I am Your Boss

Marion D'rossi
Chapter #26

Genting

Perempuan yang dulu pernah menyita waktuku—perempuan yang pernah begitu dekat denganku. Namun kini, ia berdiri di depanku dengan pakaian lusuh, rambut acak-acakan, dan sorot mata yang kosong tapi berkilat penuh gairah yang aneh.

Tari membeku di tempatnya, menyaksikan aku dalam pelukan perempuan itu.

“Andra-ku, Andra-ku, Andra-ku. Ya ampun!” Suara Nadia melengking, tawa bahagianya begitu nyaring, menggema di antara bising jalanan.

Aku tidak bisa bergerak. Ada sesuatu dalam caranya memanggil namaku yang membuat dadaku terasa sesak.

Kenapa begini keadaannya? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Jika memang Nadia sudah kehilangan kewarasannya, apakah itu salahku? Jika benar aku penyebabnya, maka aku takut … takut Tuhan akan menghukumku dengan sesuatu yang lebih berat.

“Nadia ….” Aku berbisik, nyaris tak terdengar, sementara tubuhnya masih menempel erat di tubuhku.

Namun, seketika pelukan itu berubah.

Tiba-tiba tangannya naik ke leherku, jemarinya mencengkeram kuat, begitu erat seolah ingin meremukkanku. Wajah yang tadinya cerah dengan senyum kegirangan itu kini berubah bengis.

“N-Nadia … j-jangan ….” Aku terbatuk, berusaha melepaskan cengkeramannya yang semakin menguat.

“Andra!”

Tari berteriak panik.

Dia segera mencoba menarik Nadia, mencengkeram tangannya yang melingkar di leherku. Pak Anto juga bergerak cepat, ikut membantu Tari memisahkan Nadia dariku.

“Perempuan gila!” seru Pak Anto, wajahnya tegang.

Dengan usaha yang cukup keras, akhirnya mereka berhasil melepaskan Nadia dari tubuhku. Aku terbatuk, merasakan napasku kembali mengalir ke paru-paruku.

Tari berdiri di depanku, merentangkan kedua tangannya, berdiri seperti perisai yang siap melindungiku dari perempuan yang tampak kehilangan akal sehatnya itu.

“Mau apa kamu?!” bentak Tari, suaranya bergetar karena marah dan cemas.

“Andra-ku! Dia Andra-ku! Bukan Andra-mu!” pekik Nadia, tubuhnya memberontak saat Pak Anto berusaha membelenggunya. Matanya liar, penuh obsesi.

Aku tidak bergerak. Aku hanya bisa berdiri di tempat, menatapnya dengan campuran iba dan ketidakpercayaan. Apa yang terjadi padanya? Bagaimana bisa dia menjadi seperti ini?

Dan lebih dari itu, kenapa?

Kenapa dia begitu terobsesi padaku?

Bukankah dulu dia yang memulai segalanya? Bukankah dia yang mengempaskanku begitu saja? Dia yang membuangku, dia yang mengakhiri semuanya, dia yang membuat luka yang bahkan aku butuh bertahun-tahun untuk menyembuhkannya. Tapi sekarang, dia di sini. Menjerit, mengklaimku sebagai miliknya, seolah-olah selama ini akulah dunianya.

Aku menelan ludah, lalu bertanya dengan suara yang lebih lirih daripada embusan angin malam.

“Kenapa?”

Namun, Nadia hanya menatapku dengan tatapan kosong yang menakutkan, terus menggumamkan namaku berulang kali. Seakan-akan dalam dunianya, aku adalah satu-satunya yang tersisa.

Aku tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Tidak dari Nadia. Tidak dari siapa pun.

"Apa kamu mengenal perempuan ini, Andra?" tanya Pak Anto sambil tetap menahan tubuh Nadia yang terus meronta.

Aku menelan ludah, merasakan tenggorokanku mendadak kering. "Iya, Pak. A-aku kenal."

Pak Anto menghela napas panjang sebelum berkata, "Gini aja. Kamu telepon RSJ terdekat dan beri tahu mereka kalau ada orang gila di sini. Biar mereka datang dan menjemputnya."

Aku tercekat. Menyerahkan Nadia ke Rumah Sakit Jiwa? Ya Tuhan. Aku tidak tega. Meski aku tak bisa menyangkal bahwa kondisi Nadia sekarang benar-benar menunjukkan bahwa dia kehilangan akal sehat, tetap saja hatiku menolak memperlakukan dia seolah-olah dia hanya sekadar 'orang gila'.

