I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #42

Melepaskan

Kami baru bisa menemui Pak Hartono dua bulan kemudian. Dokter di Rumah Sakit Polri melarang kunjungan selama ia masih menjalani perawatan intensif setelah penerbangan panjang dari Penang, dan Kompol Bagas membutuhkan waktu untuk mengurus izin kunjungan bagi seorang tahanan yang juga seorang pasien.

Selama dua bulan itu, banyak hal terjadi. Pada minggu pertama, Pak Hartono, dengan bantuan seorang terapis wicara dan papan huruf karena bicaranya terlalu pelo untuk dipahami, memberikan keterangan kepada Kompol Bagas. Ia menyebutkan nama-nama. Nomor-nomor rekening di Singapura, Seoul, dan Johor Bahru. Nama-nama kapal yang bersandar di Tanjung Priok. Nama-nama orang berseragam yang menerima amplop setiap bulan. Dan sebuah alamat di Batam, sebuah rumah di perumahan tepi pantai yang dibeli atas nama seorang sopir, tempat Salma biasa bersembunyi setiap kali keadaan memanas.

Kompol Bagas bilang, ia belum pernah melihat seorang tersangka bicara sebanyak itu. Ia bilang, Pak Hartono menangis hampir sepanjang pemeriksaan.

Pada minggu ketiga, Salma ditangkap di pelabuhan feri Batam Center, ketika ia mencoba menyeberang ke Singapura dengan paspor atas nama orang lain. Ia memakai gaun hitam dan kalung mutiara yang sama, Kompol Bagas bercerita lewat telepon dengan nada yang hampir geli. Ia tidak melawan. Ia hanya meminta pengacaranya dan menolak bicara.

Monic Albertine mengirim surel dari Los Angeles pada hari yang sama. Pendek, dalam bahasa Inggris yang lugas. Yudi sudah divonis. Jade Moreno bersedia bersaksi lewat sambungan video. Rekaman CCTV hotel di Westwood dan kardus-kardus dari rumah di Alhambra sudah dikirim ke Jakarta lewat jalur resmi. Di bagian akhir surelnya, ia menulis satu kalimat yang membuatku tertawa sendirian di meja makan.

Tell your wife I said she's the boss. Tell her I said you should do what she says.[1]

Aku memperlihatkan surel itu kepada Tari. Ia membacanya dan tersenyum lebar, lalu menyimpan tangkapan layarnya di ponsel.

 

Rumah Sakit Polri di Kramat Jati berbau sama dengan semua rumah sakit lain yang pernah kudatangi dalam setahun terakhir. Antiseptik, keringat, dan minyak kayu putih. Namun lorong di lantai tiga, tempat Pak Hartono dirawat, berbeda. Dua polisi berseragam berjaga di depan pintu kamarnya, dan seorang perawat laki-laki memeriksa tas Tari sebelum kami diizinkan masuk.

Asyifa menunggu kami di depan pintu itu dengan Bayu yang kini sudah bisa duduk sendiri di dalam kereta dorong. Ia memeluk Tari lama sekali. Ia menatap tongkat jati di tanganku dan kakiku yang berdiri, dan matanya basah.

“Mas jalan,” bisiknya.

“Pelan-pelan.”

“Tetap jalan.” Ia tersenyum, lalu menoleh ke arah pintu. “Papa udah nungguin dari subuh. Dia minta dimandiin dua kali. Dia minta dipakein kemeja batik.” Suaranya bergetar. “Dia malu, Mas.”

Pak Hartono duduk di kursi roda di dekat jendela, menghadap ke luar, ke halaman rumah sakit yang ditumbuhi pohon-pohon angsana. Ia memakai kemeja batik sutra berwarna cokelat tua, kemeja yang sama dengan yang ia pakai ketika ia mengundangku makan siang di klub golf, dulu sekali. Kemeja itu kini kebesaran di tubuhnya yang menyusut, menggantung longgar di bahunya yang tidak lagi tegak. Rambutnya yang dulu disisir rapi ke belakang kini tipis dan putih seluruhnya. Lengan kirinya terkulai di atas pangkuan, jari-jarinya meringkuk seperti cakar burung yang mati.

Ia mendengar langkah kami. Ia mendengar bunyi tongkat jati yang beradu dengan lantai. Dengan susah payah, menggunakan tangan kanannya, ia memutar roda kursinya menghadap kami.

Kami saling menatap. Dua lelaki, satu dengan tongkat, satu di kursi roda. Satu tahun lalu, di klub golf yang terlalu hijau itu, ia berkata bahwa uang bisa ditarik semudah ditanam, dan bahwa perusahaan yang dibangun di atas uang orang lain bisa runtuh lebih cepat daripada yang kukira. Ia benar. Perusahaanku memang runtuh. Namun bukan aku yang sekarang duduk di kursi roda sambil menunggu vonis.

Ia membuka mulut. Yang keluar adalah suara yang pelan dan sengau, kata-kata yang terseret dan tidak sempurna, separuhnya hilang di sisi bibirnya yang tidak lagi patuh.

“An ... dra.”

“Pak Hartono.”

Ia menatap tongkat di tanganku, lalu kakiku. Mata kanannya, yang masih bisa bergerak dengan bebas, berkaca-kaca.

“Ma ... af.” Ia memejamkan mata, mengumpulkan tenaga. “Kaki ... mu. Ma ... af.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apa yang harus kujawab. Selama setahun, aku membayangkan saat ini. Saat ketika lelaki ini akhirnya kalah, akhirnya berlutut, akhirnya meminta maaf. Aku membayangkan diriku berdiri di depannya dengan dada tegak dan kata-kata yang tajam, kata-kata yang sudah kususun bertahun-tahun, tentang gerbang besi dan peluit dan tukang parkir dan harga diri yang ternyata bisa dimakan.

Sekarang saat itu datang, dan aku tidak merasakan apa-apa yang kubayangkan. Tidak ada kemenangan. Tidak ada kepuasan. Yang ada hanya seorang lelaki tua yang sakit, dengan kemeja yang kebesaran, yang meminta dimandikan dua kali sebelum bertemu dengan orang yang pernah ingin ia hancurkan.

Tari melepaskan genggamannya dari lenganku. Ia berjalan pelan ke arah kursi roda itu, satu tangan menopang perutnya yang sudah sangat besar, dan berlutut dengan susah payah di depan Pak Hartono.

Pak Hartono menatapnya dengan bibir bergetar.

Lihat selengkapnya