I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #15

Menikah dengan Asyifa?!

Bukan maksud hatiku membuat Tari terluka hingga memilih pergi. Aku tak pernah ingin melihatnya menghilang dari hidupku seperti ini. Namun, kenyataannya, satu kalimat yang terucap di momen yang salah telah menghancurkan segalanya. Seharusnya aku bisa menahan diri, memilih kata-kata yang lebih bijak, bukannya justru memperburuk luka yang masih menganga di hatinya.

Malam demi malam, pikiranku terus dipenuhi bayangnya. Aku mencoba mencari tahu keberadaannya, tapi langkahku selalu tertahan. Aku tahu kampung halamannya, tetapi mengejarnya ke sana hanya akan membuatku terlihat seperti pria egois yang tak bisa menerima penolakan. Aku tidak ingin ia merasa terpaksa. Maka, aku membiarkan waktu berlalu, membiarkan jarak terbentang semakin jauh di antara kami.

Bulan-bulan berlalu tanpa kehadirannya. Hari-hariku menjadi sunyi, seakan warna di sekelilingku memudar. Hidup terasa hambar, tak ada gairah seperti sebelumnya. Namun, aku sadar, aku tidak bisa terus terjebak dalam perasaan ini. Perusahaan tidak bisa dibiarkan berantakan hanya karena aku kehilangan seseorang.

Dengan tekad yang perlahan kukumpulkan, aku kembali menyibukkan diri. Kulemparkan seluruh perhatianku pada pekerjaan. Aku membangun kembali perusahaan yang sempat kacau, menjalin kemitraan dengan pihak-pihak yang berpotensi membawa kemajuan. Lambat laun, keadaan mulai berubah.

Namun, aku juga berubah. Aku tak lagi mengandalkan amarah untuk memerintah para pekerja. Aku tak lagi menerapkan aturan-aturan kaku yang dulu kubuat hanya karena trauma masa lalu. Kini, aku melihat segalanya dengan lebih jernih. Dan aku sadar satu hal—Tari jauh lebih bijak dan dewasa dibandingkan diriku. Aku kehilangan bukan hanya seorang wanita yang kucintai, tetapi juga seseorang yang selama ini membantuku menjadi lebih baik.

 

Sepulang dari sebuah pertemuan, aku memutuskan mampir ke kafe di depan gedung perusahaan. Mungkin aku butuh sedikit waktu untuk bersantai, menenangkan pikiran yang penat setelah berbagai aktivitas. Aku juga rindu menikmati secangkir kopi—meskipun, sejujurnya, kopi tak lagi terasa nikmat sejak kepergiannya.

"Satu kopi. Tidak terlalu pahit, juga tidak terlalu manis," ucapku pada pelayan yang segera mengangguk sebelum berlalu menyiapkan pesananku.

Aku menyandarkan tubuh pada kursi, lalu merogoh saku celana, mengambil ponsel yang selalu kubawa. Jemariku mengetuk layar, menyalakannya. Aku membuka daftar kontak dan mencari satu nama yang sudah lama tidak kutemui: "Sekretaris–Tari". Begitu membuka WhatsApp, aku mendapati statusnya tetap sama—tidak aktif. Bahkan, foto profilnya pun kosong, seperti terakhir kali kulihat.

Aku mengembuskan napas perlahan. Kebiasaan perempuan ketika sedang berada dalam fase galau, mereka cenderung menghapus foto profilnya. Tentu, tidak semua perempuan demikian, tapi aku cukup sering melihat pola ini. Meski Tari selalu tampak dewasa, pada akhirnya, ia tetaplah seorang perempuan dengan sisi rapuhnya sendiri.

Tak lama, pelayan datang membawa pesananku. Asap hangat mengepul dari cangkir kopi yang baru saja disajikan. Aku mengangkatnya perlahan, meniup uapnya, lalu menyeruput sedikit cairan hitam itu. Seketika, ingatan tentang kopi buatan Tari kembali menyelinap ke dalam benakku. Kopinya biasa saja, tanpa keistimewaan yang mencolok, tapi entah mengapa, aku selalu menikmati setiap tegukannya. Senyum tipis mengembang di bibirku, mengenang hal sederhana yang kini justru terasa begitu berarti.

"Anda Pak Andra?" Sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Aku mengangkat kepala. Seorang perempuan berdiri di hadapanku. Ia mengenakan long dress merah menyala, dengan gincu yang senada di bibirnya. Rambut panjangnya tergerai lembut, memberi kesan elegan sekaligus berani.

"Iya, benar. Anda siapa?" tanyaku sambil menatapnya dengan penuh tanya.

Tanpa ragu, ia menarik kursi dan duduk di depanku.

"Kenalkan, saya Salma, pemilik perusahaan Happiness Life. Saya tadi mencari Anda di kantor, tetapi resepsionis mengatakan Anda sedang berada di luar. Kebetulan, saya memilih menunggu di sini, dan ternyata justru menemukan Anda," jelasnya dengan nada sopan, tapi lugas.

Aku mengangguk, mulai memahami arah pembicaraannya. "Baik. Anda ada keperluan apa dengan saya?"

"Begini, beberapa bulan lalu, saya sempat menghubungi sekretaris Anda. Saya berminat berinvestasi dan menanam modal besar di perusahaan Anda," katanya dengan senyum penuh keyakinan.

Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat. Ya, beberapa bulan lalu, Tari memang sempat memberitahuku bahwa ada seseorang yang tertarik berinvestasi. Mungkin perempuan ini memang orang yang dimaksud.

"Saya ingat sekarang," ujarku akhirnya.

"Syukurlah. Tapi, beberapa minggu terakhir saya mencoba menghubungi sekretaris Anda lagi, tapi tidak ada tanggapan," lanjutnya.

Aku terdiam sejenak. Memang, sejak Tari pergi, aku belum mencari penggantinya. Entah mengapa, aku merasa tidak ada yang bisa benar-benar menggantikan perannya. Tari bukan sekadar sekretaris—ia adalah bagian dari perjalanan dan perjuanganku selama ini. Tanpa dia, rasanya ada sesuatu yang hilang.

Aku tersenyum tipis, menatap Salma. "Memang sudah beberapa bulan ini saya belum memiliki sekretaris baru."

Salma mengangguk kecil, tampaknya memahami situasiku. Namun, aku tidak bisa terus larut dalam nostalgia. Kini, di hadapanku, ada peluang besar yang tidak bisa diabaikan. Pertemuan ini bisa jadi awal dari perubahan baru—entah itu untuk bisnis, atau mungkin ... untuk hidupku sendiri.

Lihat selengkapnya