Sejak kapan aku jadi begini? Sejak kapan aku jadi begitu lemah menghadapi kenyataan?

"Andra, ayo," desak Pak Anto. "Perempuan gila ini bisa membahayakan orang lain."

Dengan berat hati, aku mengeluarkan ponsel dari saku celana. Namun, jemariku terasa kaku. Aku tak sanggup menekan tombol panggilan. Tiba-tiba, suara deru mobil menghentikan keraguanku. Sebuah mobil berhenti di tepi jalan. Dari dalamnya, keluar seorang pria dan seorang perempuan paruh baya. Aku mengenali mereka dalam sekejap.

Orang tua Nadia.

"Nadia?! Nadia?!" seru sang ibu dengan suara lirih, seolah jiwanya seketika runtuh melihat keadaan putrinya. Matanya membelalak, bibirnya bergetar, sementara air matanya hampir jatuh melihat Nadia dalam kondisi tak keruan.

"Nadia! Ayo kita pulang, Nak!" ujar sang ayah tegas, dengan gerakan cepat mengambil alih tubuh Nadia dari genggaman Pak Anto.

Namun, Nadia semakin memberontak. "Nggak! Nggak mau! Nadia mau Andra! Nadia mau Andra!" Suaranya melengking, penuh keputusasaan.

Pria itu berusaha menahannya, tapi akhirnya dia membentak, "Keras kepala! Andra bukan jodoh kamu, Nadia! Jodoh kamu itu Tio Pramuja Perwira!"

Aku terkesiap. Begitu juga Tari. Sekarang, semuanya mulai masuk akal. Aku mengingat hari terakhir aku bertemu Nadia—saat matanya dipenuhi kepedihan yang tak terkatakan. Saat bibirnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak pernah benar-benar mengucapkannya. Jadi, ini alasannya. Dia dijodohkan dengan Tio Pramuja Perwira—anak konglomerat yang namanya kerap kudengar. Seseorang yang jauh lebih kaya, lebih berkelas, lebih terhormat dalam pandangan keluarganya.

Namun, aku juga ingat sesuatu yang lain. Nadia bukan tipe perempuan yang bisa diatur. Dia selalu keras kepala, selalu ingin hidup dengan caranya sendiri. Keluarganya, terutama ayahnya, adalah sosok yang keras dan mendominasi. Bahkan, beberapa bulan yang lalu, pria itu pernah menemuiku secara pribadi—memintaku menikahi Nadia. Sekarang, aku mulai mengerti. Ini lebih dari sekadar kegilaan. Ini adalah luka. Luka yang mungkin tak pernah bisa dia sembuhkan.

Dengan susah payah, orang tuanya memasukkan Nadia ke dalam mobil. Dia terus meronta, terus memanggil namaku. Suaranya menggema di udara, menciptakan sensasi ngilu di dadaku.

Aku tidak bisa diam saja. Aku berlari dan menghentikan pria berkacamata yang sudah bersiap masuk ke dalam mobil.

"Apa yang terjadi dengan Nadia?" tanyaku dengan suara berusaha tenang.

Pria itu menoleh dengan ekspresi tajam. "Bukan urusan kamu!" jawabnya ketus, lalu membuka pintu mobil.

Namun, aku tak menyerah. Aku berdiri di hadapannya, menatapnya langsung. "Apa yang terjadi dengan Nadia?" ulangku, kali ini lebih tegas.

Dia menatapku lama. Begitu lama hingga aku bisa melihat kebingungan dan kemarahan berbaur di matanya. Lalu, dengan suara yang lebih rendah, dia berkata,

"Kalau kamu ingin tahu, datanglah ke rumah kami."

Hanya itu yang dia ucapkan. Tanpa menunggu jawabanku, dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan keras.

Mobil itu melaju, meninggalkan debu tipis di udara. Aku tetap berdiri di tempat. Aku bergeming, meski mobil itu telah menghilang dari pandangan.

"Ndra ...."

Aku baru tersadar ketika merasakan Tari merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Hangat, erat, seolah ingin memastikan aku tetap berada di dunia nyata.

"Jangan salah paham. Aku hanya merasa—"

"Aku tahu." Tari memotong dengan suara lembut. "Aku ngerti perasaan kamu."

Dia semakin mempererat pelukannya, sementara aku masih berdiri kaku di tempat. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu apakah aku ingin tahu lebih jauh atau lebih baik melupakan semuanya. Tapi satu hal yang pasti: aku tidak bisa mengabaikan Nadia begitu saja.

-II-

Lihat selengkapnya