Kehampaan yang mencekam menembus hingga relung terdalam tubuhku. Aku merasa ada, tetapi sekaligus tiada. Di mana aku sekarang? Masihkah aku dalam pangkuan Tari? Jika iya, mengapa kehangatannya tak lagi terasa? Atau mungkinkah ... aku sudah mati?
Segalanya gelap. Pekat. Tak ada secercah cahaya yang menerobos.
Lalu, samar-samar, aku merasakan sesuatu—sentuhan lembut di tangan kananku. Aku tak bisa melihat siapa yang menyentuhku, tetapi hatiku yakin, kulit itu milik Tari. Sentuhan yang begitu kukenal, yang begitu kurindukan.
Tak lama kemudian, dalam kegelapan yang nyaris abadi itu, seberkas cahaya muncul. Aku menggapainya, berusaha bangkit dari kehampaan yang melenyapkanku. Saat itu juga, segalanya berubah. Dunia yang sebelumnya gulita kini benderang.
Cahaya pertama yang kulihat berasal dari bohlam lampu di atas kepala, menyilaukan mataku yang baru saja terbuka setelah entah berapa lama tenggelam dalam kesunyian.
“Andra ....”
Suara itu lirih, hampir seperti bisikan, tapi aku mengenalnya dengan pasti. Tari. Perempuan yang kucintai dengan segenap jiwa dan raga.
Apakah aku masih hidup? Apakah Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihatnya, menyaksikan senyum dan air matanya? Aku ingin bersyukur, ingin mengucapkan terima kasih kepada-Nya karena telah mengembalikanku.
Tubuhku terasa lemah, seolah seluruh tenaga telah terkuras habis. Dengan susah payah, aku mencoba menggerakkan jemariku. Lalu perlahan, dengan usaha yang nyaris mustahil, aku menoleh ke kanan.
Di sana, di samping ranjang tempatku terbaring, Tari duduk dengan wajah sendu, air matanya tak henti berderai.
Aku ingin mengatakan sesuatu, ingin menenangkannya, ingin memberitahunya bahwa aku masih di sini. Tapi napasku berat, dadaku terasa sesak. Aku tak ingin menyerah. Dengan segenap tenaga yang tersisa, aku akhirnya berhasil mengucapkan namanya—nama yang selalu kuingat, bahkan di antara batas sadar dan tak sadar.
“Andra ....”
Suara Tari bergetar. Ia buru-buru membekap mulutnya, mungkin tak kuasa menahan gelombang emosi yang membuncah dalam dadanya. Tanpa ragu, ia merengkuhku dalam dekapannya, merebahkan kepalanya di dadaku yang masih terasa lemah.
Ah, betapa aku merindukannya. Aku ingin menceritakan segalanya—tentang apa yang kulihat dalam kehampaan, tentang bagaimana rasanya berada di antara hidup dan mati.
Waktu berlalu tanpa bisa kuhitung. Lalu, langkah seseorang terdengar memasuki ruangan. Seorang pria berjas putih kini berdiri tak jauh dari kami. Tatapannya penuh ketenangan dan kewaspadaan.
Dokter.
Kini aku tahu di mana aku berada. Ini rumah sakit. Tubuhku lemah, infus terpasang di tanganku, dan aku baru saja kembali dari sesuatu yang hampir saja merenggutku selamanya.
“Mbak, maaf. Kami periksa dulu, ya, Pak Andra,” ujar dokter itu dengan nada ramah.
Tari segera bangkit dari tempatnya. Ia menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya sebelum kembali duduk di kursi stainless di samping ranjang.
Dokter mendekat, lalu menempelkan stetoskop di dadaku. Aku hanya bisa diam, menunggu hasil pemeriksaannya. Beberapa detik kemudian, ia menghela napas ringan dan mengangguk kecil.
“Sepertinya kondisi Pak Andra sudah cukup stabil,” katanya sambil tersenyum tipis. “Saya bersyukur beliau masih bisa bertahan setelah beberapa peluru kami keluarkan dari perut dan punggungnya.”
Peluru? Seketika ingatan tentang kejadian itu melintas kembali. Rasa nyeri samar yang masih terasa di tubuhku seolah menjadi bukti bisu atas apa yang telah terjadi.
“Saya cukup heran,” lanjut dokter itu, “padahal Pak Andra memakai rompi anti-peluru. Tapi saya menduga bahwa senjata yang digunakan tersangka bukan produksi sembarangan. Bisa jadi itu model khusus yang menembus rompi dengan lebih mudah.”
Tari menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu menunduk sambil berulang kali berbisik, “Alhamdulillah … Alhamdulillah Ya Allah ….” Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena kesedihan—melainkan rasa syukur yang begitu mendalam. Senyum yang kini merekah di wajahnya penuh kehangatan, seakan-akan beban besar baru saja terangkat dari hatinya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu,” ujar dokter seraya merapikan peralatannya. “Kalau ada yang dibutuhkan, silakan panggil saya.”
