I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #13

Semerbak Wangi

Tubuhku semakin melemah, sendi-sendi lututku seakan kehilangan kekuatannya. Aku tak lagi mampu menahan beban tubuhku sendiri. Napasku berat, pandanganku kabur, dan sebelum sempat memahami apa yang terjadi, tubuhku ambruk.

Namun, sebelum aku benar-benar jatuh ke lantai, sepasang tangan menangkapku dengan sigap.

Aku merasakan sesuatu yang lembut, hangat, dan menenangkan—bahunya. Aromanya menyelimuti inderaku, wangi dan familier, tapi kepalaku terlalu berat untuk berpikir jernih. Aku bahkan belum sempat melihat wajahnya.

Kemudian suara itu terdengar, lembut, tetapi penuh kecemasan.

"Kamu kenapa, Andra?"

Tari.

Tentu saja. Aku mengenal suaranya, bahkan dalam keadaan sekacau ini. Tapi mataku masih terlalu lelah untuk menangkap ekspresi wajahnya. Yang bisa kulakukan hanyalah membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan dekapannya, sementara kesadaranku perlahan semakin menipis.

"Aku bantu kamu. Jangan khawatir."

Dengan lembut, Tari membalik tubuhku, lalu membantuku menuju sofa di ruang tengah. Gerakannya begitu hati-hati, seakan takut aku akan semakin hancur jika disentuh terlalu kasar.

Aku terbaring di sana, mata mengembun, tubuhku terasa kosong. Ada sesuatu yang menghunjam perasaanku begitu dalam, seakan air mata yang selama ini tertahan akhirnya mengancam untuk jatuh lagi.

"Kamu kenapa, Andra?" tanyanya sekali lagi.

Aku ingin menjawab. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi yang keluar hanyalah hening.

Ah, sial. Aku lelah. Mataku semakin berat, kelopak ini tak bisa lagi menahan beban. Dalam hitungan detik, kesadaranku luruh, dan aku tenggelam dalam kegelapan.


Saat perlahan membuka mata, aku menatap langit-langit ruangan. Sepi.

Aku mengedarkan pandangan, mencoba mencari keberadaan seseorang—tapi tak ada siapa pun.

Mana dia?

Aku mencoba bangkit, tapi rasa sakit di kepala membuatku mengernyit. Pening. Namun, sesuatu mengusik indraku—sebuah aroma yang hangat dan menggugah selera.

Aroma sup.

Aku menarik napas dalam, menghirup harumnya yang menggelitik pernapasan. Dari dapur, mungkin? Tapi siapa yang—

"Andra, kamu sudah sadar?"

Aku menoleh ke arah suara itu, dan di sanalah dia.

Tari.

Ia berdiri di ambang pintu dapur, melangkah perlahan dengan sebuah mangkuk di tangannya. Senyum tipis terukir di bibirnya, tetapi matanya … matanya menyiratkan sesuatu yang sendu.

Ia duduk di sebelahku, meletakkan semangkuk sup di atas meja, lalu menatapku lekat-lekat. Untuk beberapa detik, aku hanya bisa terpaku, memperhatikan wajahnya yang begitu dekat.

Sekali lagi, kulihat alisnya saling bertautan.

"Kenapa kamu bisa ada di rumah saya?"

Itulah pertanyaan pertama yang meluncur dari bibirku, nyaris tanpa kusadari.

Tari menghela napas panjang sebelum menjawab. "Aku … khawatir sama kamu. Udah beberapa minggu kamu nggak pernah ke kantor. Aku cemas, jadi aku memutuskan datang dan memeriksa keadaanmu. Aku tanya alamat rumahmu ke Damar."

Aku terdiam.

Kenapa? Kenapa penuturannya begitu menyentuh hatiku? Ada sesuatu yang menghangat dalam dadaku, bercampur haru dan kelegaan. Tubuhku yang sebelumnya terasa panas dan berat, kini seakan diembus angin sejuk yang menenangkan.

"Kamu … khawatir sama saya?" tanyaku, ingin memastikan.

Tari mengangguk, tatapannya begitu tulus. "Iya, Andra. Aku benar-benar khawatir. Kenapa kamu nggak pernah datang lagi ke kantor? Setiap hari aku melihat ruanganmu kosong, berharap besoknya kamu ada di sana … tapi kamu tetap nggak datang."

Lihat selengkapnya