Ruangan itu kosong, sunyi, tak ada siapa pun di sana. Ke mana perginya Arman? Sebuah kekosongan menyelubungi kami. Tari terjatuh berlutut di lantai, tubuhnya tampak begitu rapuh, tak berdaya sama sekali. Aku tahu, harapanku dan harapannya tidak akan pernah bisa bersatu. Apa yang kuinginkan tentu berbeda dengan apa yang dia dambakan. Itulah mengapa, setiap kali secercah harapan muncul, selalu ada sesuatu yang memporak-porandakannya. Doa-doaku dan doa-doanya pasti tidaklah sama. Sementara dia berdoa agar kekasihnya bisa bertahan hidup, aku mungkin diam-diam berharap agar kekasihnya itu menghilang dari dunia ini. Bukan karena kebencian, tetapi karena aku hanya ingin dia mencintaiku. Itu memang mengarah pada harapan bahwa Arman akan pergi selamanya.
Tiba-tiba, suara dokter memecah keheningan yang mencekam. “Maaf, Mas, Mbak. Sekitar pukul 7.20 pagi, kami sudah berusaha menghubungi nomor Mbak Tari, tapi sepertinya tidak ada jawaban. Dengan sangat menyesal, kami harus memberitahukan bahwa Saudara Arman telah meninggal dunia.”
Tari membeku. Matanya yang memerah penuh harapan kini tampak kosong. Ia seperti batu karang yang dihantam gelombang, tidak mampu bergerak atau berbicara. Ekspresinya seolah tak percaya, terhuyung antara kenyataan dan penyangkalan. Aku mengerti rasa itu. Aku pernah merasa kehilangan begitu mendalam, kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku: orang tua, saudara, dan beberapa teman dekat yang telah pergi lebih dulu. Tetapi rasa kehilangan Tari, aku tahu, jauh lebih berat.
Aku merasa sedih, bukan karena Arman telah meninggal, tetapi karena melihat Tari yang begitu hancur. Air matanya mengalir deras, tak terhentikan, seolah seluruh dunia runtuh di hadapannya.
“Sekarang jenazah Saudara Arman ada di ruang—” Dokter itu belum selesai bicara, tetapi Tari sudah bangkit dengan gerakan cepat, berlari tanpa arah. “Tari!” Aku memanggilnya, tapi dia sudah jauh. Tak terkejar.
Aku mengikuti langkahnya, berlari menuruni tangga yang terasa panjang dan sempit. Tari tidak menoleh, hanya terus berlari, menembus lorong-lorong rumah sakit menuju ruang kamar mayat. Semua tubuh terbungkus kain putih, tak ada yang membedakan satu dengan yang lain. Dalam kesendiriannya, Tari bingung, mencari-cari, tanpa tahu mana tubuh tunangannya yang kini telah tiada.
Tari melangkah gontai, wajahnya kosong, tatapannya kabur. Di depannya, mayat-mayat terbaring tanpa nyawa, masing-masing diselimuti kain putih. Aku dan dokter itu hanya bisa memandanginya, merasakan empati yang mendalam. Akhirnya, dokter itu bergerak menghampiri dan menunjukkan jenazah Arman yang terletak di tengah-tengah mayat lainnya. Jenazahnya tampak begitu sunyi, seperti tak pernah ada kehidupan di sana.
Tari berdiri terpaku, menatap tubuh yang dulu begitu penuh harapan itu, tak tahu harus bagaimana lagi. Sementara aku hanya bisa merasakan betapa berat beban yang dia tanggung sekarang.
“Silakan, Mbak,” kata dokter itu seraya membuka kain yang menutupi tubuh jenazah, hanya bagian wajah yang ia buka.
Sekali lagi, Tari terhunjam rasa sakit yang begitu dalam. Wajah Arman yang terbujur kaku, tak bernyawa, memecah hatinya menjadi serpihan-serpihan kecil. Tari membekap mulutnya dengan kuat, seolah ingin menahan jeritan yang tak bisa ditahan lagi. Tangisnya pecah, tak terhentikan. Kehilangan yang tak bisa dielak. Hilang selamanya, tak akan kembali lagi. Arman telah pergi, dan yang tersisa hanya kenangan yang akan tetap hidup di hati orang-orang yang mengingatnya. Abadi, sampai akhir zaman.
Aku ingin menahan tangis, ingin menunjukkan bahwa aku bisa kuat, tapi melihat perempuan yang kucintai dihancurkan oleh rasa sakit ini, air mataku pun tumpah tanpa bisa kubendung. Aku menutupi wajahku dengan tangan kanan, mencoba menahan diri.
Tari kini memeluk jasad Arman yang sudah tak bernyawa, tubuhnya tergetar hebat oleh tangis yang tak bisa dihentikan. Aku tak bisa melihatnya begitu. Aku mendekatinya, berusaha menariknya jauh dari jasad Arman, tetapi Tari memberontak, menolak. “Sudah, Tari! Arman sudah tenang di sisi Tuhan,” kataku dengan lembut, berusaha meyakinkannya.
“Nggak! Arman nggak boleh mati! Dia akan menikah denganku!” Tari berteriak, menolak pergi.
Beberapa kali aku mencoba meraih tubuhnya yang terisak, tapi Tari selalu berusaha lepas dari genggamanku. Akhirnya, aku berhasil menariknya keluar dari ruangan tersebut, meskipun dia berjuang sekuat tenaga untuk tetap berada di sana, di samping Arman. “Arman! Nggak, Andra! Lepasin aku! Lepasin aku! Arman! Kamu nggak boleh mati. Kita akan menikah, Arman!”
Suasana itu berlangsung beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam. Tari akhirnya kutarik keluar, tubuhnya lemas, hampir jatuh. Di luar ruangan, tempat yang jauh dari suara tangisnya, Tari bersimpuh dengan lemah, tak berdaya.
“Sekarang, kita pikirkan saja tentang pemakamannya. Kamu tidak boleh seperti ini. Arman pasti akan sangat sedih jika kamu tidak bisa ikhlas dengan kepergiannya,” kataku dengan suara pelan, berusaha mendapatkan tatapan matanya.
Namun, Tari tak merespons. Wajahnya tertunduk, mulutnya terkunci dalam kesedihan, dan matanya kosong, seolah tak bisa lagi melihat dunia. Air matanya terus mengalir, menghunjam dalam-dalam ke dalam hati.
“Ayo, kita siapkan pemakaman yang layak untuk Arman. Itu satu-satunya hadiah terakhir yang bisa kamu berikan untuk dia. Hanya dengan itu dia akan merasa bahagia, dan kamu bisa mendoakannya dengan ikhlas,” ujarku lagi, kali ini lebih tegas, tapi tetap penuh kelembutan.
Aku meraih lengan Tari, terasa lemas dan rapuh di tanganku. Dia pasrah, tak melawan ketika aku membantunya berdiri. Dengan langkah yang berat, aku menggandengnya, berusaha menenangkan, dan kami berjalan bersama menuju rumahnya. Kami harus mempersiapkan pemakaman untuk Arman, sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi pria yang telah pergi, meninggalkan segenap cinta dan kenangan di belakangnya.