Tari meminta maaf keesokan paginya. Ia berlutut di depan kursi rodaku sebelum berangkat ke kantor, menggenggam kedua tanganku, dan mengatakan bahwa ia tidak bermaksud mengatakan itu, bahwa ia lelah, bahwa ia mual, bahwa ia takut, bahwa ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan di kursi kulit yang terlalu besar itu.
Aku memaafkannya. Aku mengatakan bahwa aku juga minta maaf. Aku mengatakan bahwa ia boleh menolak investor dari Medan itu kalau menurutnya itu yang terbaik.
Kami berdua mengucapkan kata-kata yang benar. Namun ada sesuatu yang tidak kembali ke tempatnya. Seperti piring yang retak dan direkatkan lagi. Bentuknya masih sama, bisa dipakai makan, tetapi garis retakannya tetap terlihat, dan kami berdua sama-sama berhati-hati supaya tidak menekannya terlalu keras.
-II-
Mbok Sumi datang pada minggu berikutnya. Tari yang mencarinya lewat Bu Ijah, yang punya seorang sepupu jauh yang punya seorang tetangga yang baru saja berhenti bekerja di sebuah rumah di Menteng karena majikannya pindah ke luar negeri. Mbok Sumi berusia lima puluhan, bertubuh kecil dan gesit, dengan kerudung yang selalu diikat di belakang leher dan senyum yang memperlihatkan satu gigi emas. Ia datang dengan satu tas jinjing dan sekarung kecil beras merah dari kampungnya.
“Mbok asli mana?” tanyaku pada hari pertama, ketika ia membawakan teh ke kamarku.
“Garut, Den. Leles.”
Aku menatapnya. Leles hanya beberapa belas kilometer dari desaku di lereng bukit. Mbok Sumi pasti melihat sesuatu di wajahku, karena ia meletakkan teh itu di meja kecil dengan hati-hati, lalu berdiri diam di samping kursi rodaku. “Den Andra dari Garut juga, ya? Neng Tari sudah cerita sedikit.” Ia diam sebentar. “Banjir sepuluh tahun lalu. Mbok ingat. Adik Mbok tinggal di desa sebelah. Rumahnya hanyut juga. Alhamdulillah orangnya selamat.”
Aku tidak bisa menjawab. Mbok Sumi tidak menunggu jawaban. Ia hanya menepuk bahuku sekali, pelan, seperti ibu-ibu di kampung menepuk bahu anak tetangga yang sedang berduka, lalu kembali ke dapur.
Sejak hari itu, rumah kecil di Cempaka Putih wangi bumbu Garut. Sayur lodeh dengan daun melinjo. Ikan mas pepes. Sambal dadak yang diulek tepat sebelum makan. Mbok Sumi memanggilku Den, sebutan yang sudah lama tidak kudengar, sebutan yang dulu dipakai Mak Encun, tetangga kami di desa, untuk memanggilku ketika aku masih kecil dan suka mencuri jambu dari pohonnya.
Mbok Sumi juga membantu terapiku. Ia tidak tahu apa-apa soal saraf atau tulang belakang, tetapi ia tahu cara mengurut. Setiap sore, setelah Pandu pulang, ia memijat kaki-kakiku dengan minyak kelapa yang dicampur jahe, sambil menceritakan gosip-gosip dari tukang sayur yang lewat di gang. Aku tidak bisa merasakan pijatannya. Namun aku bisa merasakan hangat jahe yang naik ke hidungku, dan itu sudah cukup.
Tari semakin jarang di rumah. Bukan karena ia ingin. Aku tahu itu. Proyek Bekasi akhirnya dimulai lagi, dan ia harus datang ke lokasi setiap minggu. Pak Abdi meminta pertemuan rutin untuk proyek Bogor. Bank menuntut laporan-laporan yang harus ia periksa sendiri. Dan perutnya mulai membesar, sedikit demi sedikit, membuatnya lebih cepat lelah dan lebih sering harus berhenti untuk duduk.
Ia tetap memijat kakiku setiap malam. Ia tetap membuatkan kopi setiap pagi. Ia tetap bertanya bagaimana terapiku dan mencatat jawabanku di buku catatan cokelatnya. Namun percakapan kami semakin pendek. Ia tertidur di tengah kalimat. Aku menunggunya pulang sampai larut, lalu berpura-pura sudah tidur ketika ia akhirnya masuk ke kamar, karena aku tidak tahu harus bicara apa lagi.
Siang hari adalah yang paling buruk. Mbok Sumi sibuk di dapur atau di pasar. Pandu hanya datang tiga kali seminggu, satu jam setiap kali. Damar dan Rasyid sesekali menelepon, tetapi mereka juga punya pekerjaan. Aku duduk di kursi roda di dekat jendela kamar, menatap pohon mangga tetangga dan anak-anak yang bermain bola di gang, membaca laporan-laporan yang tidak perlu kubaca, dan menghitung gerakan ibu jari yang tidak bergerak.
Aku belum pernah merasa sesepi itu. Tidak di rumah empat kamar di Pondok Indah. Tidak di kamar kos di gang belakang pasar. Tidak di tenda pengungsian. Di semua tempat itu, aku setidaknya bisa keluar. Berjalan. Pergi ke suatu tempat, ke mana saja, supaya kesepian itu tidak sempat mengendap. Sekarang kesepian itu mengendap di dalam diriku seperti lumpur di dasar sungai yang tidak lagi mengalir.
-II-
Pada suatu Selasa siang, tiga bulan setelah kami pulang dari Los Angeles, Mbok Sumi mengetuk pintu kamarku dengan wajah yang tidak biasa.
“Den, ada tamu. Perempuan. Bawa bayi.” Ia ragu. “Katanya namanya Asyifa.”
Aku menatapnya lama. Lalu aku meminta Mbok Sumi mendorong kursi rodaku ke ruang tamu.
Asyifa berdiri di dekat pintu, belum berani duduk. Ia memakai gamis biru tua yang sederhana dan kerudung abu-abu yang dililit rapi, tanpa riasan, tanpa perhiasan, tanpa tas bermerek. Wajahnya lebih kurus dan lebih tua daripada terakhir kali aku melihatnya di bangku kayu di Venice, tetapi juga lebih tenang. Di gendongannya, terbungkus kain batik cokelat, seorang bayi tidur dengan mulut sedikit terbuka.