I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #18

Senyum Hangat

Sebenarnya, orang-orang tidak perlu repot mengurusi hidupku. Toh, apa manfaatnya bagi mereka? Namun, aku sadar, ini semua adalah ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mungkin aku telah banyak berbuat dosa, menyakiti orang lain—baik secara langsung maupun tidak langsung. Aku yakin, semua yang terjadi padaku saat ini adalah ganjaran yang setimpal. Mungkin ini karma yang harus kuterima.

Meski begitu, aku juga percaya bahwa di balik setiap pengalaman, seburuk apa pun itu, pasti tersimpan hikmah yang berharga.

Pagi ini, aku memutuskan pergi ke kantor. Dengan demikian, begitu mobilku tiba di depan gedung, pemandangan yang menyambutku membuat kepalaku pening seketika—kerumunan wartawan dan jurnalis sudah menunggu dengan kamera, microphone, dan ponsel yang siap merekam setiap langkahku. Mereka haus akan klarifikasi, menuntut penjelasan terkait masalah Asyifa dan perusahaan yang kupimpin.

Aku segera menghubungi Damar. "Damar, keluarlah. Aku di tempat parkir. Temani aku masuk ke gedung, di sini banyak sekali wartawan."

Tak butuh waktu lama, aku melihat sosoknya berjalan cepat ke arah mobilku. Wajahnya tegang, seakan menyadari betapa serius situasi ini. Ia berhenti di samping mobil, menungguku keluar.

Aku menghela napas panjang. Sungguh, aku malas berurusan dengan media. Tapi jika aku memilih diam, mereka pasti akan menulis berita sesuka hati, menambah bumbu, membuat fitnah seolah itu adalah kebenaran. Aku harus memberi pernyataan dan meluruskan semuanya.

Asyifa telah menyebarkan kebohongan—menuduhku sebagai pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Tuduhan yang sama sekali tidak masuk akal! Bagaimana bisa semua ini terjadi padaku?

Begitu aku melangkah di belakang Damar, para wartawan langsung bergerak seperti gelombang pasang yang siap menghantam.

"Pak! Pak!"

Mereka menyerbuku dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“Pak, apakah benar Anda telah menghamili seorang wanita yang belum sah menjadi istri Anda?”

“Pak, ada isu bahwa perusahaan Anda sedang dalam kondisi tidak stabil. Benarkah para investor menarik saham mereka akibat skandal ini?”

Aku terus melangkah tanpa memperlambat langkah, berusaha menahan gejolak amarah yang mulai mendidih di dadaku. Namun, semakin banyak pertanyaan yang dilontarkan, semakin sulit bagiku menahan emosi.

Darahku berdesir. Aku tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini berkembang lebih jauh. Aku harus berbicara. Aku harus menjelaskan semuanya.

"Pak? Bagaimana tanggapan Anda?"

Aku menghela napas, berusaha menahan amarah yang sudah di ujung tanduk. Namun, melihat wajah-wajah wartawan yang terus mendesak, kesabaranku habis.

"Dengar baik-baik! Saya tidak pernah menyentuh wanita itu sedikit pun!" Suaraku menggelegar, membuat beberapa wartawan terdiam sejenak. Akan tetapi, mereka tidak menyerah begitu saja.

"Lalu, bagaimana dengan pernyataan Mbak Asyifa? Videonya sudah tersebar luas di berbagai media, dan—"

Aku mengibaskan tangan, menyela pertanyaan itu dengan nada tajam. "Saya tidak perlu menanggapi wanita itu! Untuk apa? Dia gila! Dan saya tidak punya waktu meladeni orang gila seperti dia! Cukup! Biarkan saya masuk! Saya punya urusan yang jauh lebih penting daripada mengurus skandal bodoh ini!"

Aku melangkah semakin cepat, mengabaikan suara-suara yang masih berusaha menembus pertahananku. Wartawan-wartawan itu tetap gigih mengejarku, tapi aku tidak peduli. Begitu melewati pintu utama, aku dan Damar langsung menuju ruanganku tanpa menoleh ke belakang.

