak berteriak.
Terapis yang direkomendasikan Dokter Halvorsen, seorang lelaki muda bernama Pandu dari sebuah rumah sakit rehabilitasi di Jakarta Pusat, datang tiga kali seminggu. Ia sabar, ceria, dan pandai bercanda, dan aku membencinya dengan cara yang tidak masuk akal. Aku membenci caranya mengangkat kakiku dan menekuknya ke sana kemari seperti menggerakkan kaki boneka. Aku membenci caranya berkata bagus, Pak, bagus sekali, ketika tidak ada yang bagus sama sekali. Aku membenci caranya berjalan keluar dari rumah setelah sesi berakhir, dengan dua kaki yang berfungsi sempurna, tanpa berpikir sedikit pun tentang betapa beruntungnya ia.
Pada sesi ketiga, aku menyuruhnya pulang dan tidak usah datang lagi. Tari, yang sedang berdiri di ambang pintu kamar dengan buku catatan cokelatnya, menatapku dengan mata yang membulat. Pandu menatap Tari, lalu menatapku, lalu tersenyum kecil seolah ia sudah sering mendengar kalimat itu.
“Saya datang lagi Kamis, Pak,” katanya, membereskan peralatannya. “Kalau Bapak masih belum mau, saya tetap datang. Duduk di teras juga nggak apa-apa.”
Ia pergi. Tari tidak berkata apa-apa. Ia hanya menutup buku catatannya dan berjalan ke dapur, dan aku mendengar bunyi piring yang diletakkan sedikit terlalu keras di atas meja.