Seminggu tanpa Tari. Aku menyimpan foto hitam putih itu di saku kemeja, di dekat jantung, seperti Tari menyimpan cincin Arman di kalungnya. Aku mengeluarkannya berkali-kali setiap hari dan menatap bentuk-bentuk abu-abu yang tidak bisa kubaca, mencari kepala, mencari tangan, mencari apa pun yang bisa membuktikan bahwa ada seseorang di sana. Perempuan. Putriku.
Aku tidak pernah yang pertama tahu. Ia pulang cepat supaya aku yang pertama tahu. Dan ia menemukanku di halaman belakang, berdiri, dengan tangan perempuan lain di pinggangku, menyimpan rahasia yang kukira hadiah.
Aku menelepon Tari setiap hari. Ia tidak mengangkat. Aku mengirim pesan setiap malam. Ia membacanya, aku bisa melihat tanda centang biru di bawah setiap pesan, tetapi ia tidak membalas. Bu Halimah mengangkat telepon rumah sekali, pada hari ketiga, dan berkata dengan suara yang lembut tetapi tegas bahwa Neng sehat, makan teratur, dan sedang ingin sendiri dulu. Lalu ia berkata, sebelum menutup telepon, “Bapak lagi diem, Nak Andra.”
Aku tahu apa artinya itu. Kalau Pak Sholeh diam, artinya ia sedang berpikir.
Pada hari keempat, aku meminta Mbok Sumi menelepon Asyifa dan memintanya datang tanpa membawa tas kain berisi bola karet. Asyifa datang dengan Bayu di gendongan dan wajah yang sembap. Ia duduk di sofa di ruang tamu, tidak di kursi di samping ranjangku seperti biasa, dan menunduk, seolah sudah tahu apa yang akan kukatakan.
“Kamu sudah banyak membantuku,” kataku. “Lebih dari yang bisa aku balas. Ibu jari ini, lutut ini, semua karena kamu.” Aku menelan ludah. “Tapi aku harus minta kamu berhenti datang, Asyifa.”
Ia mengangguk tanpa mengangkat wajah. “Aku tahu, Mas.”
“Bukan karena kamu salah. Kamu tidak salah apa-apa.”
“Aku tahu.” Ia akhirnya menatapku, dan matanya tenang. Lebih tenang daripada yang pernah kulihat. “Aku yang salah dari awal. Aku tahu Mbak Tari capek. Aku tahu Mbak Tari nggak di rumah. Aku tahu kalau aku dateng tiap hari, Mas bakal ngerasa ada yang nemenin. Dan aku ....” Ia menunduk lagi, menatap Bayu yang tidur di pangkuannya. “Aku pengin jadi orang yang berguna buat Mas. Sekali aja. Aku nggak mikir Mbak Tari bakal ngerasa apa. Itu salahku.”
“Itu salahku,” kataku. “Aku yang memintamu tidak bilang apa-apa ke Tari. Aku yang memilih menceritakan semuanya kepadamu lebih dulu.”
Asyifa diam sebentar. Lalu ia tersenyum kecil, sedih tapi tulus.
“Dulu aku pengin banget jadi yang pertama buat Mas,” katanya. “Pertama dicari. Pertama ditelepon. Pertama dikasih tahu. Aku sampai ngelakuin hal-hal gila buat itu.” Ia menggeleng pelan. “Sekarang aku jadi yang pertama, dan rasanya nggak enak sama sekali. Karena tempat itu bukan punyaku.”
Ia berdiri dan membetulkan gendongan Bayu.
“Pak Bagas telepon kemarin,” katanya di ambang pintu. “Papa mau dipulangin minggu depan. Pakai pesawat ambulans, diurus konsulat. Langsung ke rumah sakit polisi. Aku mau fokus ke situ. Ke Papa. Ke persidangan nanti, kalau Tante ketangkep.” Ia menatapku. “Mas, pergi ke Sukabumi. Jangan nunggu Mbak Tari pulang. Mbak Tari udah terlalu sering nunggu.”
Maka aku berangkat ke Sukabumi dua hari kemudian, pada hari Jumat, tepat seminggu setelah Tari pergi. Pak Jaja menyetir. Mbok Sumi ikut, dengan alasan bahwa Den Andra tidak boleh pergi jauh tanpa ada yang mengurus, dan dengan sekeranjang rengginang yang ia goreng sendiri sebagai oleh-oleh untuk Bu Halimah, sesama pembuat rengginang. Kursi rodaku dilipat di bagasi. Walker tua milik tante Asyifa terselip di sampingnya.
