I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #16

Bertemu Tari

Aku tahu, cinta tanpa pengorbanan hanyalah ilusi. Sebuah kata manis tanpa makna. Mengatakan cinta, tetapi enggan menanggung luka dan derita, sama saja dengan mengkhianatinya. Dan kini, aku merasakan perihnya. Ini bukan sekadar rasa sakit biasa—ini pukulan dari takdir yang kejam.

Tari, satu-satunya perempuan yang mampu membuatku merasa tenang, kini dalam bahaya. Ia diancam, disekap entah di mana, sementara aku di sini, tak berdaya, terjebak dalam permainan kotor keluarga Hartono. Aku merasa seperti lelaki lemah yang tidak mampu melindungi wanita yang kucintai.

Ironis. Aku harus menikahi Asyifa—wanita yang tak pernah kucintai, bahkan sekadar menyukainya pun tidak. Yang ada hanya rasa jijik, muak melihat semua yang melekat pada dirinya. Setiap aspek kehidupannya membuatku bergidik ngeri. Namun, benarkah cinta tak harus memiliki? Apakah aku benar-benar harus mengorbankan perasaanku demi menyelamatkan Tari?

Tari adalah ketenangan dalam kekacauan hidupku. Suaranya yang lembut menenangkan, tatapannya menyembuhkan. Ketika aku marah, ia satu-satunya yang mampu meredakan api di dadaku. Namun kini, aku harus mengubur semua itu dalam-dalam.

Kemarin, aku meminta orang-orang Hartono membawaku ke tempat Tari disekap. Tapi mereka malah menipuku. Kini, aku justru berada di hadapan Asyifa. Ia duduk di ranjangnya yang luas dan mewah, wajahnya hancur, matanya masih sembab, bekas air mata tampak jelas di pipinya. Ia menatapku seakan aku satu-satunya penyelamat.

"Andra ...." Suaranya parau, bergetar, seperti memanggil namaku adalah satu-satunya harapan yang tersisa.

Aku hanya menghela napas panjang. Ia bergerak mendekat, duduk lebih dekat denganku, tapi aku tetap diam. Hanya suara napasku yang terdengar, berat dan penuh perasaan muak.

"Kita akan bersama selamanya, Andra. Tenang, ya," ucapnya lirih, suaranya seperti seseorang yang sudah kehilangan kewarasan.

Aku ingin merasa kasihan. Ingin mengerti mengapa ia jadi seperti ini. Tapi bagaimana mungkin? Bukankah ini semua kesalahannya sendiri? Ia yang membuat dirinya terjebak dalam lingkaran kegilaan ini.

"Siapa yang menghamilimu?" tanyaku akhirnya, suaraku datar, nyaris tanpa emosi.

Asyifa tersenyum tipis. Jemarinya terangkat, membelai rambutku dengan lembut, lalu jemarinya turun, mengusap kedua pipiku. Matanya tampak sayu, penuh harapan kosong.

"Kamu, Ndra. Sebentar lagi kita akan jadi pasangan yang bahagia."

Aku mengerutkan kening, mengempas tangannya dari wajahku. "Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu, Asyifa. Bagaimana bisa kamu hamil olehku?" Aku menatapnya tajam, mencoba mencari kebenaran di matanya. "Jujur saja. Kamu berbohong, kan? Atau kamu sengaja membiarkan dirimu dihamili pria lain, lalu memaksaku bertanggung jawab?"

Wajah Asyifa berubah drastis. Matanya melebar, napasnya memburu.

"Andra, DIAM!" pekiknya tiba-tiba.

Tatapan matanya yang semula rapuh kini berubah liar. Rahangnya mengeras, alisnya bertaut penuh kemarahan. Dalam sekejap, ia meraih rahangku dengan kasar, mencengkeram kuat hingga aku terpaksa menatap lurus ke arahnya.

Aku melihatnya sekarang. Wajahnya yang dulu tampak rapuh, kini sepenuhnya mencerminkan kegilaan.

"Kamu sudah tahu ‘kan, konsekuensi kalau kamu menolak?"

Asyifa menatapku dengan sorot mata penuh kelicikan. "Sekretaris cantikmu itu akan ... mati ...."

Ia menyeringai, puas melihat keterkejutanku. Namun, hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah drastis. Mata penuh kebencian itu kini melembut, bibirnya melengkung membentuk senyum menggoda.

"Sayang ... aku rindu kecupan hangatmu. Bibirmu ...."

Tangannya terangkat, jemarinya yang lentik kini menyentuh bibirku dengan lembut, penuh gairah. Wajahnya semakin mendekat, napasnya terasa hangat di kulitku.

Aku tak munafik. Asyifa memang memesona. Wajahnya, tubuhnya, dan segala pesonanya mampu membangkitkan hasrat terpendam dalam diri seorang pria. Seketika ada bara yang menyala dalam diriku, panas, membakar. Namun, aku bukan binatang. Aku bukan pria yang akan menyerah pada godaan wanita sekeji Asyifa.

Sadar akan apa yang sedang terjadi, aku langsung mendorong tubuhnya menjauh. Ia terjatuh ke tempat tidur, matanya melebar, tidak percaya dengan perlakuanku.

Aku bangkit berdiri, menatapnya tajam. "Saya mau bertemu Tari. Sekarang juga. Minta anak buahmu mengantarkan saya, segera!"

"Nggak, Ndra—"

Lihat selengkapnya