Sekian waktu kami jalani dengan bercucur keringat dan air mata. Tak peduli berapa banyak orang mencoba memisahkan, aku berharap semesta justru mempersatukan.
Sudah beberapa hari aku tinggal di vila bersama Tari. Meski tidur di kamar terpisah, tetap saja ada kecanggungan yang tak bisa dihindari. Setiap kali berpapasan dengannya, detak jantungku tak pernah bisa tenang. Entah mengapa, keberadaannya selalu membuat suasana terasa berbeda—hangat, tetapi juga menggelisahkan dalam cara yang sulit dijelaskan. Meski begitu, jika boleh meminta, aku ingin momen ini bertahan selamanya, sampai akhirnya kami duduk berdampingan di pelaminan.
Hari-hari di vila dipenuhi kebersamaan yang terasa begitu alami. Tari dengan sabar mengajariku memasak, sesuatu yang selama ini tak pernah kupedulikan. Sebagai gantinya, di pagi atau sore hari, aku mengajaknya berolahraga.
Pagi ini, seperti biasa, aku berkutat dengan dumbbell di ruang gym vila. Dengan satu tangan, aku menaik-turunkan beban 15 kg untuk melatih otot lenganku, sementara dalam hati menghitung repetisi. Saat menoleh ke samping, mataku menangkap Tari yang berdiri diam, memperhatikanku dengan ekspresi sulit diterka.
Aku mengangkat alis, memberi isyarat bertanya.
“Otot kamu ... kok bisa besar begitu?” tanyanya tiba-tiba, terdengar sedikit heran.
Aku terkekeh kecil sebelum menjawab. "Sejak dulu aku suka nge-gym. Tapi sebenarnya bukan buat membentuk otot begini," ujarku, lalu meletakkan dumbbell kembali ke rak. "Aku latihan angkat beban cuma karena hobi. Daripada nggak ada kegiatan, aku lebih suka mengisi waktu luang di gym."
Sambil berbicara, aku menyeka keringat yang mulai membasahi wajah dan dadaku.
Tari masih memperhatikanku, lalu tiba-tiba terkikik pelan. "Pantesan aja Mbak Asyifa tergila-gila sama kamu, Ndra."
Aku mengernyit, sedikit terkejut dengan ucapannya. "Hmm? Memangnya ... kamu juga nggak ...?"
Kalimatku menggantung di udara. Aku ragu melanjutkannya, lalu memilih untuk berpindah ke Abdominal Bench dan bersiap melatih otot perut.
Namun, Tari tampaknya tak ingin membiarkan kata-kataku menguap begitu saja. "Tadi kamu mau bilang apa?" tanyanya, matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang semakin besar.
Aku pura-pura tidak mendengar. "Nggak ada. Lupain aja."
Aku menaiki alat dan menggantungkan kakiku pada bar. Namun, sebelum sempat memulai latihan, suara Tari kembali terdengar—kali ini lebih pelan, tapi cukup jelas untuk membuat jantungku berdegup lebih kencang.
"Mungkin ... termasuk aku juga."
Aku sontak menoleh ke arahnya, terkejut.
Seketika, udara di ruangan itu terasa berbeda.
Aku ingin tersenyum, ingin mengatakan sesuatu, tapi rasanya semua kata-kata tertahan di tenggorokan. Perasaan ini terasa aneh, tapi nyata. Sangat nyata.
-II-
Aku memilih pergi sendiri untuk menemui Asyifa, tanpa mengajak Tari. Alasanku? Aku hanya mengatakan bahwa aku harus membeli bahan makanan—dan kebetulan persediaan di vila memang sudah menipis. Alasan yang cukup masuk akal agar Tari tidak curiga, meskipun pada awalnya ia ingin ikut denganku. Aku meyakinkannya untuk tetap di vila dan bersih-bersih saja. Dengan sedikit ragu, akhirnya ia mengiyakan.
Mengenai Asyifa, perempuan itu harus merasakan bagaimana hancurnya perasaan yang telah ia buat dengan taktik liciknya. Aku tak akan membiarkan semua ini berlalu begitu saja. Luka yang kutanggung harus ia rasakan berkali lipat. Sekarang aku tahu rahasia keluarganya. Rasyid telah bekerja dengan sangat baik, mengumpulkan bukti yang cukup kuat untuk menyeret mereka ke tempat yang seharusnya—penjara.
Saat ini, aku duduk di ruang tamu rumah megah milik keluarga Hartono. Pembantu rumah tangga itu tadi telah memanggil Asyifa dan si tua bangka. Aku menunggu, menahan diri agar amarahku tidak meluap sebelum waktunya. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Asyifa muncul bersama ayahnya, Hartono.
"Kamu masih berani datang ke sini, Andra?" Hartono membuka pembicaraan dengan nada merendahkan, lalu duduk di sofa tepat di hadapanku.
Sementara itu, Asyifa mendekat dan mencoba membelai kepalaku, sesuatu yang dulu mungkin akan meluluhkanku. Namun, aku segera menghindar dan menepis tangannya. Ia tampak kaget, lalu duduk di samping ayahnya dengan wajah muram. Maaf saja, aku tidak akan menunjukkan kelembutan pada perempuan seperti dirinya.
"Saya akan menyeret kalian ke penjara!" ucapku tegas.
Hartono tertawa pelan, seolah menganggap ucapanku hanyalah omong kosong belaka.
"Menyeret kami ke penjara?" Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai. "Bagaimana caranya, Andra? Kamu tidak cukup mampu untuk itu. Kamu tidak punya bukti apa pun. Dan lagi-lagi, uang akan menang. Uang selalu bisa menyelesaikan segalanya."
"Bajingan!" Aku mengepalkan tangan, menahan hasrat untuk melayangkan pukulan ke wajahnya. "Lihat saja, Hartono. Aku tahu bisnis apa yang kalian jalankan selama ini. Investasi yang kalian tanam di berbagai perusahaan hanya kedok, kan?" Aku menatap tajam ke arahnya. "Katakan kalau aku salah."
Senyum meremehkan di wajahnya perlahan menghilang. Matanya mulai menyiratkan kegelisahan. Asyifa pun menunjukkan ekspresi serupa—resah, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat curang.
"Apa ada yang membuatmu takut, Tua Bangka?" Aku tertawa pelan, menikmati perubahan ekspresinya. "Kamu pasti tidak percaya aku menemukan rahasia besar kalian, kan? Selama ini aku hanya dianggap bodoh dan tidak berpendidikan, ya? Tapi sekarang, kebenaran akan terungkap. Sebentar lagi kalian akan jatuh miskin, menanggung malu lebih dari apa yang aku alami!"
Aku merogoh saku kemeja, menarik beberapa lembar kertas yang telah kusiapkan. Dengan gerakan tenang, aku meletakkan foto-foto itu di atas meja, memperlihatkan bukti yang tak terbantahkan—gambar yang menunjukkan keterlibatan Hartono dalam bisnis narkoba.
Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, aku bangkit berdiri, siap meninggalkan mereka yang kini terdiam dalam keterkejutan dan ketakutan.
"Lihat saja! Dan tunggu saja tanggal mainnya. Kalian akan merasakan bagaimana hidup di balik jeruji besi," ucapku dengan nada tajam sebelum berbalik pergi.