Aku membaringkan Tari dengan hati-hati di sofa. Sebelum melangkah ke dapur, mataku masih terfokus pada sosoknya yang tergeletak begitu memikat. Betapa seksi perempuan ini. Sayangnya, aku belum resmi menjadi suaminya, dan itu membuat segala sesuatu terasa lebih rumit. Kuhela napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil sebotol minuman dingin.
Setibanya di dapur, mataku tertumbuk pada botol wine yang tergeletak di atas meja. Seketika, kecurigaanku terbukti. Mungkin Tari salah minum, atau bisa jadi ia hanya penasaran bagaimana rasanya anggur? Tapi ... apa iya? Rasanya aneh, tapi kenyataan itu terlalu mencolok untuk diabaikan.
Aku segera kembali ke ruang depan, menuju Tari yang masih bergumam tak jelas sambil menyebut-nyebut namaku, seperti sebelumnya. Aku menggelengkan kepala, perasaan campur aduk.
Aku meraih tubuhnya dengan hati-hati, membantunya bergerak menuju kamar. Dia cukup berat, meskipun tubuhnya terbilang proporsional. Rasanya, Tari sudah banyak berubah sejak pertama kali bertemu denganku.
“Andra ....”
Aku membaringkannya di atas tempat tidur. Sekilas, dia tampak sangat lelah, hampir tak berdaya. Aneh, dia terus saja menggumamkan namaku, seolah aku satu-satunya yang ia kenal saat itu.
Dengan perlahan, aku menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang rapuh. Ingin aku mengecupnya, sungguh, tapi aku tahu itu bukanlah sesuatu yang bisa kulakukan. Aku khawatir jika aku khilaf, jika dorongan dalam diriku ini lebih kuat dari rasionalitasku. Manusia, kadang kala, bisa terjerumus dalam kesalahan hanya karena ada kesempatan.
Aku menatap wajahnya dalam diam. Tanpa sadar, bibirku semakin dekat, hingga akhirnya aku mengecup keningnya dengan lembut—sebuah ciuman penuh rasa cinta. Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi seakan terpatri dalam ingatanku. Segera setelahnya, aku beranjak pergi, tapi sebuah tangan lembut menarik lenganku, menghentikan langkahku.
Aku menoleh ke belakang. Tari membuka mata, senyumannya penuh makna, menyentuh hatiku dengan cara yang tak terduga.
“Makasih, Sayang,” katanya lirih, suaranya begitu menenangkan.
Dengan hati berbunga-bunga, aku melangkah ke kamar. Bibirku tak bisa menahan senyum yang terbit begitu saja, di tengah gejolak kasih yang baru saja tumbuh.
-II-
Hari ini, untuk pertama kalinya, Tari terlambat bangun. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Biasanya ia selalu bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan, tetapi kali ini, aku terpaksa mengganjal perutku yang keroncongan dengan segelas susu putih dan sepotong roti tawar.
Kupikir, wajar saja kalau Tari belum bangun, mengingat kemarin malam ia sempat minum alkohol yang sengaja kusediakan untuk diriku sendiri. Aku biasanya meminum itu saat pikiranku sedang kacau, dan mungkin Tari tidak menyadari efeknya.
Beberapa menit kemudian, aku selesai menghabiskan roti yang telah kuolesi selai nanas, dan saat itu, Tari muncul dengan wajah kusut dan rambut berantakan, seolah baru saja bangun tidur.
Aku menatapnya dengan sedikit heran. “Berantakan sekali,” ucapku pelan, tapi Tari hanya berlalu begitu saja. Ia membuka lemari es, mengambil sebotol air putih, dan meneguknya perlahan. Setelah itu, ia menatapku dengan raut wajah yang agak sungkan.
“Ada apa?” tanyaku, sedikit curiga.
“Kamu ....” Nada bicara Tari terdengar merendah. Ia tampak enggan menatap mataku.
Aku menyipitkan mata, meneliti ekspresinya, yang tampak agak gelisah. “Kamu apain aku kemarin malam?”
Pertanyaan Tari membuatku terlonjak kaget. Astaga! Hatiku berdegup kencang. Aku merasa seperti orang yang telah merenggut kesuciannya saat ia terpengaruh efek alkohol.
“Aku? Nggak, aku nggak ngapa-ngapain kamu. Aku berani bersumpah,” jawabku, mencoba meyakinkannya. “Memangnya kenapa kamu menanyakan hal seperti itu? Aku malah bingung kenapa kamu bisa sampai mabuk seperti kemarin malam.”
Tari mengembuskan napas panjang, terlihat lega. “Aku pikir kamu ... ngambil kesempatan dalam kesempitan.” Kemudian ia tertawa renyah, kembali menunjukkan ekspresi cerianya yang aku kenal.
“Ya, nggaklah.” Aku ikut tersenyum, meski masih ada rasa canggung.
“Maaf, aku nggak tahu kalau yang aku minum ternyata minuman beralkohol,” lanjut Tari, masih sedikit malu.
Sebenarnya aku sudah menduga bahwa ia tidak tahu minuman itu mengandung alkohol. Mungkin aku yang ceroboh, tidak memberitahunya sebelum ia meminumnya.
“Dasar bodoh!” ucapku, setengah tertawa, sambil mendekat. Tanpa berpikir panjang, aku meraih tubuhnya dan memeluknya spontan.
Tari terlihat terkejut, dan aku pun menyadari apa yang baru saja kulakukan. Ini bisa membuat suasana jadi canggung di antara kami, tapi tubuhku bergerak begitu saja, seolah tak bisa menahan diri. Tari memang begitu imut, aku tak bisa menahan untuk tidak bersikap lembut dan hati-hati padanya.
Namun, seketika aku sadar, aku melepaskannya dengan cepat. “Maaf,” kataku pelan, mencoba meredakan canggung yang muncul.
Tari juga terlihat canggung, dengan napas yang terasa berat, dadanya kembang-kempis. Aku pun memecah keheningan dengan berbicara. “Lain kali, jangan minum sembarangan,” kataku, mencoba mengalihkan suasana.
Tari hanya mengangguk tanpa menatapku.
“Sekarang mandilah. Aku akan mengajakmu jalan-jalan.”
“J-jalan-jalan?” Tari seketika semringah, tampak sangat antusias.
“Iya, jalan-jalan. Ayo, sekarang mandi. Kita akan pergi bersenang-senang.”
“Asyik!” serunya girang, sambil berlari meninggalkanku menuju kamar mandi.
Aku tersenyum melihat semangatnya yang kembali muncul. Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang menyenangkan.
Aku mengajak Tari pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa pakaian baru untuknya. Seingatku, pakaian yang ia bawa ke vila tak terlalu banyak. Karena itu, aku merasa inilah saat yang tepat membelikannya beberapa barang yang dia butuhkan.
Begitu tiba di pusat perbelanjaan, Tari langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat berbagai pakaian wanita yang tertata rapi di rak-rak dan manekin yang dipajang di sana-sini.
“Pilihlah yang kamu suka. Jangan khawatirkan harganya. Kalau itu bagus menurutmu, aku akan membelikannya,” kataku, mencoba membuatnya merasa nyaman.
“Aku … boleh pilih semuanya?” tanyanya dengan nada sungkan, seolah merasa canggung.