I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #25

Lamaran

Untuk menemui kedua orang tua Tari, aku harus menyiapkan diri sebaik mungkin. Penampilan rapi tentu menjadi hal utama, begitu pula dengan merangkai kata-kata yang tepat untuk melamar perempuan yang kucintai. Hari ini adalah hari penting.

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, lebih cepat dari biasanya. Segera aku menuju kamar mandi, membasuh tubuh dengan air dingin yang seketika menyegarkan pikiranku. Setelahnya, aku mengenakan setelan jas hitam yang sudah kusiapkan sejak semalam. Namun, rupanya Tari sudah lebih dulu bersiap. Ia tampak cantik seperti biasa, dengan riasan sederhana yang semakin menonjolkan pesonanya.

Begitu rapi berpakaian, aku keluar dari kamar dan melangkah ke ruang makan. Tari sedang sibuk menyiapkan sarapan, sesuatu yang tak pernah kusangka akan kulihat di rumah ini—seorang perempuan yang kucintai, berdiri di dapur, membuatkan sarapan untukku. Aku menarik kursi dan duduk, menatapnya yang masih sibuk dengan pemanggang roti.

“Roti bakar aja, ya? Soalnya nggak ada bahan makanan di rumah kamu,” ucap Tari tanpa menoleh.

Aku tersenyum kecil. “Iya, aku memang suka roti bakar buat sarapan.”

Saat ia menoleh, matanya langsung memperhatikanku. Aku tahu apa yang ia pikirkan. Setiap hari aku memang selalu memakai jas hitam, tak ada yang berbeda dari penampilanku. Tapi katanya, laki-laki akan terlihat lebih menarik ketika mereka sedang dalam suasana hati yang baik. Kuharap itu benar.

“Kerah kemeja kamu belum rapi,” ujar Tari sambil melangkah mendekat. Dengan gerakan lembut, ia merapikan kerah bajuku, membuatnya lebih teratur. “Nah, sekarang lebih bagus. Jadi kelihatan makin rapi.”

Sentuhannya terasa begitu alami, begitu hangat. Dalam momen itu, aku merasa seakan-akan kami sudah benar-benar menjadi suami-istri. Tari selalu perhatian, begitu pengertian. Aku berharap, saat nanti kami resmi menjadi pasangan sah, ia tetaplah dirinya yang sekarang—hangat, penuh kasih, dan tak berubah menjadi seseorang yang asing.

Aku paham bahwa membangun rumah tangga harmonis bukanlah hal mudah. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku ingin menjadi suami yang selalu bisa diandalkan, satu-satunya laki-laki yang ia cintai dengan sepenuh hati.

Setelah selesai sarapan, kami segera berangkat menuju kampung halaman Tari. Perjalanan terasa tenang, dengan pemandangan yang perlahan berubah dari hiruk-pikuk kota menuju suasana pedesaan yang damai. Rumah orang tuanya berdiri di tengah lingkungan yang asri, bangunan sederhana dan tertata rapi. Halamannya tidak terlalu luas, tetapi tampak begitu indah karena Tari menghiasnya dengan berbagai pot bunga. Ia memang memiliki selera yang bagus dalam mempercantik sesuatu.

Aku menepikan mobil di depan rumah. Untungnya, jalan di sekitar sini cukup lebar sehingga tak sulit mencari tempat parkir. Tari turun lebih dulu, berjalan beberapa langkah di depanku sebelum menoleh dengan senyum lembut.

“Ayo, Ndra. Ini rumah aku,” ujarnya sambil membuka gerbang putih yang tak tergembok.

Aku menarik napas dalam-dalam. Ini langkah baru dalam hidupku—melangkah masuk ke rumah yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluargaku sendiri.

“Asalamualaikum.” Tari berseru sambil mengetuk pintu dengan penuh semangat.

Aku berdiri di belakangnya, mengamati teras rumah yang terlihat begitu bersih, mungkin baru saja disapu. Tanpa pikir panjang, kulepaskan sepatu pantofel hitamku, menyisakan hanya kaus kaki cokelat yang masih membungkus kakiku.

“Biar aku aja,” kataku, menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengetuk pintu lagi. “Kan aku yang akan melamar kamu.”

Aku tersenyum lebar, mencoba menyalurkan sedikit keberanian pada diriku sendiri. Tari menatapku sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan beringsut mundur, berdiri di belakangku.

Aku menghela napas, lalu mengetuk pintu bercat putih di hadapanku. “Asalamualaikum.”

