Asyifa datang tiga kali seminggu pada hari-hari ketika Pandu tidak datang. Selalu pukul sepuluh pagi, selalu dengan Bayu di gendongan, selalu dengan tas kain berisi bola karet dan karet elastis dan buku fisioterapi tua yang sampulnya sudah lepas. Ia selalu pulang sebelum zuhur. Mbok Sumi selalu ada di ruangan yang sama, duduk di kursi rotan di sudut dengan sayuran yang harus disiangi atau pakaian yang harus dilipat, dan matanya tidak pernah lepas dari kami.
Asyifa tidak seperti Pandu. Ia tidak ceria dan tidak pandai bercanda. Ia bekerja dengan diam, dahi berkerut, membaca buku tuanya setiap kali ragu, mencoba gerakan-gerakan yang ia pelajari bertahun-tahun lalu dengan tangan yang awalnya kaku dan semakin lama semakin yakin. Ia mengikatkan karet elastis di pergelangan kakiku dan memintaku membayangkan menarik kaki itu ke arah dada. Ia meletakkan bola karet di bawah telapak kakiku dan memintaku membayangkan menekannya. Ia menghitung bersamaku, seperti Tari dulu menghitung bersamaku setiap malam.
Kesemutan di ibu jari kakiku datang lagi pada sesi kedua. Lalu pada sesi keempat. Lalu setiap hari. Pada minggu ketiga, ibu jari itu bergerak. Hanya sedikit, sangat sedikit, sebuah kedutan yang hampir tidak terlihat. Namun Asyifa melihatnya. Ia menjatuhkan bukunya dan menatap kakiku dengan mulut terbuka, lalu menatapku, lalu tertawa dan menangis sekaligus, dan Bayu yang tidur di keranjang bayi di sampingnya terbangun dan ikut menangis. Mbok Sumi berdiri dari kursi rotannya dan mengucapkan takbir.
Malam itu, aku menunggu Tari pulang untuk menceritakannya. Ia pulang pukul sepuluh. Aku menceritakannya. Ia mendengarkan sambil melepas kerudung dengan gerakan lelah, lalu tersenyum dan memelukku dan berkata alhamdulillah, alhamdulillah, dan aku merasakan air matanya di bahuku.
Lalu ia bertanya dengan suara yang sangat pelan, “Siapa yang pertama lihat?”
Aku ragu sebentar. “Asyifa. Dan Mbok Sumi.”
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, melepaskan pelukannya, dan masuk ke kamar mandi untuk berwudu.
Kalau aku jujur pada diriku sendiri, dan aku sudah berjanji untuk selalu jujur, aku mulai menunggu hari-hari itu. Bukan menunggu Asyifa. Aku tidak pernah memandang Asyifa dengan cara yang lain. Yang kutunggu adalah perasaan itu. Perasaan berguna. Perasaan bergerak maju. Pada hari-hari Asyifa datang, ada seseorang yang bersorak ketika ibu jariku bergerak, ada seseorang yang menatap kakiku seolah kakiku adalah keajaiban, ada seseorang yang berada di sana. Pada hari-hari lain, hanya ada laporan-laporan yang tidak perlu kubaca, pohon mangga tetangga, dan secarik kertas tempel kuning dengan tulisan tangan yang kecil dan rapi yang selalu berbunyi hampir sama. Maaf pulang telat. Maaf berangkat pagi. Nanti cerita, ya.
Nanti tidak pernah datang. Tari pulang dan tertidur. Tari bangun dan berangkat. Perutnya semakin besar. Lingkaran di bawah matanya semakin gelap. Ia tetap memijat kakiku setiap malam, tetapi sekarang ia sering tertidur sebelum aku sempat menceritakan apa yang terjadi hari itu, dan aku tidak tega membangunkannya.
Pada minggu kelima, aku berdiri. Asyifa membawa sebuah walker tua dari rumah tantenya di Bintaro, kerangka aluminium berkaki empat dengan pegangan berlapis busa yang sudah menipis. Ia memasangnya di depan kursi rodaku, mengunci roda kursiku, dan berdiri di sampingku dengan satu tangan siap menahan pinggangku.
“Pakai tangan,” katanya. “Kaki Mas belum kuat. Tapi otot paha Mas udah mulai ada. Tangan yang dorong, kaki yang nahan. Pelan.”
Aku mencengkeram pegangan walker itu. Aku mendorong. Lenganku gemetar. Keringat mengalir dari pelipisku. Mbok Sumi berdiri dari kursi rotannya. Bayu, yang duduk di keranjang bayi, menatapku dengan mata bulatnya yang tidak berkedip.
Pantatku terangkat dari kursi roda. Satu sentimeter. Lima. Sepuluh. Lalu lututku, yang sudah berbulan-bulan tidak menopang apa pun, menegang, dan aku merasakannya, samar. Lututku. Aku merasakan lututku.
Aku berdiri tiga detik. Empat. Lima. Lalu lututku goyah, dan Asyifa menahan pinggangku dan membantuku duduk kembali ke kursi roda. Aku menatap kedua tanganku yang gemetar di atas pegangan walker. Aku tertawa. Aku menangis. Aku tidak tahu mana yang lebih dulu.
Asyifa duduk di lantai di depanku dan menutup wajah dengan kedua tangan. Mbok Sumi mengucapkan takbir lagi, lebih keras.
Aku meraih ponsel untuk menelepon Tari. Lalu aku berhenti. Aku membayangkan wajahnya di layar, lelah, di tengah rapat, di lokasi proyek yang berdebu. Aku membayangkan ia mendengar kabar itu lewat telepon, dari jauh, di antara suara mesin dan teriakan mandor. Tidak. Bukan begitu caranya. Aku ingin ia melihatnya sendiri. Aku ingin berdiri di depannya, dan lebih dari itu, aku ingin melangkah. Satu langkah. Ke arahnya. Itu yang ingin kuberikan kepadanya, bukan kabar di telepon.
“Jangan bilang Tari dulu,” kataku kepada Asyifa dan Mbok Sumi. “Aku mau kasih kejutan. Kalau aku sudah bisa melangkah.”
Asyifa mengangguk dengan mata yang masih basah. Mbok Sumi tidak mengangguk. Ia hanya menatapku lama dengan dahi berkerut, lalu kembali ke dapur tanpa berkata apa-apa. Aku tidak menyadari bahwa itu adalah rahasia. Aku sungguh tidak menyadarinya. Bagiku, itu hanya hadiah yang belum selesai dibungkus.
Dua minggu berikutnya, aku berlatih berdiri setiap hari. Dengan Pandu pada hari-hari Pandu, dengan Asyifa pada hari-hari Asyifa, dan sendirian pada malam hari, setelah Tari tertidur, dengan walker tua itu dan dinding kamar sebagai pegangan. Lima detik menjadi sepuluh. Sepuluh menjadi tiga puluh. Pada akhir minggu kedua, aku bisa berdiri selama satu menit penuh dengan bantuan walker, dan kaki kananku, sekali, bergeser maju beberapa sentimeter di atas lantai.
Belum satu langkah. Namun hampir. Sementara itu, jarak antara aku dan Tari terus melebar, sentimeter demi sentimeter, seperti retakan di dinding yang tidak diperhatikan siapa pun sampai suatu hari temboknya runtuh.