I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #23

Maafkan Aku, Sayang ....

Setelah menerima lokasi yang dibagikan Rasyid melalui WhatsApp, aku segera melaju ke tempat yang disebutnya sebagai lokasi transaksi Hartono. Rasyid memang telah bekerja sama dengan seorang polisi untuk melacak lelaki tua itu dengan segala cara yang memungkinkan.

Tari, maafkan aku. Aku tahu telah mengingkari janjiku padamu, tapi ini adalah pilihan terbaik. Aku ingin memastikan bahwa Hartono tidak lagi mengganggu kita. Aku ingin menciptakan kedamaian dengan caraku sendiri—melenyapkan ancaman ini selamanya. Aku sudah melihat sendiri bagaimana air matamu tumpah, bagaimana ketakutan merayapi wajahmu, dan bagaimana trauma mencengkeram tanpa ampun. Semua itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Hartono dan Asyifa harus membayar semua yang telah mereka lakukan.

Aku menginjak pedal gas lebih dalam. Jalanan sepi, hanya ada gemerlap lampu jalan yang berpendar di kaca spion. Beberapa jam kemudian, aku tiba di sebuah perkampungan yang tampak kumuh. Bangunan di depanku berbeda dari tempat penyekapan Tari dulu. Kali ini, lokasinya jauh lebih tersembunyi, berada di dalam gang kecil yang nyaris tak terjamah. Perumahan warga pun jarang terlihat di sekitar sini, menambah kesan angker dan sunyi.

Aku melirik ponsel, memastikan titik lokasi yang dikirimkan Rasyid. Setelah menemukan posisinya, aku berjalan pelan menyusuri gang sempit, langkahku terjaga agar tidak menimbulkan suara mencurigakan. Mataku menyapu sekitar, mengamati setiap sudut yang bisa menjadi ancaman.

Di kejauhan, aku melihat siluet seseorang yang berjongkok di balik tumpukan bata. Cahaya remang dari bangunan utama sedikit menerangi wajahnya—itu Rasyid. Aku mendekat dengan hati-hati, menundukkan badan agar tetap tersembunyi di balik tumpukan bata yang cukup besar untuk melindungi tubuh kami.

Rasyid dan seorang pria berambut cepak—polisi yang bersamanya—sedang fokus mengamati keadaan. Dari balik celah bata, aku mengintip ke dalam bangunan yang diterangi lampu redup. Pintu depannya sedikit terbuka, dan aku bisa melihat dua pria mondar-mandir di dalam, tampaknya mereka adalah penjaga yang siap menghadapi segala kemungkinan buruk.

“Bagaimana situasinya?” bisikku pelan setelah berada di belakang Rasyid.

“Semua berjalan sesuai prediksi, Pak,” jawabnya lirih, tetap menjaga pandangannya ke arah bangunan.

Sementara itu, polisi yang bersamanya tampak jauh lebih waspada. Lelaki itu memegang pistol dengan kedua tangan, ujung larasnya diarahkan ke bawah, tapi aku bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuhnya. Dia tak ingin lengah, terutama di saat genting seperti ini.

“Pak.” Rasyid berbisik sambil menyodorkan sesuatu ke arahku. “Ini untuk Anda, jaga-jaga kalau situasi memburuk. Saya yakin Anda bisa melindungi diri sendiri.”

Aku menatap benda di tangannya—sebuah Stun Gun. Tanpa ragu, aku mengangguk dan mengambilnya. Jemariku menggenggam erat senjata itu, sementara pikiranku mulai bersiap untuk segala kemungkinan.

Malam ini, Hartono harus jatuh.

Aku tetap mengawasi bangunan kumuh itu dengan saksama, seperti yang dikatakan Rasyid. Kami harus menunggu hingga Hartono benar-benar muncul.

Di tengah ketegangan, aku merasakan getaran halus dari dalam saku celanaku. Ponselku bergetar, pertanda ada yang mencoba menghubungiku. Bisa jadi Tari, mungkin juga seseorang yang lain. Tapi aku mengabaikannya. Saat ini, fokusku hanya satu—menyaksikan akhir dari pengejaran panjang ini.

Puluhan menit berlalu. Kaki dan punggungku mulai kesemutan akibat terlalu lama berjongkok di balik tumpukan bata. Lalu, seseorang akhirnya keluar dari dalam bangunan. Seorang lelaki bertubuh pendek mengenakan topi koboi hitam dan jas gelap. Di tangannya tergenggam sebuah koper yang tampak berat. Ia berjalan santai mendekati seorang pria plontos berjaket kulit. Keduanya berbincang sambil sesekali tertawa, seolah-olah yang mereka bicarakan hanyalah percakapan ringan. Namun, ada dua pria lain yang berdiri tak jauh dari mereka, masing-masing memegang senjata AK-47.

Aku menelan ludah. Ini bukan sekadar pertemuan bisnis biasa—ini transaksi kelas berat.

Obrolan mereka terhenti ketika sosok yang kutunggu akhirnya muncul. Hartono.

Tua bangka itu melangkah keluar dengan kepercayaan diri yang mengerikan, seolah dunia berada dalam genggamannya. Sorot matanya tajam, dan senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Kita siap-siap,” ucap teman Rasyid yang mengenakan rompi polisi.

Rasyid segera menyodorkan sesuatu kepadaku. “Pak, pakai ini.”

Aku menerima rompi anti-peluru darinya dan segera mengenakannya. Bahannya terasa tebal dan berat di tubuhku, tapi aku tahu benda ini bisa menjadi penyelamat nyawaku dalam hitungan detik ke depan.

Tanpa menunggu lebih lama, polisi itu keluar dari balik tumpukan bata dan berjalan tegap ke arah para kriminal yang masih bercengkerama.

