I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #12

Yang Mati dan Hilang

Di meja seberang, Nadia duduk bersama kedua orang tuanya dan seorang lelaki yang tampaknya hadir bersama pasangan paruh baya—kemungkinan besar orang tuanya. Mereka tampak larut dalam perbincangan, tapi mataku tertuju pada satu hal: tatapan Nadia yang lekat tertuju padaku. Wajahnya menyiratkan kesenduan, seolah ingin menyampaikan sesuatu tanpa kata-kata. Ada permintaan tersembunyi di sorot matanya, tetapi aku tak tahu apa itu. Dan aku tak ingin tahu.

“Tari, ayo kita pergi dari sini.” Aku bangkit dengan cepat, tanpa memberi Tari kesempatan bertanya lebih jauh. Kugenggam tangannya tanpa pikir panjang dan menariknya menjauh dari restoran. Aku hanya ingin pergi—meninggalkan tempat ini sebelum bayangan masa lalu kembali menghantuiku.

Namun, ketika aku menoleh ke belakang, kursi tempat Nadia duduk kini kosong. Dia menghilang. Ke mana perginya? Aku menghentikan langkahku, menyadari bahwa tangan Tari masih erat dalam genggamanku.

“Oh, maaf. Saya tidak sengaja,” ucapku cepat, mengalihkan pandangan ke sembarang arah.

“Nggak apa-apa.” Tari tersenyum samar, meski matanya menyiratkan kebingungan. “Kita ... jadi pulang?” tanyanya pelan.

“Iya.” Aku mengangguk, mencoba menenangkan pikiranku yang masih berantakan.

Namun, sebelum aku bisa melangkah lebih jauh, seseorang tiba-tiba menghadangku.

“Lo nggak boleh pergi, Ndra.”

Suaranya yang familier menghentikanku seketika. Nadia berdiri di depanku, membentangkan kedua tangannya, menghalangi jalanku.

“Nadia ....” Aku menatapnya tajam, menahan gelombang emosi yang bergejolak dalam dada. “Bagi saya, kamu sudah mati. Minggir dan jangan halangi saya.”

Nadia bergeming. Sebaliknya, ia menatapku dengan ekspresi penuh keyakinan. “Nggak, Ndra. Lo nggak bisa gitu aja ngelupain gue. Gue tahu lo pasti masih menyimpan kenangan kita. Iya, kan?!” Suaranya meninggi, dan di sudut bibirnya, muncul senyuman tipis yang entah apa artinya.

Aku menggeleng pelan, lalu tertawa kecil—bukan karena lucu, melainkan getir. “Kenangan? Saya nggak punya kenangan denganmu, Nadia.” Tatapanku semakin tajam. “Saya sudah membuangnya ke laut, biar habis dimakan ikan. Dan buat saya, kamu hanya orang mati yang berusaha hidup kembali dalam ingatan saya.”

Nadia terdiam. Aku tahu kata-kata itu menghantamnya keras. Dulu, dialah yang mengatakan padaku bahwa semua tentang kami telah ia buang ke laut. Sekarang, aku mengembalikan ucapannya dengan cara yang sama. Menyakitkan, bukan? Tapi aku puas.

“Itu yang saya rasakan ketika kamu menolak siapa saya di masa lalu, Nadia,” lanjutku tanpa ragu. “Dan sekarang, saya tidak bisa kembali ke masa itu. Saya sudah punya tunangan.”

Aku menoleh ke arah Tari, yang jelas terlihat terkejut mendengar pernyataanku. Tapi aku tak peduli. Aku meraih lengannya dan menyatukan telapak tanganku dengannya, memastikan bahwa Nadia melihat dengan jelas. Tari tak menolak, meski aku tahu ia tak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.

Namun, aku butuh ini—butuh cara untuk menutup lembaran lama yang seharusnya sudah terkubur sejak lama.

Nadia menatapku lekat-lekat, lalu beralih ke Tari. Dahinya berkerut, matanya meneliti setiap detail dari kami, hingga akhirnya turun ke tangan kami yang masih bertaut.

“Nggak. Kalian bukan pasangan,” katanya mantap, seolah yakin bahwa kebohonganku bisa ia baca dengan mudah.

Aku mengembuskan napas kasar. “Saya tidak peduli kamu percaya atau tidak!” sahutku cepat, tak ingin berlarut-larut dalam situasi ini.

Aku segera melangkah, berusaha menerobos pertahanan Nadia dan meninggalkan semua ini di belakang. Namun, tiba-tiba ia meraih tangan kiriku dengan erat, menahanku dengan genggaman yang penuh tekad.

“Apa-apaan kamu, Nadia?!” bentakku, nada suaraku meninggi, mencerminkan amarah yang mulai membakar. Aku mengayunkan lenganku, berusaha melepaskan cengkeramannya, tapi ia tetap bertahan.

Beberapa pasang mata di restoran kini tertuju pada kami. Aku bisa merasakan tatapan penuh rasa ingin tahu dari para pengunjung. Sial, aku tidak ingin mendramatisasi semuanya di tempat ini.

Tanpa berpikir panjang, aku memilih pergi, meninggalkan Nadia yang masih berdiri di tempatnya. Tari mengikuti langkahku tanpa suara.

Saat tiba di area parkir, aku baru menyadari sesuatu. Tanganku masih bertaut dengan tangan Tari—seolah sejak tadi aku enggan melepaskannya.

Aku buru-buru membukakan pintu mobil untuknya. “Masuk,” ucapku singkat.

Namun, sebelum ia sempat melangkah, aku dengan cepat menarik tanganku dari genggaman jari-jemari mungilnya.

“Oh, maaf, maaf,” ucapku kikuk, menyadari kebodohanku sendiri.

Tari hanya menatapku sekilas sebelum masuk ke dalam mobil, meninggalkanku dengan pikiran yang masih berantakan.

Lihat selengkapnya