Setelah memberi senyuman kepada Tari, ia beranjak keluar, meninggalkan suasana yang kini sedikit lebih ringan. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Tak lama setelah dokter pergi, pintu kamar terbuka kembali. Masuklah Rasyid, diikuti seorang pria berambut cepak—teman sekaligus polisi yang bertugas menangkap Hartono.
Begitu melihatku terbaring di ranjang, Rasyid menoleh ke arah Tari. “Bagaimana keadaan Pak Andra, Mbak?” tanyanya penuh perhatian.
Tari berdiri, mengangguk pelan. “Sudah membaik. Kata dokter, kondisinya cukup stabil,” jawabnya dengan nada lega.
“Alhamdulillah.” Rasyid tersenyum tipis, jelas terlihat bahwa ia juga merasa lega mendengar kabar itu.
“Kalau begitu, kami tak ingin mengganggu lebih lama. Kalau butuh apa-apa, tinggal hubungi saya.”
Setelah memastikan keadaanku baik-baik saja, kedua pria itu meninggalkan ruangan. Namun, pikiranku masih terpaku pada satu hal—Hartono. Aku ingin tahu bagaimana nasib lelaki tua bangka itu. Apakah mereka berhasil menangkapnya?
Gambaran terakhir sebelum aku kehilangan kesadaran masih jelas di benakku. Aku melihatnya berlari dengan kaki pincang akibat tembakan yang bersarang di kakinya—peluru dari pistol rekan Rasyid. Setelah itu, semuanya menjadi gelap. Aku tak tahu bagaimana akhir kejadian itu.
Tapi aku berharap, kali ini, mereka berhasil menangkapnya. Bersama Asyifa, perempuan yang telah tega menyebarkan fitnah keji tentangku.
“Andra, makan dulu, ya, Sayang.”
Suara lembut Tari membangunkanku dari lamunan. Ia duduk di samping ranjang dengan semangkuk bubur di tangannya. Perlahan, ia menyendok bubur itu dan menyuapkannya kepadaku.
Aku tak menolak. Justru ada kehangatan yang menyelusup di hatiku, menikmati momen kebersamaan ini. Mungkin inilah hikmah dari semua yang telah terjadi. Aku percaya, di balik setiap peristiwa selalu ada pelajaran yang bisa dipetik.
Aku mengangguk pelan, lalu membuka mulut. Tari menyuapkan setengah sendok bubur, cukup untuk membuatku merasa lebih baik meski tenggorokanku masih terasa kering.
Aku menatapnya sejenak. Kadang aku bertanya-tanya, apa jadinya jika tak pernah bertemu Tari, jika dulu aku menolak saat ia melamar pekerjaan di perusahaanku? Mungkin hidupku akan berjalan ke arah yang sama sekali berbeda. Namun, aku yakin, ini semua adalah bagian dari takdir. Setiap garis yang Tuhan tuliskan pasti memiliki makna, bahkan jika awalnya terasa menyakitkan.
“Kamu harus makan yang banyak, ya, Ndra, biar cepat sembuh,” ujarnya lembut sambil menyodorkan gelas berisi air putih ke bibirku. Aku menyesapnya perlahan, lalu mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Terima kasih, Tari,” ucapku lirih.
Ada sesuatu dalam dadaku yang terasa menghangat. Perasaan terharu yang ingin menyeruak, tapi kutahan. Aku tak ingin larut dalam emosi yang bisa membuatku terlihat lemah. Aku sadar, selama ini aku perlahan berubah, kembali ke diriku yang dulu—seseorang yang lebih sabar, lebih tenang.
Namun, aku juga tahu amarah masih bersemayam dalam diriku. Kadang meledak begitu saja, tak bisa kukendalikan. Semoga saja setelah semua ini, aku bisa menjalani hidup yang lebih damai. Aku ingin belajar menguasai emosiku, tidak membiarkannya mengendalikan diriku seperti sebelumnya. Tapi tetap saja, bayangan Hartono masih menghantui pikiranku.
Seandainya saja dia tidak pernah ada. Namun, jika benar dia tak pernah ada, mungkin aku juga tak akan sedekat ini dengan Tari. Ironis memang cara hidup mempermainkan takdir.
Tari tiba-tiba tersenyum lebar. Senyum yang selalu membuatku merasa tenang. Rasanya seperti berada di tengah hujan deras, lalu menemukan tempat berteduh yang begitu nyaman.
“Aku boleh tanya sesuatu?” tanyaku hati-hati.
“Tanya aja, Ndra.”
Aku menarik napas cukup dalam sebelum akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal pikiranku.