I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #9

Sebuah Omong Kosong Bernama Cinta

Siapa sebenarnya pria yang selalu dibesuk Tari di rumah sakit itu? Aku masih belum bisa menemukan jawabannya. Pria itu tampak seumuranku, terbaring dengan mulut dibalut infus, dalam keadaan koma. Apakah dia suami Tari? Tapi aku ingat jelas, pernah membaca dokumen lamaran kerjanya—statusnya masih lajang. Lalu, siapa dia sebenarnya?

Aku terus memikirkannya, mencoba menyusun potongan-potongan teka-teki ini sejak beberapa hari lalu. Jika aku bertanya langsung pada Tari, itu pasti tidak mungkin. Dia pernah bilang padaku bahwa aku tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadinya. Namun, aku juga belum melaksanakan perintah Pak Hartono—perintah yang terus mengganggu pikiranku. Memecat Tari rasanya sangat sulit, bahkan tak masuk akal. Jika alasan Tari bekerja di perusahaan ini untuk membiayai perawatan pria itu, maka jika aku memecatnya, aku akan jadi orang yang sangat tidak berperikemanusiaan.

“Andra! Kenapa perempuan jalang itu belum juga kamu pecat?!” Tiba-tiba, Asyifa muncul di ruang kerjaku dengan wajah merah padam, suaranya meninggi, melayangkan protesnya. Aku hanya bisa menatapnya, terdiam, dengan kerutan di dahi. Hatiku berat. Aku tak bisa mengambil keputusan.

“Sekarang juga, aku mau kamu panggil perempuan itu ke sini! Kalau kamu nggak bisa memecatnya, biar aku yang melakukannya, Andra!” teriaknya tanpa memberi ruang untuk argumen.

"Asyifa! Kamu tidak punya hak untuk memecat karyawan saya!" jawabku, suaraku tegas meski terasa kesal. "Perusahaan ini milik saya. Saya yang jadi bosnya! Kamu hanya anak salah satu penyumbang dana di perusahaan saya!"

“Aku nggak mau tahu!” jawabnya dengan suara menggema. Tanpa memberi kesempatan untuk melawan, Asyifa langsung melangkah keluar.

Tak lama, ia kembali bersama Tari, yang tampak terpaksa mengikutinya. Asyifa menyeretnya dengan kasar, sementara Tari hanya bisa menundukkan kepala, tampak cemas dan tak berdaya. Tentu saja dia tak nyaman dengan perlakuan itu.

“Ma-maaf. Ada apa, Nona? S-salah saya apa?” Tari bertanya dengan suara gemetar, seolah tak mengerti apa yang sedang terjadi.

Aku hanya bisa menghela napas, merasa sangat tak enak. Kenapa dia harus terjebak dalam masalah pribadiku seperti ini? Memang benar, seharusnya hal ini tidak terjadi.

“Diam kamu, Jalang!” bentak Asyifa dengan kasar, membuat Tari semakin menunduk, wajahnya penuh ketakutan. Aku bisa melihat tangannya gemetar, menahan rasa takut terhadap Asyifa yang jelas-jelas berusaha mengintimidasi.

“Sekarang, kamu pecat dia, Andra!” perintah Asyifa, kali ini dengan nada yang lebih mendesak.

Rahangku mengeras mendengar kata-katanya. Asyifa sudah keterlaluan. Aku bangkit dari kursiku dengan cepat, melangkah tegap ke depan Asyifa, dan menatapnya tajam. Ini sudah melampaui batas.

“Apa? Kamu mau marah? Silahkan marah, Andra! Tapi kamu harus ingat, aku adalah kunci sukses perusahaanmu!” kata Asyifa, dengan nada menantang.

“Lepaskan dia sekarang juga!” jawabku, tegas, mencoba menahan amarah yang sudah mulai membara. “Saya tidak akan memecat Tari! Kamu tahu kenapa? Karena Tari salah satu karyawan saya yang berprestasi!”

