I am Your Boss: Larangan Jatuh Cinta

Marion Drossi
Chapter #43

Epilog

Rembulan Laras Mahendra lahir pukul tiga lewat empat puluh menit dini hari, di sebuah rumah sakit ibu dan anak di Rawamangun, tidak jauh dari sepetak ruko tempat perusahaan ayahnya dulu dimulai dengan satu meja dan satu kipas angin yang berderit.

Beratnya tiga kilo dua ons. Panjangnya empat puluh delapan sentimeter. Rambutnya hitam dan lebat, dan hidungnya, kata Bu Halimah yang tiba dari Sukabumi pukul dua dini hari dengan mobil bak terbuka milik tetangga, persis sama dengan hidung ibunya, yang persis sama dengan hidung neneknya.

Aku ada di sana ketika ia lahir. Dokter kandungan Tari, seorang perempuan paruh baya yang ramah dan tegas, sempat ragu ketika aku meminta masuk ke ruang bersalin dengan tongkat jati di tangan. Ruang bersalin bukan tempat untuk orang yang bisa jatuh kapan saja, katanya. Namun Tari, di antara dua kontraksi, dengan wajah yang basah oleh keringat dan suara yang serak, mengangkat kepalanya dari bantal dan menatap dokter itu dengan mata yang sangat kukenal. Mata sekretaris yang menolak pulang dari lobi gedung sebelum diizinkan bertemu atasanku.

“Dok,” katanya. “Saya direktur. Dia sekretaris saya. Dia ikut.”

Dokter itu menatapnya, lalu menatapku, lalu menyerah. Aku berjalan dari pintu ruang bersalin sampai ke samping ranjang Tari. Sebelas langkah. Tari menghitungnya, terengah-engah, di sela kontraksi, dan ketika aku sampai di sampingnya, ia meraih tanganku dan menggenggamnya begitu keras sampai aku khawatir jari-jariku patah.

Aku tidak akan menceritakan sisanya. Ada hal-hal yang terlalu suci untuk ditulis, dan ada hal-hal yang hanya milik dua orang yang berada di ruangan itu. Yang bisa kuceritakan hanyalah bahwa istriku adalah perempuan paling kuat yang pernah kukenal, lebih kuat daripada yang kukira ketika ia memukul pergelangan tangan penculiknya dengan kayu palet di gang gelap di Tanjung Priok, dan bahwa ketika tangis pertama itu memecah keheningan ruang bersalin, kecil dan marah dan sangat hidup, aku menangis lebih keras daripada bayi kami.

Bidan meletakkan bayi itu di dada Tari. Tari menatapnya dengan mata yang basah dan lelah dan bercahaya, lalu menatapku.

“Azanin,” bisiknya.

Aku membungkuk, bertumpu pada tongkat jati dan tepi ranjang, sampai bibirku dekat dengan telinga kecil yang masih basah itu. Dan aku mengumandangkan azan, pelan, dengan suara yang bergetar dan pecah di setiap kalimat, seperti yang dulu dilakukan Bapak di telingaku dua puluh delapan tahun lalu di sebuah rumah di lereng bukit di Garut. Seperti yang dulu dilakukan Bapak di telinga Laras, ketika aku berumur enam tahun dan mengintip dari balik pintu.

Bayi itu berhenti menangis. Ia membuka matanya sedikit, sangat sedikit, dan untuk sesaat aku bersumpah ia menatapku.

 

Pagi itu, kamar perawatan Tari menjadi tempat paling ramai di seluruh rumah sakit. Pak Sholeh tiba setelah salat subuh, menyetir sendiri mobil bak terbuka tetangga dari Sukabumi dengan kecepatan yang membuat Bu Halimah, yang sudah tiba lebih dulu, mengomel selama sepuluh menit. Ia menggendong cucunya dengan kedua tangan yang kasar dan gemetar, membacakan doa di telinganya, lalu menyerahkannya kembali kepada Tari dengan mata yang merah dan kumis yang bergetar. Ia tidak berkata apa-apa.

Mbok Sumi datang membawa rantang berisi sayur katuk, katanya untuk memperlancar ASI, dan langsung bertengkar dengan ramah bersama Bu Halimah tentang apakah sayur katuk lebih baik dimasak bening atau bersantan.

Damar datang dengan seikat bunga mawar dan pengumuman bahwa anak-anak keuangan sudah membuat taruhan baru, kali ini tentang kapan Rembulan akan mengucapkan kata pertamanya dan apakah kata pertamanya ayah atau ibu. Rasyid datang dengan istrinya dan sebuah boneka kelinci. Lina datang dengan kamera. Bima datang dengan secangkir kopi untukku, diletakkan di meja di samping ranjang Tari, di sisi kanan, gagangnya menghadap ke tanganku.

Pak Darto dan Bu Ijah datang dari Anyer dengan bus pagi, membawa sekeranjang ikan asin dan sebungkus besar pisang goreng. Bu Ijah menggendong Rembulan dan menangis sambil berkata dalam bahasa Sunda bahwa ia sudah tahu sejak hari pertama di vila, sejak Mas Andra memilih tidur di paviliun, bahwa suatu hari akan ada bayi ini.

Pak Anto datang menjelang zuhur, dengan rambut gondrong yang lebih putih daripada setahun lalu, kemeja koko yang terlipat bekas setrikaan, dan sebuah termos besar berisi kuah bakso. Ia tidak boleh membawa gerobaknya masuk ke rumah sakit, jadi ia meninggalkannya di parkiran dan membawa termos itu naik ke lantai tiga. Ia menuangkan kuah bakso ke gelas plastik untuk semua orang di kamar itu, termasuk perawat yang hendak menegurnya karena membawa makanan dari luar.

Lihat selengkapnya