I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #37

Nostalgia

Pandu datang pada hari Kamis pukul sembilan pagi seperti yang ia janjikan. Ia tidak mengetuk pintu. Ia duduk di teras, di samping jalur landai hijau, membuka termos kopi yang ia bawa sendiri, dan membaca koran. Aku memperhatikannya dari jendela kamar selama setengah jam. Lalu aku menyuruh Tari membukakan pintu.

“Pagi, Pak,” katanya, melipat koran, seolah tidak ada yang terjadi minggu lalu. “Kita mulai dari yang gampang, ya.”

Yang gampang ternyata tidak gampang sama sekali. Ia memintaku duduk tegak di tepi ranjang tanpa bersandar selama satu menit. Aku jatuh ke samping setelah dua puluh detik. Ia memintaku memindahkan tubuh dari ranjang ke kursi roda tanpa papan geser. Aku membutuhkan tujuh menit dan empat kali percobaan, dan pada akhirnya keringat membasahi seluruh kausku seperti baru berlari sepuluh kilometer di pantai Anyer. Ia memintaku membayangkan menggerakkan ibu jari kaki kananku, berulang-ulang, seratus kali, sementara ia menekan ujung jari itu dengan jarinya sendiri.

“Saraf itu kayak jalan setapak di hutan, Pak,” katanya sambil menghitung. “Kalau nggak pernah dilewati, jadi semak. Kita harus lewati terus, sampai jalannya kebuka lagi. Walaupun belum kelihatan hasilnya.”

Tidak ada yang terjadi pada ibu jari itu. Tidak hari itu, tidak minggu itu. Namun aku melakukannya seratus kali setiap pagi dan seratus kali setiap malam, karena Tari duduk di sampingku dan ikut menghitung dengan suara pelan, dan karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri di lantai lorong itu.

 

Pada minggu ketiga, aku meminta Pak Jaja mengantarku ke kantor. Tari menatapku dengan dahi berkerut ketika aku mengatakannya saat sarapan. Lalu ia meletakkan sendoknya dan mengangguk. “Aku ikut.”

Gedung itu masih sama. Pintu putar kaca. Lantai marmer di lobi. Satpam yang merapikan topinya ketika mobil berhenti. Namun aku tidak pernah memperhatikan bahwa ada dua anak tangga di depan pintu putar itu, dan bahwa pintu putar tidak dirancang untuk kursi roda. Satpam itu buru-buru membukakan pintu samping yang biasanya dikunci, pintu yang dipakai untuk mengangkut barang, dan aku masuk ke gedungku sendiri lewat pintu barang.

Lina berdiri dari mejanya di resepsionis ketika melihatku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menutup mulut dengan kedua tangan, dan matanya berkaca-kaca.

“Pagi, Lina,” kataku.

“Pagi, Pak.” Suaranya pecah. “Selamat datang kembali, Pak.”

Lift naik ke lantai dua puluh tiga. Aku menatap angka-angka yang menyala satu per satu dan teringat semua pagi selama delapan tahun ketika aku berdiri di lift yang sama, dengan jas yang sama, menatap angka-angka yang sama, memikirkan rapat dan kontrak dan angka. Aku tidak pernah memikirkan betapa beruntungnya aku bisa berdiri.

Pintu lift terbuka. Lantai dua puluh tiga sunyi. Lalu, dari arah meja-meja staf keuangan, seseorang mulai bertepuk tangan. Lalu yang lain. Lalu semua orang berdiri dari meja mereka dan bertepuk tangan, tidak keras, tidak meriah, tetapi panjang dan sungguh-sungguh, seperti tepuk tangan di aula lantai sembilan belas berbulan-bulan lalu ketika aku mengumumkan bahwa aku tidak akan menggaji diriku sendiri.

Aku tidak sanggup mengangkat wajah. Tari meletakkan tangannya di bahuku dan mendorong kursi rodaku menyusuri lorong, melewati meja-meja yang dulu kosong dan kini terisi lagi, sampai ke ruanganku.

Ruangan itu persis seperti yang kutinggalkan. Meja kayu besar. Jendela kaca yang menghadap Jakarta yang abu-abu dan sibuk. Rak-rak berisi maket perumahan. Kursi kulit di balik meja, terlalu tinggi untuk kursi rodaku.

Di sisi kanan meja, di atas tatakan, ada secangkir kopi yang masih mengepul, gagangnya menghadap ke tempat tanganku seharusnya berada.

Aku menoleh kepada Tari. Ia menggeleng. “Bukan aku.”

Di ambang pintu, Bima berdiri dengan wajah merah dan tangan yang saling meremas. “Saya ingat, Pak,” katanya gugup. “Dulu Mbak Tari selalu taruh di sebelah kanan.”

Aku menyesap kopi itu. Tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis. Namun bukan kopi Tari. Namun, aku menghabiskannya juga.

 

Rapat itu dimulai pukul sepuluh di ruang rapat kecil di sebelah ruanganku, ruang rapat yang sama tempat aku dan Tari dulu lembur sampai tengah malam untuk dokumen tender Bekasi, dengan martabak manis dan dua cangkir kopi dingin di atas meja.

Damar duduk di satu sisi meja. Rasyid di sisi lain, dengan map tebal di depannya. Pak Abdi Jaya bergabung lewat layar dari Surabaya. Tari duduk di sampingku, buku catatan cokelatnya terbuka di atas meja.

Rasyid yang membuka pembicaraan. Bank membutuhkan kepastian. Para kontraktor membutuhkan seseorang yang bisa menandatangani. Para klien membutuhkan seseorang yang bisa ditemui. Dan karena aku belum bisa bekerja penuh, dan tidak ada yang tahu kapan aku bisa, perusahaan membutuhkan seorang direktur pelaksana.

“Kami sudah membicarakannya,” kata Damar, menatapku dengan hati-hati. “Saya, Pak Rasyid, dan Pak Abdi. Kami punya satu nama.”

Aku sudah tahu sebelum ia mengatakannya. Aku melihatnya pada cara Damar melirik ke sampingku, di cara Rasyid tidak menatapku, di cara Pak Abdi tersenyum di layar.

“Bu Tari,” kata Damar.

Tari menjatuhkan penanya.

“Saya?” Ia menatap Damar, lalu Rasyid, lalu layar. “Pak, saya ini cuma ... saya mantan sekretaris. Saya nggak pernah mimpin apa-apa.”

“Mbak Tari tahu cara kerja kantor ini lebih baik daripada siapa pun, termasuk saya,” kata Rasyid tenang. “Mbak yang dulu menelepon klien-klien lama satu per satu waktu perusahaan hampir tutup. Mbak yang menemukan halaman empat di proposal Pak Abdi. Bank kenal Mbak. Bu Satia kenal Mbak. Pak Budi kenal Mbak.”

Lihat selengkapnya