“Mau apa lagi Anda datang ke kantor saya?” tanyaku dengan suara tegas, berusaha menahan amarah yang sudah memuncak.
Hartono tampak sangat santai, bahkan terlalu santai untuk seseorang yang datang dengan niat menghancurkan. Ia merebahkan dirinya di sofa dengan angkuh, menyelonjorkan kakinya, lalu membuka koran dengan acuh tak acuh. Sementara itu, sejak dia melangkah masuk ke ruangan, Tari hanya bisa menunduk, tampak terlalu tertekan untuk mengangkat wajahnya.
“Saya hanya ingin melihat kehancuran kamu, Andra. Karena kamu berani menyakiti putri saya, inilah akibatnya. Kamu pikir saya main-main dengan kata-kata saya?” Hartono tertawa dengan nada meremehkan, suaranya penuh kemenangan.
“Sayangnya, saya tidak peduli!” jawabku dengan nada tegas, mencoba menahan diri agar tidak meledak. “Anda bukan satu-satunya orang kaya di dunia ini. Masih banyak yang lain, masih banyak yang mau jadi penyumbang dana untuk perusahaan saya. Sekarang juga, saya minta Anda PERGI DARI SINI! Tua bangka iblis!”
Hartono tidak terkejut, malah beranjak dengan santai. Dengan gerakan kasar, ia meremas koran di tangannya hingga berbentuk bulat dan membuangnya ke arahku. Korannya tepat mengenai dahiku, tetapi aku tidak bergerak. “Kamu dan perempuan jalangmu, Andra, sudah hancur,” kata Hartono sambil berjalan pergi dengan langkah-langkah penuh penghinaan.
Setelah pintu tertutup, ruangan menjadi sepi, hanya terdengar deru napasku yang kasar. Cukup lama aku terdiam, merasakan kekalahan yang begitu pahit menyergap hatiku. Perlahan, Tari mengangkat wajahnya, matanya penuh kekhawatiran. “S-sabar, ya, Pak ...,” katanya pelan, seolah mencoba menenangkanku.
“Tidak perlu. Saya tidak butuh belas kasihanmu!” jawabku dingin, berusaha menahan emosi yang semakin sulit aku kendalikan. “Kembali ke ruang kerjamu!”
Tari mengangguk, kemudian berjalan pergi dengan langkah gontai.
Aku hanya bisa terpaku di tempat, merasa benar-benar kalah. Si tua bangka itu telah menghancurkan segala yang aku bangun dalam enam tahun terakhir dengan begitu cepat dan mudah. Semua jerih payah, keringat, bahkan darah yang sudah kukorbankan untuk perusahaan ini, diratakan begitu saja tanpa ampun. Hartono tidak tahu apa arti perjuangan hidup. Dia hanya mengandalkan kekayaan yang diwariskan turun-temurun, tanpa pernah merasakan pahitnya berjuang dari bawah. Tak pernah merasakan kesengsaraan yang menguatkan hati dan semangat.
Sejak pagi hingga siang ini, aku hanya terdiam di ruanganku, tak tahu harus berbuat apa. Nafsu makan hilang, bahkan kopi yang biasanya bisa memberi sedikit semangat pun terasa hambar. Semua masalah yang berkecamuk di kepala, ditambah dengan kabar tentang Tari yang sudah memiliki kekasih, membuat hidupku terasa seperti kehilangan makna. Aku tak lagi bisa menikmati apa pun dengan sepenuh hati.
Tidak bisa kuelak kenyataan bahwa sejak Tari masuk ke perusahaan ini, segalanya berubah. Hidupku yang dulu penuh rutinitas membosankan, mulai menemukan warna. Seperti ada sesuatu yang memotivasi setiap kali aku membuka mata di pagi hari dan menuju kantor. Dulu, aku hampir tidak pernah datang ke kantor. Paling hanya datang sesekali untuk meminta laporan dari Damar atau Rani, sekretaris sebelumnya. Tetapi sekarang, rasanya mataku selalu ingin melihatnya. Hanya sekadar melihatnya, entah itu di ruang kerjanya atau di tempat lain di perusahaan ini. Aku tidak bisa menjelaskan, tapi ada sesuatu yang mengikatku pada kehadirannya.
Enam tahun yang lalu, aku ingat betul bagaimana aku tak peduli dengan panas terik matahari saat bekerja sebagai tukang parkir di kawasan ruko. Malam yang semakin larut, udara dingin yang menusuk tulang, semua itu tak pernah aku hiraukan. Yang terpenting bagiku saat itu bagaimana caranya mengumpulkan uang, agar aku bisa menikahi Nadia—kekasih yang kuimpikan sejak lama.
Suatu pagi, setelah Nadia mengetahui pekerjaanku yang sebenarnya dan memutuskan tidak bertemu denganku lagi, aku memberanikan diri datang ke rumahnya. Aku nekat meski dengan penampilan seadanya—kaos kumal yang sudah kupakai selama tiga hari, kotor dan bau keringat, serta jeans sobek-sobek yang membuatku tampak seperti orang paling terhina di mata orang-orang yang menganggap diri mereka lebih terhormat.
Di gerbang rumah Nadia, seorang satpam bertubuh tambun menyapa dengan wajah waspada. "Mau cari siapa, Mas?" tanyanya, seolah aku ini ancaman bagi kompleks perumahan ini.
"Saya ... cari Nadia, Pak. Apa benar ini rumahnya?" Aku mendekat dengan hati berdebar, mencoba tetap tenang.
"Iya, benar. Mas ini siapa? Kalau mau minta sumbangan, jangan di sini, Mas," jawab satpam itu sambil memandangku penuh curiga, seakan aku ini sampah yang membusuk.