Tak butuh waktu lama, terdengar jawaban dari dalam. “Wa ‘alaikumus-salam. Sebentar, sebentar.” Suara seorang wanita, mungkin ibunya Tari.

Sekejap, dadaku berdebar lebih kencang. Inilah saatnya. Dalam hitungan detik, aku akan bertatap muka dengan orang tua Tari, berbicara dengan mereka, dan mengutarakan niatku melamar putri mereka. Tapi bagaimana jika aku ditolak? Bagaimana jika mereka merasa aku tidak cukup baik untuk Tari? Aku bahkan belum memikirkan kemungkinan terburuk itu.

“Kamu kenapa?” Suara Tari menyadarkanku dari kekhawatiran yang terus berputar di kepalaku. Rupanya ia menyadari perubahan ekspresi wajahku.

Aku menelan ludah, mendapati tanganku mulai berkeringat. “Nggak apa-apa,” jawabku pelan, mencoba menata napas agar kegugupan ini tak semakin kentara.

Tari tersenyum jahil. “Kamu gugup, kan?” godanya, sembari melirikku dengan penuh arti.

“Nggak,” sangkalku cepat. “Siapa juga yang gugup?”

Tari terkikik. “Masih aja nggak mau ngaku, padahal dari mukanya udah kelihatan.”

Klek!

Suara kenop pintu berputar membuat kami berdua refleks menegakkan tubuh. Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.

Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita separuh baya dengan hijab abu-abu yang tertata rapi. Seketika, mataku menangkap satu detail yang begitu familier—bentuk hidungnya, mirip sekali dengan Tari. Tak salah lagi, beliau adalah ibunya. Wanita yang telah melahirkan perempuan yang kini begitu kucintai.

Tari, tanpa ragu sedikit pun, langsung melangkah maju dan memeluk ibunya dengan erat. “Ibu!” serunya girang, lalu mendaratkan kecupan di kedua pipi wanita itu.

Senyum keibuan mengembang di wajahnya. “Eh, Tari?! Kamu sudah pulang, Nak?”

Tari mengangguk penuh semangat. “Iya, Bu. Tari pulang! Kangen banget sama Ibu.” Pelukannya semakin erat.

Aku tersenyum kecil, memperhatikan interaksi mereka. Baru kali ini aku menyaksikan Tari begitu manja dan penuh kasih sayang terhadap ibunya. Jelas sudah, ia seseorang yang begitu dekat dengan orang tuanya. Ia mungkin selalu terbuka pada ibunya, bercerita tentang semua hal—termasuk tentang aku.

Dan semakin aku melihat itu, semakin kuat pula keinginanku untuk memilikinya sepenuhnya. Tidak hanya sebagai pasangan hidup, tetapi juga sebagai seseorang yang akan selalu kuberikan cinta dan perlindungan. Jiwa dan raganya, berikut seluruh kasih sayangnya—aku ingin memilikinya seutuhnya.

“Ini ... siapa?” Suara lembut, tapi penuh tanya meluncur dari bibir wanita separuh baya itu. Meski nyaris berbisik, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Tari melepas dekapannya, lalu berbalik menghadap ibunya. “Oh, iya. Kenalin, Bu. Ini Andra, bos Tari di perusahaan properti tempat Tari kerja.”

Mata ibunya sedikit menyipit, lalu alisnya terangkat. “Oh, jadi dia laki-laki yang sering membentak kamu itu?!”

Suaranya tiba-tiba meninggi, membuatku sontak membelalak. Dadaku berdegup kencang. Sudah kuduga, Tari pasti sudah banyak bercerita kepada orang tuanya—termasuk hal yang tidak menguntungkan bagiku.

Aku menunduk sejenak, mencoba meredam ketegangan yang mendadak menyelimuti udara di sekitar kami. Ibunya masih menatapku tajam, seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa begitu lama.

Kemudian, tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahuku dengan lembut. Aku terangkat dari lamunanku dan mendongak.

“Ayo, masuk, Nak,” ucap wanita itu, kali ini dengan senyum teduh di wajahnya.

Aku mengerjap, belum sempat memahami perubahan drastis ini. Sementara itu, Tari yang berdiri di sampingku malah senyum-senyum sendiri, menutup mulutnya dengan tangan, seolah menahan tawa.

“Seharusnya Ibu lama-lama, dong, pura-pura marahnya,” celetuknya sambil terkikik kecil.

Lihat selengkapnya