Rasyid menelepon ketika kami sedang melewati Cicurug, tempat longsor dulu menutup jalan di hari akad.
“Kamu sudah siap mau bilang apa?” tanyanya.
“Belum.”
“Bagus.” Ia tertawa kecil. “Jangan siapkan pidato, Ndra. Kamu selalu jelek kalau pakai pidato. Bilang yang sebenarnya saja.”
Jalan berbatu menuju Kampung Cijambu masih sama. Sawah-sawah bertingkat sudah menguning. Masjid Al-Ikhlas dengan kubah hijaunya yang memudar berdiri di tepi sungai kecil, dan dari pengeras suaranya terdengar bacaan Al-Quran menjelang salat Jumat.
Rumah panggung berdinding hijau muda itu punya tujuh anak tangga kayu di depan teras. Pak Jaja menghentikan mobil di halaman. Ia mengeluarkan kursi rodaku dari bagasi, membukanya, dan membantuku pindah ke atasnya. Aku duduk di halaman berumput di depan tujuh anak tangga itu, menatap pintu yang tertutup, dan merasa seperti dulu, bertahun-tahun lalu, berdiri di depan gerbang besi berwarna hitam di Menteng dengan kotak kue pasar di tangan.
Bedanya, kali ini aku tidak bisa naik. Pintu itu terbuka sebelum aku sempat memanggil. Pak Sholeh berdiri di ambang pintu dengan kopiah putih dan sarung kotak-kotak, siap berangkat ke masjid untuk salat Jumat. Ia menatapku dari atas tujuh anak tangga. Wajahnya tidak bisa kubaca. Kumisnya yang kelabu tidak bergerak. Lama sekali ia tidak berkata apa-apa. Lalu ia menuruni anak tangga itu satu per satu, pelan, dengan tangan di pegangan kayu, dan berhenti di depan kursi rodaku.
“Assalamualaikum, Pak,” kataku.
“Waalaikumsalam.” Ia menatap kakiku, lalu wajahku. “Sudah mau Jumatan. Ikut?”
Aku menatapnya, tidak mengerti.
“Masjidnya ada jalur buat kursi roda. Bapak yang suruh marbot bikin, dua minggu lalu, waktu Neng cerita kamu sudah mulai bisa ke kantor.” Ia membetulkan kopiahnya. “Bicara sama Neng nanti. Habis salat. Kepala yang dingin bicaranya lebih baik.”
Aku salat Jumat di saf paling belakang Masjid Al-Ikhlas, di atas kursi roda, di sebelah seorang kakek yang juga duduk di kursi plastik karena lututnya sudah tidak kuat bersujud. Khatib membacakan khutbah tentang sabar, tentang suami dan istri yang seperti pakaian bagi satu sama lain, saling menutupi kekurangan. Aku tidak tahu apakah Pak Sholeh yang memintanya membacakan khutbah itu. Aku tidak berani bertanya.
Setelah salat, Pak Sholeh mendorong kursi rodaku sendiri kembali ke rumah, menyusuri jalan berbatu, melewati sawah dan kebun singkong. Ia tidak bicara sepanjang jalan. Baru ketika kami sampai di halaman, di depan tujuh anak tangga, ia berhenti.
“Bapak ini petani juga, Nak Andra, selain guru ngaji,” katanya, menatap sawah di seberang jalan. “Sawah itu, kalau mau panen bagus, nggak cukup ditanam terus ditinggal. Harus dirawat. Airnya harus dijaga. Pematangnya harus diperbaiki kalau bocor. Rumputnya harus disiangi tiap minggu. Kalau sekali saja dibiarkan, kalau petaninya bilang ah, nanti saja, sawahnya masih bagus, tahu-tahu airnya habis, padinya kering.” Ia menoleh padaku. “Rumah tangga juga begitu. Nikah itu cuma menanam. Yang susah itu merawatnya.”
Aku menunduk.
“Neng di belakang. Di dekat sungai.” Ia menepuk bahuku sekali. “Bapak nggak bisa dorong kamu ke sana. Jalannya tanah, kursimu bisa kejeblos. Kamu harus cari cara sendiri.”