I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #17

Pelarian

“Hahaha! Keras juga suara pistol lo, Mat! Eh, jangan bikin dua orang di dalam kaget.”

“Ah, biarinlah. Kita ‘kan, diminta beresin mereka kalau sampai macam-macam.”

“Oh, iya. Ini udah sepuluh menit. Ayo kita balik bawa orang itu ke Bos.”

Aku bisa mendengar percakapan mereka dari dalam ruangan, bersembunyi bersama Tari dalam ketegangan. Suara tembakan tadi, ternyata ulah mereka. Sejenak, kupikir mereka berniat menghabisi kami tanpa alasan. Namun, logikaku segera menepisnya. Aku terlalu berharga bagi atasan mereka.

Langkah kaki mereka mendekat. Aku tetap membaringkan kepala di pangkuan Tari, berpura-pura tertidur—sebuah taktik yang sudah kupikirkan sejak tiba di tempat ini. Napasku kuatur perlahan, sedangkan jemariku mulai bekerja, berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Tari. Aku tahu ini harus dilakukan dengan cepat dan tanpa suara.

“Kamu diam. Saya akan melepaskan tali-tali di tubuhmu.”

Jantungku berdegup keras, seolah hendak mencelos dari tulang rusuk. Tanganku terus bekerja, meskipun keringat dingin mulai mengalir di pelipis. Ikatannya cukup tebal, tetapi tak terlalu rapi, memberiku celah untuk melonggarkannya.

“Eh! Waktu lo udah habis. Sekarang lo harus balik ke bos kami.” Suara salah satu dari mereka terdengar lebih tegas.

Aku tetap bergeming. Sedikit lagi, hanya sedikit lagi tali di kaki Tari terlepas. Tangannya juga tak diikat ke kursi, hanya ke belakang saja, jadi masih ada kesempatan untuknya melawan.

“Eh, lo nggak dengar kami ngomong?! Lo harus balik! Cepat!” Nada suara mereka semakin kasar.

Aku masih pura-pura terlelap, berharap bisa menyelesaikan pekerjaanku sebelum mereka bertindak lebih jauh.

“Budek ini orang.”

Derap langkah mereka makin mendekat. Aku bisa merasakan kehadiran mereka tepat di belakangku. Lalu, sebuah tangan menyentuh punggungku, mencoba mencolek-colek dengan kasar.

“Woi.” Suaranya terdengar curiga.

Aku tetap senyap, menahan napas sejenak untuk menyusun strategi. Saat aku merasa ia hendak mencolekku lagi, aku bersiap.

“Woi—”

Dalam sekejap, aku berbalik dengan gerakan cepat dan lugas. Tanganku langsung mencengkeram lengan si lelaki gondrong yang memegang senjata. Dengan keras, kupelintir lengannya hingga pistol terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan suara berdebam.

“TARI! LARI! KELUAR DARI SINI!” teriakku dengan penuh tenaga.

Aku melihat lelaki satunya membelalak kaget, tetapi sebelum ia bereaksi, Tari sudah bangkit. Meski tangannya masih terikat di belakang, ia berlari sekencang mungkin dan menabrak pria yang berdiri di dekat pintu. Benturan itu membuatnya terjatuh ke lantai, tapi tanpa ragu, ia segera bangkit dan kembali berlari keluar ruangan.

“Tuhan, selamatkan dia,” doaku dalam hati, berharap Tari berhasil meloloskan diri.

Sementara itu, aku semakin mempererat cengkeramanku pada si lelaki gondrong, memelintir lengannya lebih keras hingga ia meringis kesakitan. Tanpa ragu, dengan seluruh amarah yang kupendam, kuhantam wajahnya dengan pukulan penuh emosi.

“BIADAB! RASAKAN INI!”

Sampai akhirnya tergeletak di lantai, dengan cepat aku mengambil pistol di samping tubuhnya yang tengah meronta kesakitan. Setelahnya, aku berusaha keluar dari ruangan, tetapi lelaki yang bersimpuh di samping pintu meraih kaki kananku, menahannya dengan cukup bertenaga.

Tentu, aku tidak tinggal diam, lantas menginjak tangannya dengan kaki kiri. Akhirnya terlepas, aku pun melanjutkan pelarian, mengejar Tari yang entah sudah sampai mana langkahnya mengayuh.

Melewati gang-gang sempit, sesekali aku menoleh ke belakang. Mereka mengejar.

Sialan! Aku tidak hafal jalan di gang ini. Di depan ada sebuah belokan ke arah kanan dan kiri. Meski tak tahu akan tiba di mana, aku memutuskan mengambil jalan ke arah kanan.

Mereka tentu saja masih mengejar. Lelaki satunya lagi sedikit tertinggal. Yang memegang senjata ada di depan. Akan sangat gawat jika sampai lelaki itu melepaskan tembakan, apalagi sampai berhasil mengenaiku.

Oh, sial!

Mungkin nasibku hanya sampai di sini. Aku menemukan jalan buntu karena salah mengambil jalan. Kini, aku tak lagi bisa ke mana-mana. Di kiri dan kanan hanya ada rumah warga. Di depan tak ada jalan lagi, dibatasi tembok yang sangat tinggi. Terlihat seperti sebuah rumah.

“Nah, mau ke mana lo sekarang? Goblok! Mau cari mati rupanya lo.”

Keduanya merentangkan tangan, berlagak seperti akan menangkap seekor ayam yang kabur dari kandang. Di belakang mereka, orang-orang telah ramai berkerumun, tetapi tak ada satu pun yang turun ke jalan. Mereka hanya memandang dari rumah sambil pura-pura bersembunyi.

Lidahku kelu tiba-tiba. Aku tidak mungkin menggunakan senjata yang ada di tanganku. Jika sampai menggunakannya, orang-orang di kampung ini pasti akan lari ketakutan.

“Nyerah lo!” teriak lelaki yang memegang pistol di tangan kanan sambil berusaha waspada dengan kemungkinan buruk yang bisa saja aku lakukan pada mereka.

“Berhenti! Kalau kalian tidak berhenti, saya akan menembak!” ancamku sambil menajamkan tatapan. Napasku tersengal, dadaku masih berontak karena baru pertama kali mengalami hal menegangkan seperti ini.

“Hahahaha!”

Lihat selengkapnya