Sesampainya di depan pintu ruangan, aku tiba-tiba menghentikan langkah. Tanpa berpikir panjang, aku membalikkan badan dan menatap Damar tajam.

"Jadi, kita benar-benar sudah tidak punya satu pun investor?"

Damar menatapku dengan raut serius, lalu mengangguk pelan sebelum akhirnya buka suara.

"Sumber daya kita juga sudah menurun drastis, Pak. Tapi, saya belum mengecek laporan terbaru pagi ini. Yang jelas, menurut laporan Lina, banyak klien menelepon untuk memutuskan kerja sama. Para pekerja juga sudah pulang beberapa jam yang lalu."

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Rasanya dadaku sesak. Ujian ini benar-benar berat. Kini, semua keputusan ada di tanganku—apakah perusahaan ini masih bisa bertahan, atau harus kulepaskan begitu saja.

Aku membuka mata, menatap Damar dengan penuh ketegasan. "Baik, begini saja. Untuk sementara, kosongkan gedung ini. Pulangkan semua karyawan. Saya liburkan mereka dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Buatkan surat-suratnya. Keadaan sudah sangat genting, Damar."

Damar mengangguk paham. Tanpa banyak bicara, ia berbalik dan berjalan menuju ruangannya untuk segera menindaklanjuti perintahku.

Sementara itu, aku masuk ke ruanganku, menjatuhkan diri ke kursi, lalu memijat pelipis. Aku harus menemukan jalan keluar. Aku tidak bisa membiarkan semuanya runtuh begitu saja.

Bagaimanapun juga, Asyifa harus menerima balasan setimpal. Dia bukan hanya telah menghancurkan reputasiku, tapi juga menyakiti Tari. Dan sekarang? Dia berani menyebarkan fitnah keji ini untuk menghancurkanku di mata publik.

Aku mengepalkan tangan. Tidak. Aku tidak akan tinggal diam. Aku harus melakukan sesuatu.


Aku memutuskan pulang lebih cepat. Aku tidak bisa meninggalkan Tari sendirian terlalu lama. Meskipun kecil kemungkinan sesuatu yang buruk akan terjadi, aku tetap tidak ingin mengambil risiko. Tari harus berada di sampingku. Aku harus melindunginya dari segala kemungkinan yang mengancam keselamatannya.

Begitu tiba di rumah, aku langsung menuju kamar. Tari masih di dalam, duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Raut wajahnya terlihat lelah, tapi aku bisa melihat sedikit kelegaan saat ia menyadari aku sudah kembali.

“Gimana keadaan kantor, Ndra?” tanyanya lirih. Suaranya bergetar sedikit. Aku tahu, trauma itu masih menghantuinya. Ia bahkan belum berani keluar dari kamarku sejak semalam.

Aku duduk di sebelahnya, mencoba memberikan sedikit ketenangan. “Kamu tidak perlu memikirkan soal kantor, Tari. Itu urusan saya. Yang penting sekarang, kamu fokus untuk istirahat dan menenangkan diri.”

Tari menggigit bibirnya. Sepertinya ia ingin membantah, tapi aku mendahuluinya.

“Keadaan kacau. Sepertinya perusahaan tidak akan pulih dalam waktu dekat.”

Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya bertanya, “Terus, apa rencanamu selanjutnya?”

Aku menarik napas dalam, menatapnya dengan serius. “Kita pergi dari sini.”

Dahi Tari berkerut. Ia menatapku dengan bingung. “P-pergi? Maksud kamu? Kita mau ke mana, Ndra?”

Aku menatapnya lekat, berharap dia bisa memahami maksudku. “Kita ke vila saya. Tempat itu saya siapkan untuk keadaan darurat seperti ini—saat semuanya berantakan dan kita butuh tempat aman. Bahkan Asyifa tidak tahu keberadaan vila itu. Kamu akan aman bersama saya di sana.”

Tari menundukkan kepala, jarinya bermain-main di lipatan selimut. Aku menunggu reaksinya dengan penuh harap. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja, jauh dari ancaman yang bisa membahayakannya.

“Ada apa?” tanyaku, mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Lihat selengkapnya