I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #41

Menciptakan Harmoni

Tari pulang ke Cempaka Putih bersamaku pada hari Senin, duduk di jok belakang di sampingku dengan kepala di bahuku sepanjang perjalanan, sementara Mbok Sumi di jok depan menceritakan kepada Pak Jaja semua gosip yang ia dengar dari ibu-ibu di Kampung Cijambu. Kami berhenti di Cicurug untuk membeli mochi, dan Tari memakan enam buah sekaligus sambil mengeluh bahwa anaknya rakus seperti bapaknya.

Rumah itu tidak berubah. Jalur landai hijau. Tiga pot cabai. Pohon mangga tetangga. Namun sesuatu di dalamnya berubah, perlahan, seperti air yang kembali mengalir di saluran sawah setelah pematangnya diperbaiki.

Aku menjadi sekretaris istriku. Setiap pagi, sebelum Tari berangkat, aku sudah duduk di meja makan dengan laptop terbuka dan jadwal hari itu yang sudah kucetak. Rapat pukul sembilan dengan bank, berkasnya sudah kubaca dan kutandai dengan kertas tempel kuning. Telepon pukul sebelas dengan Pak Abdi, poin-poin yang perlu dibahas sudah kutulis di halaman pertama. Inspeksi lokasi Bekasi pukul dua, aku sudah menelepon mandor untuk memastikan tidak ada kejutan. Tari membaca semuanya sambil sarapan, mengangguk-angguk, kadang mengernyit, kadang tertawa.

“Kamu nulis catatannya kecil-kecil banget,” katanya suatu pagi, memicingkan mata di atas kertas tempel kuning. “Kayak tulisanku.”

“Aku belajar dari sekretaris terbaik di dunia.”

Ia mencubit lenganku dan berangkat dengan senyum yang membuat lesungnya terlihat. Dan setiap malam, aku menunggunya. Aku tidak lagi pura-pura tidur. Aku duduk di ruang tamu dengan teh jahe buatan Mbok Sumi yang sudah kusiapkan di termos, dan ketika ia masuk, aku bertanya tentang harinya. Lalu ia bercerita. Kadang lima menit. Kadang satu jam. Kadang ia menangis karena Pak Budi membentaknya lagi atau karena seorang staf keuangan mengundurkan diri. Kadang ia tertawa sampai harus berpegangan pada perutnya karena Damar tersandung kabel proyektor di depan seluruh direksi bank.

Aku mendengarkan semuanya. Dan setiap malam, sebelum tidur, ia memijat kakiku dengan minyak kayu putih, dan aku menunjukkan kepadanya berapa langkah yang kuambil hari itu.

Dua belas. Lima belas. Dua puluh tiga. Ia mencatat semuanya di halaman belakang buku catatan cokelatnya, di bawah tanggal-tanggal, dengan tulisan tangan yang kecil dan rapi.

 

Penandatanganan kontrak Vila Palm berlangsung di sebuah restoran Sunda di kawasan Puncak, di ruang makan pribadi berdinding bambu yang jendela-jendelanya menghadap kebun teh yang hijau berundak-undak sampai ke kaki gunung.

Tari memintaku ikut. Bukan sebagai direktur. Sebagai penasihat, katanya, dan sebagai suami yang harus melihat istrinya menandatangani kontrak terbesar dalam hidupnya.

Pak Trisno ternyata lelaki tua bertubuh kecil dengan peci hitam dan suara yang keras, pemilik perkebunan teh yang kini ingin membangun vila-vila kecil di atas sebagian lahannya. Ia menjabat tanganku dengan kuat ketika aku masuk dengan kursi roda dan menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Jadi ini suaminya,” katanya kepada Tari, tertawa. “Yang dulu galak itu? Saya dengar cerita dari Pak Abdi. Katanya Bapak dulu bikin tiga puluh sekretaris berhenti.”

“Tiga puluh satu, Pak,” kataku.

Pak Trisno tertawa lebih keras dan menepuk bahuku.

Rapat itu berjalan lancar. Tari berbicara dengan tenang dan jelas, menjelaskan tahapan pembangunan, skema bagi hasil, dan jadwal perizinan dengan angka-angka yang ia hafal di luar kepala. Pak Trisno mendengarkan sambil mengangguk-angguk dan sesekali menyela dengan pertanyaan yang tajam, dan Tari menjawab setiap pertanyaan tanpa membuka catatan.

Aku duduk di sampingnya dan membaca salinan kontrak di pangkuanku. Halaman demi halaman. Seperti dulu ia membaca proposal Pak Abdi pada malam sebelum rapat di restoran hotel di Senayan.

Di halaman enam belas, aku menemukannya. Sebuah klausul kecil tentang tanggung jawab atas jalan akses menuju lokasi vila. Jalan itu melewati lahan milik tetangga Pak Trisno, dan kontrak itu menyebutkan bahwa pembebasan lahan untuk jalan akses menjadi tanggung jawab pengembang. Bukan tanggung jawab pemilik lahan. Aku tidak mengatakan apa-apa di depan Pak Trisno. Aku hanya menyentuh lengan Tari dengan ujung jari, pelan, dan ketika ia menoleh, aku membalik salinan kontrak di pangkuanku ke halaman enam belas dan meletakkan jariku di klausul itu. Tari membacanya dengan mata menyipit. Lalu ia menoleh kepada Pak Trisno dengan senyum sopan yang dulu membuat kontraktor proyek Bekasi berkeringat.

“Pak Trisno, sebelum tanda tangan, saya mau memastikan satu hal dulu. Halaman enam belas.”

Sisa pertemuan itu berjalan sedikit berbeda. Ketika akhirnya mereka berjabat tangan dan menandatangani kontrak yang sudah direvisi, Pak Trisno menatap kami berdua bergantian dan menggeleng-geleng sambil tertawa.

“Pak Abdi bilang saya harus hati-hati sama pasangan ini,” katanya. “Katanya yang satu galak, yang satu teliti. Ternyata dua-duanya teliti.”

Dalam perjalanan pulang, menuruni jalan berkelok di antara kebun-kebun teh dengan matahari sore yang miring dan keemasan, Tari menyandarkan kepalanya di bahuku di jok belakang.

“Halaman enam belas,” katanya pelan.

“Halaman empat,” kataku.

Ia tertawa, dan tawanya bergetar di bahuku.

 

Pada akhir pekan, kami pergi ke Taman Suropati. Pandu yang mengusulkannya. Berjalan di ruang terbuka, katanya, di atas permukaan yang berbeda-beda, rumput, paving, tanah, lebih baik untuk saraf daripada berjalan bolak-balik di lorong rumah yang sempit. Dan udara pagi bagus untuk perempuan hamil.

Lihat selengkapnya