“POLISI! JANGAN BERGERAK! BUANG SENJATA! JANGAN MEMBERONTAK!”

Suara lantangnya menggema di udara, memecah kesunyian malam.

Jantungku berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku terlibat misi penangkapan seperti ini. Semua yang terjadi di depan mataku terasa begitu nyata sekaligus mustahil. Aku tahu Hartono bukan sekadar penjahat biasa. Jaringan narkobanya sudah merajalela, tidak hanya dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Dan kini, aku berada di tengah perburuan yang bisa menentukan segalanya—hidup atau mati, kebebasan atau penjara.

Aku paham betul sebagai warga sipil, aku dan Rasyid seharusnya tidak ikut campur dalam misi sekritis ini. Bahkan, polisi yang bersama kami sudah mengingatkan bahwa dia tidak akan bertanggung jawab jika sesuatu di luar kendali terjadi. Namun, aku juga tahu satu hal. Jika Hartono tidak tertangkap malam ini, aku dan Tari tidak akan pernah bisa hidup tenang. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

Suasana tiba-tiba membeku.

Kelima pria di depan bangunan berdiri kaku, saling bertukar pandang dalam diam. Aku bisa merasakan ketegangan yang merayap di udara, seakan waktu berhenti sejenak sebelum badai menerjang.

Hartono menatapku dengan sorot penuh kebencian. Aku tahu betul kenapa. Aku adalah ancaman bagi bisnis haramnya. Aku adalah duri yang mengusik kenyamanannya selama ini. Tapi dia tidak lama terdiam.

DOR! DOR!

Dua anak buahnya langsung melepaskan tembakan.

Sang polisi bereaksi cepat, melompat ke samping, berlindung di balik tumpukan bata. Aku mengikuti gerakannya. Dentuman senjata terus terdengar, memenuhi udara malam yang semula sunyi.

Target utama—Hartono—berusaha melarikan diri. Anak buahnya sigap melindunginya, mengawalnya masuk kembali ke dalam bangunan. Tapi aku tidak akan tinggal diam.

Kami menerobos masuk.

Bangunan ini lebih luas dari perkiraanku, dengan banyak lorong dan ruangan yang bisa digunakan Hartono untuk bersembunyi. Mereka berpencar. Hartono berlari ke arah kiri, diikuti satu anak buahnya, sementara tiga lainnya bergerak lurus ke depan.

Aku memilih mengikuti Hartono.

Dia terus berbelok, masuk ke dalam ruangan lain. Sementara itu, anak buahnya tetap berada di belakang, menahanku dengan tembakan bertubi-tubi. Aku berusaha berlindung di balik material bangunan—tumpukan kayu, beton, bahkan lemari tua yang sudah lapuk. Saat tembakan mereda sejenak, aku memanfaatkan celah itu untuk bergerak.

Aku mengendap-endap, berusaha mengontrol napasku agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Aku yakin mereka sedang bersembunyi di ruangan material bangunan, menungguku masuk ke perangkap mereka.

Di dalam ruangan ini, ada beberapa rak buku besar yang sudah rapuh. Aku merunduk, menempelkan tubuh ke salah satunya, lalu mengintip perlahan. Ternyata ada pintu lain yang mengarah ke ruangan sebelah. Tapi aku tidak akan gegabah. Aku tahu, Hartono tidak mungkin sendirian. Dia pasti sudah menugaskan anak buahnya untuk memastikan aku mati di tempat ini.

Aku menelan ludah.

Suara tembakan kembali terdengar, menggema di ruangan sempit ini. Butir-butir debu jatuh dari rak di atas kepalaku. Aku tahu apa yang sedang mereka lakukan—mencoba menakutiku, memaksaku keluar dari persembunyian.

Aku tidak akan terpancing.

Aku bergerak dari satu rak ke rak lain, tetap menjaga langkah agar tidak terdengar. Di balik pintu, aku bisa mendengar napas seseorang. Aku merapat ke dinding di samping pintu yang terbuka lebar. Aku belum berani menampakkan diri. Satu kesalahan saja, dan aku mati.

Ponselku kembali bergetar. Kali ini lebih keras.

Aku membelalak. Sial! Jika pria itu mendengar suara getar ini, habislah aku! Ruangan ini terlalu sunyi untuk bisa menyembunyikan suara sekecil apa pun. Aku menahan napas, berharap getaran itu cepat berhenti, tapi jantungku justru semakin berdebar kencang.

Otakku berpacu mencari jalan keluar. Aku tidak mungkin menang dalam baku tembak—aku hanya punya Stun Gun, sementara lawanku bersenjata api. Jika aku melakukan kesalahan sedikit saja, nyawaku bisa melayang.

Dan yang kutakutkan benar terjadi. Pria itu bergerak.

Dia melangkah masuk, perlahan, penuh waspada. Napasku tercekat saat ia berdiri tepat di sebelahku. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sudut mata—rahangnya tegang, jemarinya erat menggenggam senjata.

Aku tidak punya waktu untuk berpikir lebih lama.

Dengan cepat, aku melayangkan tendangan keras ke selangkangannya. Pria itu tersentak mundur, mengerang kesakitan. Tidak membuang waktu, aku segera menempelkan Stun Gun ke pinggangnya dan menekan tombolnya.

BZZZTTT!

Pria itu menjerit. Tubuhnya mengejang hebat, tapi aku tidak berhenti. Aku terus menekan alat itu ke tubuhnya, memastikan ia benar-benar kehilangan kesadaran. Beberapa detik kemudian, tubuhnya ambruk ke lantai, tak bergerak.

Lihat selengkapnya