"Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?" tanyaku, duduk di sampingnya.
Tari bersandar di dadaku, sementara mata kami sama-sama tertuju pada ombak yang berkilauan diterpa cahaya bulan. Suara deburan ombak menjadi latar yang menenangkan.
"Kamu lelaki yang baik, Ndra. Aku mungkin akan sangat menyesal kalau sampai menolak kamu," ucapnya lirih. "Dan aku punya satu alasan kenapa aku berubah pikiran."
Aku menoleh, menatap wajahnya yang kini tertunduk. Beberapa detik kemudian, ia menoleh ke belakang, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran ragu dan ketulusan.
"Apa alasan itu?" tanyaku, penasaran.
Tari menarik napas, lalu bibirnya melengkung dalam senyum kecil. "Aku mulai merasa ... kalau aku jatuh cinta sama kamu."
Seakan ada dorongan tak terlihat yang mengangkatku tinggi ke angkasa. Sudah lama sekali aku tidak mendengar seseorang mengatakan cinta kepadaku. Namun, kalimat itu—yang baru saja meluncur dari bibir Tari—terasa jauh lebih bermakna dibandingkan kata-kata cinta yang dulu pernah kudengar dari Nadia ataupun Asyifa. Jantungku berdegup lebih cepat, dan aku yakin wajahku kini memerah. Kasmaran memang hal paling indah di dunia—sesuatu yang membuatku ketagihan untuk terus merasakannya.
"Gimana dengan kamu, Ndra?" Tari bertanya ragu. "Apa ... kamu juga—"
"Sudah lama," potongku sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. "Sudah lama sekali aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu. Aku cinta kamu, Tari. Seiring waktu berjalan, apalagi saat kamu pergi jauh dariku, aku benar-benar merasa kehilangan. Ada kekosongan yang nggak bisa diisi siapa pun. Aku pikir ... mungkin kamu tulang rusukku yang hilang. Dan aku menemukannya kembali di saat aku jatuh dari angkasa yang tinggi."
Aku tertawa kecil setelah mengucapkan kalimat itu. "Kedengarannya aneh dan mungkin berlebihan, ya?"
Tari menggeleng pelan, matanya berbinar. "Nggak, Ndra. Kamu benar." Ia menghela napas sebelum melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Sebenarnya ... aku juga udah punya perasaan ini sejak lama. Tapi waktu itu, aku takut. Takut kalau hatiku kamu rebut secara paksa. Aku juga masih menjaga perasaan lain yang penting buatku, sesuatu yang nggak bisa aku abaikan begitu saja. Aku nggak berani mengakui kalau aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Aku takut kalau akhirnya aku mengkhianati niatku sendiri untuk merawat ...."
Tari menggantungkan kalimatnya, tapi aku mengerti.
Aku tahu persis apa yang ia maksud. Posisinya saat itu begitu sulit. Ia terikat janji, sesuatu yang lebih besar dari sekadar perasaan cinta. Ada seseorang yang harus ia urus dengan sepenuh hati—seseorang yang, pada saat itu, lebih penting dariku.
"Nggak apa-apa. Jangan diteruskan kalau kamu nggak kuat." Aku mengelus rambut Tari dengan lembut, membiarkan jemariku menyapu helai-helainya yang halus.
Malam ini terasa begitu sempurna. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar hidup. Sebelumnya, aku seakan berjalan di atas serpihan kaca—terluka, hancur, dan kehilangan makna. Pernah, aku berpikir bahwa hidup ini tak ada artinya lagi. Tapi sekarang? Sekarang semuanya berbeda. Semua yang dulunya kelam kini penuh warna. Cahaya yang sempat redup kini kembali menyala.
Namun, aku tahu, satu hal masih menjadi bayangan di hatiku—Asyifa dan keluarganya. Luka itu belum benar-benar sembuh.
Esoknya, aku tak ingin menyia-nyiakan waktu. Selama kami masih berada di vila, aku ingin menikmati setiap detik bersamanya. Sebelum kami melangkah lebih jauh, sebelum janji suci itu diikrarkan, aku ingin menyelami setiap keindahan yang berlabuh di hatiku untuknya. Aku yakin, hari esok akan lebih indah dari hari ini, karena aku akan menjalani kehidupan baru bersamanya—seseorang yang mencintaiku dengan ketulusan dan kesabaran. Aku berharap, tak ada lagi rasa yang tanggal atau harapan yang kandas.
Sore itu, aku mengajaknya ke sebuah dermaga. Aku ingin kami menikmati matahari tenggelam bersama. Senja yang menyapu langit dengan semburat jingga terasa tak kalah romantis dari sinar rembulan di malam hari.
Kami duduk berdampingan di ujung dermaga, kaki kami menjuntai ke bawah, hampir menyentuh permukaan air yang tenang. Di kejauhan, perahu-perahu kecil berlayar perlahan, membiarkan angin membawa mereka ke tujuan masing-masing. Tari menutup matanya sejenak, menghirup udara laut yang segar. Saat ia membuka mata, ada ketenangan di wajahnya—seolah ia baru saja menyerap anugerah Tuhan yang tersembunyi dalam kesederhanaan dunia.
"Kamu senang?" tanyaku, menatapnya penuh arti.
Tari mengangguk kecil, lalu tersenyum lebar. "Aku bahagiaaaaa banget, Ndra. Makasih, ya, atas semua yang udah kamu lakuin buat aku. Aku tahu, rasa terima kasih aja nggak cukup buat balas semua kebaikanmu—"
Aku tak membiarkannya menyelesaikan kalimat itu. Dengan lembut, kulekatkan jari telunjukku di depan bibirnya yang merona, berbalut lipstik merah muda. Tari sedikit terkejut, lalu menunduk, mengalihkan pandangannya ke laut yang terbentang luas. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Mungkin gugup, mungkin sesuatu yang lain. Tapi satu hal yang kutahu pasti—dia menerima sikapku dengan penuh kerelaan.
Setelah beberapa saat hening, Tari akhirnya membuka suara. "Tahu nggak, Ndra. Aku selalu berusaha memaknai hidup ini lewat hal-hal di sekitar kita. Aku ingin memahami kenapa aku ada di dunia ini, kenapa Tuhan memberiku kehidupan."
Aku menoleh padanya. "Misalnya?" tanyaku, tertarik dengan pemikirannya.
Tari tersenyum tipis sebelum menjawab. "Misalnya seperti lautan. Laut itu indah, luas, dan tenang. Biru airnya membuat kita terpukau. Tapi, kadang keindahan itu bisa saja menikam kita. Bisa saja kita tertipu olehnya, terbawa arus tanpa sadar."
Aku mengangguk, lalu menatapnya dengan mata penuh makna. "Lalu, bagaimana dengan keindahanmu sendiri? Apakah aku juga tertipu oleh keindahanmu?"
Tari terdiam sejenak, lalu terkikik pelan. Matanya berbinar, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi memilih menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Senja kian meredup, tetapi kehangatan yang ia tinggalkan masih terasa di antara kami.
“Memangnya, apa yang indah dariku?” tanya Tari, matanya berbinar dalam bias cahaya senja.
Aku tersenyum, menatapnya dengan penuh arti. “Nggak bisa dijelasin. Indah itu indah. Nggak ada kata lain selain itu. Wajar kalau manusia memandang fisik, kan? Tuhan memberi kita mata untuk menikmati keindahan. Dan kita seharusnya bersyukur atas segala keindahan yang Dia ciptakan.”