Jika kuingat kembali, pertemuanku dengan Tari terasa seperti skenario yang telah matang dirancang oleh Tuhan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa wanita ini—yang dulu sering kubentak, yang pernah kuperlakukan dengan begitu buruk—pada akhirnya akan begitu dekat denganku. Lebih dari itu, meski aku pernah menyakitinya, ia tidak menyimpan dendam sedikit pun.
Berbeda denganku. Jika seseorang memperlakukanku dengan buruk, aku akan mengingatnya selamanya. Aku menyimpan amarah, membiarkannya mengakar hingga menjadi penyakit yang meracuni hatiku sendiri. Tapi Tari … dia tidak seperti itu.
Kami sedang dalam perjalanan menuju vilaku di pesisir pantai. Perjalanan ini memakan waktu cukup lama, sekitar tiga jam. Selama di mobil, Tari lebih banyak diam. Sesekali ia menatap keluar jendela, mengamati hiruk-pikuk jalanan. Aku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus mengemudi.
Keheningan ini mulai terasa aneh, hingga akhirnya aku memutuskan bertanya sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikiranku.
"Tari, gimana ceritanya kamu bisa diculik sama anak buah Asyifa?"
Aku benar-benar penasaran. Setahuku, Tari sudah pergi dari kompleks perumahannya. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa menemukan keberadaannya? Ini membuktikan bahwa mereka tidak bisa diremehkan, terutama Hartono—orang yang dikenal memiliki banyak koneksi gelap.
Tari menghela napas sebelum menjawab. “Aku juga nggak tahu dari mana mereka tahu aku ada di sana, Ndra. Yang jelas, waktu itu aku lagi di pasar. Saat dalam perjalanan pulang, aku melewati jalanan sepi. Lalu tiba-tiba, ada empat orang yang mencegatku. Awalnya aku nggak curiga. Kupikir mereka cuma preman pasar biasa yang sering malak pembeli.”
Tari menggigit bibirnya sejenak, seperti menahan sesuatu dalam ingatannya. “Tapi mereka nggak cuma sekadar preman, Ndra. Mereka langsung menangkapku dan membungkam mulutku. Aku berontak, tapi mereka terlalu kuat. Mereka membiusku .…”
Ia terdiam sejenak, menatap tangannya yang saling menggenggam di pangkuannya. “Aku nggak sadar apa pun setelah itu. Tahu-tahu, pas aku sadar, aku udah ada di tempat gelap. Aku diikat, mulutku dibekap. Aku nggak tahu di mana aku berada.”
Darahku mendidih mendengar ceritanya. Rahangku mengeras, jemariku meremas setir lebih erat.
"Kurang ajar mereka!" geramku, gigi-gigiku bergemelutuk menahan amarah. "Akan kubalas mereka semua! Itu sangat nggak manusiawi."
Tari menoleh ke arahku, sorot matanya menunjukkan sesuatu yang sulit kutebak. Lalu, dengan suara pelan, ia bertanya, "Ndra … kenapa kamu mau membantuku?"
Pertanyaan itu menghantamku begitu saja. Aku terdiam. Kenapa?
Apakah karena dia adalah Tari? Jika yang mengalami ini orang lain, apakah aku juga akan bertindak sejauh ini?
Aku menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Aku pernah bilang sama kamu, kan? Aku ingin jadi orang bermanfaat buat orang lain. Dan itu termasuk kamu, Tari."
Tari menghela napas pelan. “Apa benar hanya itu alasannya?” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia kembali menatap ke luar jendela, sementara pikiranku masih mengulang-ulang pertanyaannya.
Tiba-tiba, ia berkata, “Oh ya, soal waktu itu ... aku mau minta maaf. Aku nggak bermaksud membentak atau marah sama kamu, Ndra. Aku cuma … depresi. Kamu tahu sendiri, kan?”
Aku meliriknya sejenak sebelum kembali fokus ke jalan. "Aku mengerti. Aku juga sudah memikirkan semuanya." Aku tertawa kecil, miris. "Lucu juga kalau dipikir-pikir. Aku seperti orang yang ingin mengambil kesempatan, memanfaatkan keadaanmu yang sedang rapuh. Tapi kamu memang perempuan yang berbeda, Tari. Kamu nggak seperti Asyifa … juga nggak seperti Nadia."
Tari menatapku dan tersenyum—sebuah senyuman yang terasa begitu hangat, sejuk seperti embun pagi yang menenangkan.
Dan saat itu, aku menyadari sesuatu. Aku ingin senyum itu tetap ada. Selamanya.
Aku tak ingin mengatakan apa pun yang bisa merusak suasana hatinya. Aku tak ingin membuatnya marah, tak ingin mengusik kedamaiannya. Setidaknya untuk saat ini, aku akan menyimpan perasaanku rapat-rapat. Mengungkapkan cinta kepadanya bukanlah hal yang paling penting saat ini—lebih penting bagiku untuk melihatnya tetap tersenyum.
Cukuplah aku dan Tuhan yang tahu bahwa aku mencintainya. Entah sampai kapan perasaan ini akan terus ada, tapi satu hal yang pasti, aku ingin memberinya ruang. Aku tahu Tari masih terjebak dalam kenangan tentang almarhum kekasihnya. Ia belum bisa benar-benar melupakan luka itu. Beban yang ia pikul begitu besar, dan aku tidak ingin menambahnya dengan perasaanku.
“Sebentar lagi kita sampai.”
Suara mesin mobilku membelah jalanan yang kini mulai menanjak, mendekati tujuan kami.
Tari, yang sejak tadi sibuk mengamati pemandangan, tiba-tiba berseru, “Wah, kereeeennn!” Matanya membulat penuh kagum saat melihat hamparan laut yang terbentang luas di sebelah kiri, berpadu dengan perbukitan hijau yang menjulang di kejauhan. Langit cerah dengan warna biru yang begitu memukau, seakan menyempurnakan keindahan panorama di depan mata.
Ia terus menoleh ke kiri dan kanan, seolah tak ingin melewatkan satu pun detail keindahan di sepanjang perjalanan.
Aku meliriknya sekilas sebelum kembali fokus menyetir. “Gimana? Bagus?” tanyaku.
“Indah banget, Ndra.” Suaranya dipenuhi antusiasme. Kedua matanya berbinar, memantulkan keindahan yang sedang ia saksikan.
Aku tersenyum. “Vila yang kita tuju ada di sana.” Aku mengangkat tangan, menunjuk ke sebuah bangunan yang berdiri sendiri di puncak bukit kecil. Dari kejauhan, bangunan itu tampak mungil, menghadap langsung ke lautan lepas.
Tari mengikuti arah telunjukku. “Yang itu, Ndra?” tanyanya, suaranya penuh kekaguman. “Tempatnya bagus banget.”
Aku tersenyum lagi, kali ini lebih dalam.
Untuk kesekian kalinya, hatiku merasa begitu damai. Seolah keindahan dunia ini semakin nyata hanya karena dia ada di sampingku. Tari adalah pelangi di hidupku, pelangi yang membias setelah hujan panjang yang pernah melanda. Tanpa sadar, aku merasa segalanya lebih indah ketika bersamanya.