“Maaf, maksud Bapak apa, ya? Saya tidak mengerti.”
“Tari, mulai sekarang jangan terlalu formal dengan saya. Kamu boleh pakai bahasa sehari-hari saat berada di luar kantor,” jawabku sambil tersenyum tipis.
Perempuan itu terdiam sejenak, wajahnya menunduk, seolah mencerna kata-kataku.
“Bapak belum menjawab—”
“Saya sudah bilang, jangan terlalu formal dengan saya!”
Tari menghela napas dalam. “Baik. Kamu ... belum jawab pertanyaanku, A-Andra.”
Ada rasa canggung di udara saat Tari akhirnya mencoba berbicara lebih santai, menggunakan bahasa yang lebih akrab. Meski aku memintanya begitu, aku sendiri merasa masih terikat dengan kebiasaan formal yang sudah lama mendarah daging dalam diriku. Di luar kantor pun, aku terbiasa dengan bahasa yang sopan dan terstruktur. Namun kali ini, aku menginginkan sesuatu yang lebih dekat, lebih manusiawi. Aku ingin meleburkan jarak antara atasan dan bawahan yang ada di antara kami, bukan karena apa-apa, hanya agar kami bisa lebih nyaman.
“Oke. Saya cuma bertanya seandainya saja.”
“Tidak bisa, Pak—”
Aku langsung menatapnya tajam, bingung. Kerutan muncul di dahiku. Lagi-lagi ia berbicara formal, padahal aku sudah memintanya untuk tidak seperti itu di luar kantor.
“Maaf, aku sudah terbiasa banget ngomong formal sama kamu. Jadi, kalau kebiasaan itu dihilangin, terasa aneh buatku. Mungkin butuh sedikit waktu,” ucapnya dengan suara pelan.
Aku hanya menghela napas panjang, kemudian menghentikan mobil karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, mengharuskan kami berhenti sejenak.
“Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Saya hanya mau kamu menganggap saya bukan atasan lagi, jika kita berada di luar kantor.”
Tari mengangguk, tapi ekspresinya tetap serius. “Oke. Jadi, jawaban dari pertanyaan kamu, aku nggak bisa, Andra. Kamu tahu sendiri kalau aku sudah punya tunangan, dan sekarang dia sedang sakit. Lagian, kamu sendiri yang membuat peraturan di kantor kalau atasan dan bawahan, atau sesama karyawan, nggak boleh saling jatuh cinta,” jawabnya tegas.
Jawaban itu seperti tamparan yang keras di wajahku. Aku menggeleng beberapa kali, berusaha menenangkan diri. Sakit sekali rasanya mendengar jawabannya. Aku ingin tertawa, ingin menangis, bahkan berteriak. Rasanya konyol sekali, seperti sebuah lelucon yang tak bisa dihentikan. Apakah ini benar-benar terjadi? Ini seharusnya tidak terjadi, kan?
“Saya mengatakan bahwa antar karyawan tidak boleh saling jatuh cinta, dan saya tidak pernah mengatakan bahwa saya tidak boleh jatuh cinta dengan karyawan saya sendiri.” Aku kembali menginjak gas, mobil melaju meninggalkan persimpangan saat lampu hijau menyala.
“Aku tahu. Itu aturan kamu. Kamu yang punya perusahaan, jadi kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau di perusahaanmu. Tapi, maaf. Jawaban dari pertanyaanmu, aku tetap nggak bisa. Aku sangat cinta dengan pacarku, meskipun sudah berbulan-bulan dia koma di rumah sakit itu,” jawab Tari dengan suara yang sedikit serak, seolah terasa berat bagi dirinya.
Jelas sudah, aku tidak memiliki kesempatan mendapatkan Tari, meskipun dalam hati aku tahu, aku telah jatuh cinta padanya. Lucu sekali rasanya, semua ini terasa seperti ironi yang besar. Ketika hatiku perlahan terbuka kembali setelah lama terkunci, kenapa Tuhan tidak bisa menyatukan kami? Apakah ini semacam ujian atau hukuman untukku, harus menghadapi begitu banyak pahitnya kisah percintaan?
Aku sadar, di usia 28 tahun ini, seharusnya aku sudah menikah. Aku punya kekayaan, kemewahan, semuanya tampak sempurna, tapi semua itu terasa kosong tanpa seseorang yang bisa menjadi teman hidup. Rasanya seperti berada di ruang hampa, memiliki segalanya, kecuali cinta. Banyak perempuan yang sudah aku temui, tapi tak ada yang bisa menggerakkan hatiku, bahkan sedikit pun.
“Baik. Terima kasih atas jawaban kamu. Saya tidak bermaksud jatuh cinta denganmu. Saya hanya bertanya saja. Mungkin, semua perempuan juga akan berpikir kalau saya ini bukan lelaki baik-baik. Hanya harta yang saya punya. Saya manusia egois, yang selalu memaksakan kehendak pada orang lain, seperti yang kamu katakan, Tari,” kataku, berusaha menahan getir di dada.
“Aku nggak maksud menyinggung perasaanmu, Andra—“