“Sialan kamu, Andra!” Asyifa menggeram, lalu tanpa peringatan, tangannya melayang ke arah pipi kiriku. Namun, aku bisa menangkisnya dengan cepat, menghindari tamparan itu.

“Perempuan tidak berperikemanusiaan kamu, Asyifa! Setan kamu!” Bentakku, suaraku bergetar karena amarah. “Kamu mau saya memecat orang yang butuh pekerjaan dan uang? Dia berjuang keras untuk membiayai perawatan orang yang dia sayang di rumah sakit! Kamu mau saya jadi iblis seperti kamu, hah?! Saya tidak akan jadi setan seperti kamu!” Aku melepaskan tangan Asyifa yang tadi kugenggam erat. “Maaf saja. Saya tidak mau menuruti kemauanmu dan ayahmu, si tua bangka itu! Saya punya harga diri dan kehormatan sebagai manusia! Tidak seperti kamu, Asyifa, yang hanya mengandalkan kekayaan orang tuamu! Kamu tidak pernah tahu rasanya berjuang dari bawah.”

Kata-kataku sudah terlanjur keluar, tak bisa lagi aku tarik. Aku tahu, apa yang kuucapkan mungkin telah menghancurkan segalanya. Asyifa terdiam, tak memberikan respons apa pun. Setelah beberapa saat, dia melangkah pergi dari ruanganku, tanpa sepatah kata pun.

Semua terasa seperti bumerang yang menghantam diri sendiri. Aku sadar, meskipun aku melawan, pada akhirnya aku hanya seorang budak bagi si tua bangka itu. Aku menyesal pernah menjalin kerja sama dengannya. Pada titik ini, aku tidak bebas—hakku terbelenggu oleh Hartono.

Tari masih berdiri di tempatnya, tak bergerak, hanya mengamati dengan tatapan ragu. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya—air mata yang jatuh di hadapannya. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan kekalahan yang kurasakan.

Semua ini menjadi semakin rumit. Sejak Tari hadir di perusahaanku, setiap hari terasa seperti drama yang tak ada habisnya. Di satu sisi, aku merasa sangat berat jika harus kehilangan dia. Namun di sisi lain, aku juga merasa kebencian yang mendalam karena kehadirannya, yang seolah menjadi penghancur segalanya. Apakah salah aku merasakan itu?

“Kenapa Bapak tahu kalau saya sedang berusaha mengumpulkan uang untuk biaya perawatan seseorang?” tanya Tari, memecah kesunyian. Ia sudah lama diam, mengamati setiap tetes air mataku yang jatuh.

Aku terdiam, menundukkan kepala, tak mampu menjawab. Aku bahkan tak bisa memperlihatkan wajah ini padanya. Aku tahu, aku yang salah—aku yang masuk ke dalam hidupnya padahal dia sudah berulang kali melarangku.

“Pak ... saya akan mengundurkan diri,” kata Tari, suara lembutnya bergetar.

Aku terkejut, hampir tidak bisa mempercayai kata-katanya. “Tidak bisa!” jawabku dengan suara yang lebih keras dari yang kuinginkan. Aku segera bangkit dari kursi, mengusap air mata yang masih menetes di pipiku. “Kamu tidak boleh keluar dari perusahaan ini. Saya tahu kamu sedang butuh uang.”

Tari menunduk, menahan napas sejenak sebelum berkata lagi, “Tapi, Pak. Saya sudah tahu semuanya. Kalau Bapak tetap mempertahankan saya di perusahaan Bapak, Nona Asyifa akan membuat Anda hancur.”

Aku menggelengkan kepala dengan tegas. “Saya tidak peduli. Saya tahu bagaimana kerasnya hidup ini. Toh, saya hanya akan kehilangan satu investor,” jawabku, berusaha terdengar yakin, meskipun hatiku bergejolak.

Lihat selengkapnya